Translate This Article

Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Jakarta. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2019

Thailand Lagi, lagi-lagi Thailand

Rasanya sudah lama sekali tidak menulis di laman ini. Banyak cerita perjalanan yang urung dituliskan sehingga hanya disimpan di benak saja. Dengan alasan "sok sibuk" kini saya kembali ke dunia perblogan (ecieh) untuk kembali menuliskan catatan perjalanan yang belum sempat dituangkan. Selain ingin share pengalaman perjalanan, yang terpenting dari menulis disini adalah satu: melawan lupa. bagi saya mendapatkan pengalaman baru ketika sedang traveling adalah hal yang sangat berharga, lebih berharga dari barang-barang mewah yang mungkin saya miliki.

Ok, kali ini saya hendak berbagi cerita tentang perjalanan backpacking saya dan teman-teman ke dua negara yaitu Thailand dan Malaysia selama tujuh hari. Rute kami adalah Indonesia-Thailand-Malaysia-Indonesia. Awalnya, saya hanya merencanakan perjalanan ini dengan teman kuliah sekaligus roommate saya, sebut saja si C. Lalu kami berpikir alangkah baiknya kalau kami mengajak teman lain yang ingin ngetrip juga kesana. Akhirnya kami menemukan dua orang teman lagi yaitu si H dan si I, namun dua orang ini hanya ikut hingga Thailand saja tanpa ikut ke Malaysia karena terkendala izin cuti kerja mereka yang hanya sebentar. Jadilah saya dan si C yang ngebolang ke Malaysia berdua.

Hari itu tanggal 17 Pebruari 2016 kurang lebih jam 9 malam saya dan C berangkat dari Depok menuju hotel Bumi Wiyata Depok menunggu bis Hiba Utama tujuan Soetta. Sebenarnya pesawat ke Thailand terbang pukul 6.30 WIB keesokan harinya, namun karena bis Hiba dari Bumi Wiyata waktu itu hanya ada sampai pukul 22.00 saja, maka kami putuskan berangkat malam itu. Perjalanan malam ternyata bisa ditempuh dalam waktu singkat sehingga tidak membutuhkan waktu lama. Kurang lebih jam 10 malam kami sudah tiba di Soetta. Karena waktu keberangkatan masih lama, akhirnya saya dan C tidur di kursi bandara bersama para penumpang asing yang mungkin juga sama-sama menunggu penerbangan esok hari. Saya dan C akan bertemu dengan 2 orang teman lain yaitu H dan I keesokan harinya saat boarding.

Kali itu kami menggunakan Batik Air dari Jakarta kemudian transit di Changi (Singapura) dan beralih ke Thai Lion Air menuju Bangkok. Kami mendarat di Don Mueang International Airport (DMK). Dari sini kami menunggu teman C, sebut saja si K yang warga asli Thailand untuk menemani kami selama di Thailand, namun ternyata K tidak bisa menemui kami siang itu karena alasan pekerjaan. Untungnya saya dan C sempat browsing transportasi umum dari DMK ke Khaosan Road, tempat hotel kami berada. Kami pun naik shuttle bus berlabel A2 bersama dengan para turis asing lain yang sepertinya memang searah dengan kami ke Khaosan Road, pusat backpacker Thailand. Sekedar info, terdapat dua shuttle bus yang berada di DMK di tahun itu yaitu shuttle bus A1 dan A2. 

Bis yang kami naiki waktu itu ternyata tidak langsung menuju Khaosan Road. Kami pun harus turun di halte Mo Chit yang letaknya tepat di sebelah tangga menuju Mo Chit BTS Station (semacam Skytrain) mencari bis tujuan Khaosan Road. Karena ini pengalaman pertama kami ke luar negeri tanpa ikut agen tur, kami pun harus bertanya kepada warga sekitar yang lalu lalang disekitar halte. Warga Thailand yang kami tanyai pun bermacam-macam mulai dari tukang ojek pengkolan (tukang ojek disana memakai seragam jaket oranye), pedagang asongan, dan berakhir di pekerja kantoran karena hanya orang ini yang paham maksud dan tujuan kami kenapa kami ada disini. Kami berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan seperti kebanyakan masyarakat Indonesia, warga Thailand pun masih banyak yang belum bisa berbahasa Inggris. Nah, setelah mendapat penjelasan dari mbak2 dan mas2 pekerja kantoran yang kami temui akhirnya kami berjalan turun ke bawah dan menunggu bis nomor 44 yang mengantar kami hingga ke dekat Khaosan Road tepatnya di Victory Monument. Oiya, nanti saya ceritakan soal transportasi di Thailand terutama bisnya karena selama di Thailand kami sering menggunakan moda transportasi ini :)

Sepanjang perjalanan saya melihat suasana jalan yang kami lalui. Suasana jalan raya layaknya di Jakarta yang khas dengan kendaraan bermotor dan gedung-gedung di kiri kanan jalan. Bedanya waktu itu di Thailand sudah ada skytrain sehingga banyak "rel melayang" di atas jalanan yang kami lewati. 

Perjalanan dari Mo Chit diperkirakan 15 menit, namun karena waktu itu sudah masuk masa orang-orang pulang kerja maka jalanan sudah mulai agak ramai sehingga sampai ke Victory Monument (monumen tempat kami turun dari bis no 44) ditempuh dalam waktu kurang lebh 1 jam. Dari situ kami melihat papan penunjuk jalan dan melihat bahwa jika kami hendak ke Khaosan Road kami harus menyeberang jalan. Tidak berapa lama kemudian kami sudah masuk ke Khaosan Road, kawasan backpacker di Thailand...

Sabtu, 26 Maret 2016

Welcome to the City of Flower, Malino

Hari itu adalah hari ahad. Hari terakhir sebagian besar dari kami berada di Makassar. Setelah dari Samalona, kami kembali menuju hotel dan bersiap untuk kembali ke Jakarta. Hampir semua anggota rombongan kami memang akan kembali bergelut dengan rutinitas kerja keesokan harinya, namun itu tidak berlaku untukku dan dua orang temanku. Kami masih akan menjelajah sisi lain Makassar dan sekitar. Kami pun melanjutkan untuk bergerak ke pusat kota Makassar dan menuju Red Planet Hotel untuk menginap semalam. Perjalanan lancar dengan supir taksi yang ramah dan mengajak kami ngobrol sepanjang perjalanan mengantarkan kami ke hotel budget tersebut. Setelah check in, kami bertiga merebahkan badan sejenak dan kemudian menyusun rencana perjalanan esok hari. Kami bertiga sepakat berencana pergi ke Malino. Transportasi dipersiapkan oleh temanku (sebut saja mba A) yang asli Sulsel dan hafal sekali seluk beluk Makassar dan sekitarnya. 

Menjelang isya, kami akan keluar untuk makan malam. Mba A punya sederet tempat kuliner seru yang harus kita coba selama di Makassar. Pilihan kami jatuh pada Bakso Ati Raja. Namun saat itu seorang temanku, N, sedang tidak enak badan sehingga dia "jaga kandang" sedangkan aku dan mba A on the way to TKP. O iya, untuk cerita kulineran di Makassar ada di postingan selanjutnya, tunggu saja :)

Pagi hari senin pukul 6 kami check out dan menuju mobil yang akan mengantarkan kami ke Malino. Alhamdulillah kondisi N sudah membaik setelah semalaman istirahat. Sekedar info, Malino ini adalah sebuah dataran tinggi berhutan pinus di kabupaten Gowa tepatnya di kawasan Gunung Bawakaraeng, kira-kira 90 km dari Makassar. Malino terkenal dengan sebutan City of Flower. Kawasan ini termasuk kawasan bersejarah karena di tahun 1946 pernah diadakan Konferensi Malino dan Perjanjian Malino di tahun 2002. Jika perjalanan normal tanpa hambatan, Makassar-Malino hanya memakan waktu 2 jam saja dengan kendaraan pribadi. 

Perjalanan dimulai dengan menghadapi banjir kota Makassar yang terjadi karena hujan deras dari sore hingga malam kemarin. Mulai menjauhi pusat kota, kami berhadapan dengan medan jalan yang rusak karena dilewati truk-truk besar pengangkut pasir. Tantangan sepanjang jalan menuju Malino ini sedikit demi sedikit membuahkan hasil. Kami mulai merasakan sejuknya hawa khas pegunungan yang menyebabkan kami memilih untuk mematikan AC mobil dan membuka jendela. Kami pun melihat sebuah Bendungan besar bernama Bendungan Bili-Bili di sebelah kanan jalan menuju Malino. Bendungan ini menyuplai air untuk wilayah Gowa dan Makassar. Di atas bendungan ini terdapat jembatan kembar. Pemandangan asri yang lain adalah hamparan sawah luas khas pedesaan yang tidak akan didapatkan di kota-kota besar di Indonesia macam Jakarta. Waktu itu, bapak supir memberhentikan kami di sebuah monumen bertuliskan "Malino" dan berfotolah kami bertiga di tempat itu (bapak supirnya ngerti banget dah kami pengen foto-foto, hehehe).

Malino monument
78. Monumen Malino

Malinoooo... sampai juga akhirnya. Menikmati udara sejuknya dengan naik kuda adalah hal yang patut dicoba. Kami pun menaiki kuda setelah terjadi tawar-menawar antara pemilik kuda dan mba A dengan bahasa daerah yang tidak aku pahami. Macam manusia, kuda-kuda yang kami naiki punya nama juga loh, keren-keren lagi. Kuda jantan putih yang aku naiki saja namanya Herlino. Ya, Herlino! (Ga usah kaget gitu napa?). Spontan kami berempat (plus bapak supir) tertawa kecil mendengarnya. Selesai naik kuda, kami lanjutkan perjalanan menuju sebuah air terjun yang masih berada di kawasan Malino. Air terjun Takapala namanya.

Layaknya daerah pegunungan lainnya di Indonesia, di Malino ini banyak warga sekitar yang menjual sayur mayur dan buah-buahan hasil ladang mereka. Banyak pula yang menjadikan perkebunan stroberinya sebagai obyek wisata petik stroberi yang juga banyak dilakukan di dataran tinggi lainnya di Indonesia. Yang terkenal di Malino adalah buah markisa. Kami menyempatkan diri membeli buah itu di sebuah kios di pinggir jalan sewaktu menuju Takapala. Selain hasil kebun, di kios-kios semacam ini juga menjual makanan khas daerah ini seperti tengteng (enting-enting di Jawa Tengah), gula kacang, dodol, sirup markisa, dan sebagainya.

malino, kios oleh-oleh
79. Kios-kios di sepanjang Malino

Nah, ini dia air terjun Takapala... Perlu perjuangan untuk sampai kesana. Dari tempat parkir mobil kami harus berjalan kaki menuju lokasi. Alhamdulillah karena kami terbiasa jalan di seputaran kampus UI, kami tidak merasa kelelahan. Nah, karena pagi kami tidak sarapan dan siang itu kami belum makan, akhirnya kami memutuskan untuk mengganjal perut kami dengan gorengan yang dijual di warung depan air terjun. Hanya ada beberapa warung yang buka disitu. Kata penjualnya, hari senin banyak warung yang tutup karena jumah pengunjung yang sedikit, berbeda dengan hari ahad yang pengunjungnya banyak. Kami bersyukur datang disitu saat hari kerja sehingga hanya beberapa gelintir orang yang datang sehingga kami bisa menikmati keindahan alam ciptaan Allah ini dengan leluasa. 

Takapala, Air terjun, Malino, waterfall
 80. Air Terjun Takapala
Mendung kembali datang. Kami harus segera kembali ke mobil agar tidak kehujanan mengingat jalan dari air terjun menuju tempat parkir agak jauh. Alhamdulillah hujan turun sewaktu kami tepat di tempat parkir. Kami pun segera masuk dan melanjutkan perjalanan menuju bandara setelah sebelumnya mengisi perut di Aroma Luwu, restoran yang menyajkan selera asal khas Sulsel di Makassar. Ketika di bandara Sultan Hasanuddin, aku bisa bertemu dengan temanku asli Makassar yang sebelumnya hanya bisa bertemu via sosmed dan sms saja. Dia rela-relain ketemu sebentar di bandara dalam keadaan hamil besar dan 2 hari ke depan akan menjalani SC (operasi caesar) dengan membawa mobil sendiri. Kami sempat ngobrol sebentar dan foto. Di akhir perjumpaan, dia memberiku sirup markisa khas Makassar. Alhamdulillah, semoga ukhuwah kami tetap terjalin meski berada di pulau yang berbeda, aamiin...

Sabtu, 02 Januari 2016

Pulau Cantik itu Bernama Samalona

Hari ketiga: Ahad, 12 April 2015

Seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Ahad itu akan kami gunakan untuk jalan2. Ya, full jalan2. Kami akan menuju sebuah tempat di seberang Makassar yang menurutku cocok untuk dijadikan tempat liburan yang nyaman. Kami bersiap kesana setelah packing karena sore nanti sebagian besar teman-teman akan kembali ke Jakarta untuk menjalani rutinitas macam biasa.

Mobil hotel melaju dengan kecepatan normal melewati jalanan kota Makassar yang tidak terlalu padat kala itu. Supir (yang paling ganteng sendiri karena semua passengernya adalah perempuan) memilih lewat tol untuk mempercepat waktu tempuh perjalanan. Kami akan menuju sebuah pulau cantik yang tak terlalu jauh jaraknya dari ibukota propinsi ini. Pulau cantik itu adalah Pulau Samalona.

Perjalanan tanpa hambatan (Alhamdulillah) membawa kami sampai di dermaga penyeberangan pulau Kayangan. Letak dermaga ini ada di seberang benteng Fort Rotterdam. Di dermaga ini banyak berjajar perahu-perahu motor yang siap mengantarkan traveler menuju pulau-pulau di seberang. Ada beberapa pulau yang sering didatangi para traveler seperti Pulau Samalona, dan pulau Kayangan. Pada kesempatan itu kami hanya mengunjungi Samalona karena selepas itu sebagian besar teman-temanku akan bertolak ke Jakarta untuk kembali beraktifitas. Setelah proses tawar menawar dengan pengemudi perahu motor, disepakati harga 300 ribu untuk jasa antar-jemput dari dermaga-Samalona pp untuk jarak tempuh yang cukup pendek (2 km) selama 30 menit (mahal ga sih gaes?).

Daaannn... Inilah Samalonaaa... Cantik bukan? Pulau berpasir putih dengan perairan yang dangkal dan jernih ini cocok untuk diving dan snorkeling. Terbukti dengan banyaknya warga lokal yang menyewakan peralatan untuk itu. Tentu saja kelihaian dalam hal tawar-menawar tetap diperlukan yaa :)

Samalona
75. Pantai Samalona
Samalona Beach

Samalona
76. Pantai Pasir Putih, Samalona
White-sand Beach, Samalona

Lapar sehabis diving, snorkeling atau sekedar bermain di pantai Samalona? Jangan khawatir karena ada kedai-kedai yang menawarkan menu seafood. Kalaupun mau beli ikan, harganya lumayan. Sekitar 30 ribu untuk ikan kecil karena penduduk lokal tidak ada yang mencari ikan di daerah ini sehingga harus membelinya dari para nelayan. Bagi yang ingin bermalam ada cottage dan rumah penduduk yang dijadikan tempat beristirahat. Tarifnya sekitar 550 ribu plus makan, sewa alat snorkeling dan 1 butir kelapa muda (Kelapa muda disini cukup mahal menurutku, sekitar 15 ribu per butirnya). O iya, jangan lupa bawa lotion anti nyamuk atau raket nyamuk kalau perlu karena katanya disini banyak nyamuk.


Samalona Island
77. Salah satu cottage di Pulau Samalona
One of cottage in Samalona Island

Puas bermain-main di Samalona, kami memutuskan untuk kembali ke daratan Makassar untuk menuju Jl. Sombaopu membeli buah tangan untuk dibawa kembali ke Jakarta. Bagi sebagian besar temanku, jalan-jalan di Makassar dan sekitarnya akan berakhir. Tapi bagiku dan 2 orang temanku, petualangan berikutnya baru akan dimulai karena kami bertiga masih tinggal di kota ini. Tunggu kelanjutan kisah kami selanjutnya :D

3rd day: Sunday, April 12nd, 2015 

As planned as before, We would have a tour that Sunday. Ya, full of tour. We would go to place across Makassar which I think suitable for comfy holiday. We ready to went there after packing because almost of my friends would be getting back to Jakarta on this afternoon.

The hotel car drove with normal speed trough the Makassar road which not very crowded. The driver (who was the one and only man in the car) chose to passed the toll to speed up the time. We would go to a beautiful island which not far from the capital city of  this province. That was Samalona Island.

Unobstacle travel (alhamdulillah) brought us to the Kayangan Island Quayside.This quayside is across Fort Rotterdam. So many boats that ready to take the travelers to the islands. There were islands which travelers often came like Samalona and Kayangan Island. We just went to Samalona at that time because almost of my friends would go back to Jakarta. After bargained with boat driver, we paid Rp. 300.000 for shuttle with very near distance (2 km) for 30 minutes (was it expensive??)

And... It was Samalonaaa... it was beautiful, right? White-sand island with shallow and clear sea water were suitable to diving and snorkeling. Many natives hired those equipment. The ability of bargaining is needed here, of course :)

Feel hungry after diving, snorkeling, or just walk along in Samalona beach? Don't worry because there were food stalls which offer seafood menus. If you want to buy fish, it price was so expensive. It's about Rp. 30.000 for little fish because no one natives who catching the fish there so they must buy it from the fishermen. If you want to spend the night here, there were cottages and natives home for relax. The price was about Rp. 550.000. Eat, snorkeling equipment and a coconut included (I think the coconut was so expensive here, about Rp. 15.000 for one). Oh, don't forget to bring mosquito repellent lotion or mosquito racket if it is needed because people said that so many mosquito here. 

Satisfied played in Samalona, we chose back to Makassar led up Sombaopu St to bought sovenirs. For almost of my friends, the Makassar trip would be end, but it would be a new trips for me and 2 other my friends because we still stayed in this city. So, please  wait for our next story :D

Rabu, 29 Oktober 2014

Bonus dari Tanah Suci

Sebelum baca postingan ini, aku mau jelasin sebentar kenapa alur kisahnya terkesan berbolak-balik atau muter2. Aku ga pake alur maju (kisah diceritain runut mulai dari awal perjalanan dari Solo-Jakarta-Bangkok-Tanah Suci-Bangkok-Jakarta-Solo) atau alur mundur (kisah diceritain runut mulai dari akhir perjalanan dari Solo-Jakarta-Bangkok-Tanah Suci-Bangkok-Jakarta-Solo) tapi aku campur keduanya (lhoh, gimana tuh?). Jadi aku mulai nulis awal keberangkatan dari Solo ke Jakarta lalu Tanah Suci dulu tanpa nulis Bangkok sebelumnya. Niatku karena tujuan awalku adalah cerita tentang my trip experience in Tanah Suci dulu baru Bangkok karena Bangkok buatku adalah bonus perjalanan buat kami semua.

Ngomong2 soal bonus, disini bakalan aku pos soalan kegiatan kami para jamaah abis pulang dari Tanah Suci. Kami ga bisa pulang langsung ke tanah air karena emang tiketnya PP Jeddah-Bangkok, bukan Jeddah-Jakarta. Jadilah kami "pulang" ke Bangkok pakai Etihad alhamdulillah dengan aman, nyaman dan sentausa, he3... Oke, dari Jeddah transit dulu di Abu Dhabi Int. Airport baru ke Suvanabhumi untuk selanjutnya stay di Ramkhamhaeng lagi, alhamdulillah, yeay!

Sampai di Suvarnabhumi, ibu kabiro langsung ngajak aku hubungi Ust. S untuk urusan akomodasi dan transport. Ga beberapa saat kemudian sebuah panggilan masuk di gadgetku dan ternyata dari Pak G manajer Regent Hotel di Ramkhamhaeng tempat kami stay sebelum ke Tanah Suci. Beliau sama satu asistennya dateng dan langsung bawa kami ke Regent. Sekali lagi aku kagum sama Pak G karena beliau bener2 memuliakan tamu dengan jemput kami secara langsung dari Suvarnabhumi ke Ramkhamhaeng. Keren!

Di Regent kamipun istirahat. Kami stay disana selama 3 hari. Hari kedua di Bangkok pasca kepulangan dari Tanah Suci, kami dapat bonus traveling ke beberapa itinerary di Thailand. Aku sebut bonus karena kami ga nyangka bisa sampai di negara ini dan bisa traveling gratis disini. Aku sendiri ingat niat besarku kala itu, waktu umurku masi belia (sekarang juga masi belia, cuma beda beberapa tahun, hahaha... ga mau dibilang tua ceritanya :p) Aku pengen banget bisa traveling keluar negeri. Tapi sebelum kemana2, aku pengen bisa ke Tanah Suci dulu baru traveling ke negara lain jika Allah ngasi kesempatan karena aku ga tau aku hidup sampai usia keberapa dan sebelum aku tutup usia aku ingin ke Tanah Suci buat ibadah dulu jika diizinkan. Dan Alhamdulillah Allah ngijabahin doaku. Aku bisa ke Tanah Suci buat umrah dan dapet bonus langsung di Thailand selama seminggu (4 hari pra, 3 hari pasca dari Tanah Suci). Aku bener2 ngrasa Allah itu deket. Deket banget sama aku khususnya karena Dia terus mendidik aku untuk jadi orang yang harusnya selalu sabar dan bersyukur meski harus ngelewatin berbagai halang rintang menuju Baitullah.

Bonus yang kami dapet adalah kami pergi ke 3 tempat di Thailand. Pattaya Floating Market, Pattaya Beach, sama Gems Gallery. Ya, kami akan ke Pattaya. Letaknya yang hanya sekitar 140 km dari Bangkok yang jadi pertimbangan kesana. Karena kebanyakan jamaah kami adalah lansia dan esok hari kami akan ninggalin Thailand, hanya kira2 separuh yang ikut tur ini. Keluargaku Alhamdulillah ikut semua, he3... Mari dikupas satu persatu.

1. Pattaya Floating Market
Sebelum kesini, karena hari udah siang dan masuk waktu dhuhur, kami berhenti di Chonburi tepatnya di kawasan muslimnya. Kami ternyata diantar sama si sopir travel yang bawa kami ke restoran muslim Thailand. Aneka macam dish khas Thailand macam tom yam, seafood, dan masakan kari tersedia di meja kami. Alhamdulillah... kalau udah rezeki emang ga akan kemana, he3...

Restoran cozy dan comfy yang cukup luas ini punya seorang wanita turunan Bangladesh yang bersuami orang Thai. Si ibu cukup ramah nyapa kami dan ajak ngobrol. Abis makan dan selesai sholat kamipun ninggalin tempat ini dan berangkat menuju Pattaya Floating Market.


Pattaya Floating Market
56. Main Entrance Pattaya Floating Market

Pattaya Floating Market
 57. Padet banget. Pas musim liburan disana
Bagi yang pernah ke Kalsel dan liat pasar terapung disana, kita juga bisa nemuin di Thailand yang emang terkenal juga akan pasar terapungnya.  Barang2 yang dijual pun sama macam disini kek buah dan sayuran di atas perahu. Perahu yang digunakan emang cukup besar dengan kapasitas hingga 4 orang. 

Pattaya Floating Market
58. Suasana di Dalam
Source: http://www.travelhubthailandtours.com/images/hotels-pic/lightbox-pics/floating-market/floating-market010.jpg
 
Dibangun di lahan seluas 100,000 meter2, pasar terapung ini terbagi jadi 4 bagian: utara, timur, selatan, dan barat. Selain pasar terapung ada rumah-rumah kayu yang juga ngejual beberapa dagangan, mulai dari gerai buah segar, toko sovenir, sampai galeri seni. Yang juga ada pastinya aneka makanan khas Thailand, kek pad thai (mi goreng Thailand-pernah aku bahas di postingan awal), kanom jean (bihun beras) dengan aneka macem kuah kari, ka nom krok (panekuk kelapa), foi thong, dll. Jam Buka  Pattaya Floating Market adalah jam 08.00 – 18.00 dan lokasinya ada di 451/304 Mu 12, Sukhumvit Road, Tambon Nong Prue, Amphoe Bang Lamung, Chon Buri, Tel. +66 3870 6340.

2. Pattaya Beach
 Pantai yang ada di tenggara Bangkok ini cukup terkenal di dunia dengan pusat hiburan malamnya. Tapi tenang aja, kami datang kesana pas tengah hari dan lokasi kami di pantai ini pun jauh dari lokasi hiburan malam tadi, aman laahh...

Pantai cakep ini pernah kena imbas tsunami 2006 kemaren. Meskipun gitu, pantai yang bikin Thailand tambah devisa karena kunjungan turis manca yang luar biasa ini udah lengkap nawarin macem2 fasilitas dan hiburan. Mulai dari resor sampai berbagai macam olahraga air ada disana. Beberapa foto aku ambil dari sana. Kayak gini nih cakepnya Pattaya Beach...
Pattaya
59. Pattaya Beach (cuaca mendung)

3. Gems Gallery

Gems Gallery
60. Pelataran Gems Gallery Pattaya
Source: http://i1301.photobucket.com/albums/ag110/KitYiLim/bkk%204/DSCN1827_zps27e4c361.jpg
Gems Gallery di Pattaya ini adalah 1 dari empat cabang galeri permata yang ada di Thailand. Disini kami bisa liat macem2 batu permata mulai dari cara pengambilannya dari alam sampai proses pembuatan dan pemasarannya. Begitu sampai di pelataran kami disambut sama petugas cewek berbaju khas Thai dan menanyakan darimana asal negara kami. Sebelum kami masuk ke area galeri, kami dipesilakan ikut tur Germs Discovery dengan naik kereta yang masuk ke sebuah gua. Semacem masuk gua hantu gitu deh... Gelap juga awalnya pas kereta mulai jalan sampai ada anggota jamaah kami yang lansia pegang tangan ibuku kenceng saking takutnya. 

Gems Gallery
61. Kereta Gua Hantu, Eh Gua Permata Ding :p
Source: http://www.gems-gallery.com/mobile/images/store/pattaya/IMG_9419_sm.jpg
 Di dalam gua buatan ini kami disuguhi live diorama bagaimana permata/gems itu berasal. Mulai dari gunung berapi yang memuntahkan lahar dan batu2an, kemudian cara pengambilan dan pengolahan secara tradisional pada zaman dulu hingga zaman sekarang dengan alat2 modern plus arti permata bagi bangsa Thai. Narasi disajiin dalam Bahasa Indonesia disesuaikan sama negara asal pengunjung. Cukup memukau tapi sayang pengunjung ga dibolehin take pictures disana.

Abis keluar "gua" dan turun dari kereta, kami langsung disambut sama petugas yang fasih bebahasa Indonesia dan bawa kami ke suatu ruangan yang luas dimana kami bisa liat cara pengolahan batu permata jadi macem2 perhiasan apik yang langsung dipraktekin sama para tukang pembuat permatanya sendiri. Jadi inget tetanggaku dulu orang Banjar yang profesinya bikin perhiasan dari batu intan, alat2 yang dipake mirip. Nah, abis itu kami masuk ke ruangan dimana galeri dari permata yang udah jadi dipamerin dan dijual. Harganya mulai dari yang paling rendah hingga milyaran rupiah (kalau dirupiahin) ada disana tergantung dari jenis, ukuran, dan tingkat keruwetan bentuknya. Banyak turis domestik maupun manca yang datang kesono dan tertarik buat beli, termasuk mak gue. Pas mau bayar, ayah ngeluarin uang riyal. tapi ternyata petugas disana ga bisa nerima dengan alesan kalau susah nukerin riyal ke baht dan harus ke bank sentral. So petugas disana nganjurin pembayaran pakai Rp aja. Ya wis lah...


Gems Gallery
62. Ruang Display Gems Gallery Pattaya
Source: http://www.tourismthailand.org/img_resize/79/8cde70975899d15468864f11b17062_400_300_none.jpg

Selain perhiasan dan asesoris dari permata, ada juga yang dari emas dan perak. Aku emang ga tertarik sama perhiasan2 macam itu jadi aku sambil lalu aja dan masuk ke ruangan yang mamerin aneka macam traditional handicrafts khas Thailand. Nah disini aku bisa betah liat2 barang2 unik, tapi aku ga niat beli juga karena emang harganya mahal sangat! bisa 3x lipat kalau kita beli di lapak kaki lima diluar sana. Ada juga produk body care lokal dan fesyen merk terkenal juga dijual disana mulai dari baju, tas, sepatu, dompet, dll. Enaknya disini waktu pengunjung liat2 barang ga diikutin sama petugasnya. Ga macam di Indonesia yang pas mau milih2 barang diikuti trus diliatin terus sama petugas/SPG yang pastinya bikin kita ga nyaman pas belanja/milih2 barang.


Gems Gallery
63. Ruang Display Handicraft dan Fesyen Gems Gallery Pattaya
http://www.pattaya.go.th/wp-content/uploads/2012/01/IMG_9393_resize.jpg 

Gems Gallery Pattaya yang letaknya di 555 Moo 6 North Pattaya Rd., Nakluea, Banglamung Thaiand ini buka tiap hari dari pukul 08.30 - 18.00. Bagi yang pengen tau detil bisa buka webnya Gems Gallery atau telp di +66 3837 1222-31, +668 3657 5757.

Usai dari situ, kami pulang karena hari udah sore. Sepanjang jalan di kawasan Pattaya yang kami liat udah mirip di Bali aja. Para turis dari berbagai ras lalu lalang disitu, hotel dari kelas backpacker hingga bintang lima, tempat makan dari pedagang kaki lima sampai yang mewah, resto fast food, mall, minimarket (disana banyak banget sevel), tempat hiburan malam hingga tempat pijat plus2 pun ada. Perjalanan yang agak jauh yang bikin capek ditambah hujan deras waktu udah hampir sampai Bangkok bikin kami ngantuk. Akhirnya satu per satu dari kami tertidur, he3... 

Kami sampai di hotel menjelang magrib. Meskipun capek, kami terutama keluargaku ga boleh tidur dulu karena mau packing buat kepulangan kami ke tanah air.

Kamis, 25 September 2014

Ramkhamhaeng, Alhamdulillah :)

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Rombongan yang "tertinggal" di Jakarta akhirnya sampai juga di Suvarnabhumi. Ayah langsung meluk aku, begitu juga beberapa jamaah wanita yang langsung menghambur lari ke arahku diikuti muka haru+linangan air mata yang keluar dari sudut mata mereka (serius, ga lebai).  Kami akhirnya bisa kumpul lagi di tempat tak terduga, Bangkok.

Abis makan, kami semua menuju musholla untuk ibadah. Sedikit penjelasan tentang musholla/prayer room di Suvarnabhumi, aku agak terkesima pas masuk didalam. Karena banyak muslim disana yang menyapa kami dengan ramah. Sembari menunggu waktu ashar tiba, aku ngobrol sama wanita keturunan India yang berkebangsaan Thailand. Dia udah menduga kami akan berangkat umrah (mungkin karena kostum kami samaan kali ya...)

Ok, abis sholat kami kembali lagi ke lantai atas untuk menunggu kepastian tiket. Hinga magrib kamipun belum mendapat info apapun. O iya, sedikit penjelasan kenapa kami ga bisa berangkat cepet ke Tanah Suci karena ada sesuatu hal yang membuat kami pending berangkat dan harus transit di Bangkok. Ada oknum yang mengambil keuntungan dibalik pembelian tiket kami. Dan itu bukan kesalahan dari biro kami. Mereka juga kena imbasnya. Saat aku tau hal itu aku berpikir alangkah bodohnya orang yang tega menipu kami para jamaah umrah dan biro dengan mengambil kesempatan macam ini. Mereka tidak berpikir apa yang mereka lakukan sebenernya ngerugiin diri mereka sendiri karena mereka menghalangi orang untuk beribadah ke Tanah Suci. Mereka hanya memikirkan kesenangan sesaat di dunia tanpa berpikir efeknya. Baik efek di dunia yang berat maupun efek di akhirat kelak yang lebih berat. Ini bener2 ujian dalam beribadah yang paling besar yang pernah aku alami sampai aku nulis postingan ini. Tapi gimanapun juga kami ga boleh kebawa emosi. Kalau pengen jadi hamba Allah yang lebih baik dari sebelumnya dan ingin derajat di hadapanNya lebih baik dari sebelumnya, kami harus menyikapi keadaaan ini dengan sabar dan tawakal. Gimanapun juga aku tetep yakin kalau kami semua akan bisa sampai ke Tanah Suci dengan selamat.

Back to the story. Waktu magrib pun tiba. Kami kembali turun ke prayer room buat ibadah. Disinilah bantuan Allah datang. Salah seorang rombongan biro kami (laki, sebuat aja Y) sehabis sholat ngobrol2 sama orang sebelahnya. Si Y cerita semua permasalahan kami dan ternyata orang tadi dengan ikhlas mau bantu kami dan pengen ketemu sama jamaah. Akhirnya orang tadi langsung koordinir kami untuk keluar Suvarnabhumi dan dia udah nyiapin akomodasi dsb buat kami. What a coincidence! Ini bantuan Allah yang nyata! Kami dipertemukan sama sodara seiman kami disini.

Sesampainya di hotel, kira2 jam 22.30 kalau ga salah. Aku langsung tau kalau itu hotel muslim karena semua pegawai wanita yang bekerja disitu memakai penutup aurat. Dugaan ini makin bener pas keesokan harinya aku liat suasana sekitar kalau kami tengah berada di kawasan muslim Thailand, Ramkhamhaeng.

Kami mulai mengambil kunci kamar masing-masing dan naruh barang. Ada perasaan berbeda waktu aku tiba di hotel ini. Suasana Islam sangat kental disini. Dari hiasan hotel yang banyak majang kaligrafi dan nama-nama kota-kota Islam dunia tertulis rapi. Tapi aku ga sampai bengong karena aku kudu turun ke resto buat ngisi perut buat makan malam. 

Ada kejutan lagi dari Allah buat kami khususnya keluargaku di resto. Penasaran sama kisah selanjutnya? Tunggu postingan berikutnya ;)

Minggu, 21 September 2014

Get Stranded in Bangkok (3): Pending Lagi Deh

Ini masih kelanjutan yang kemaren. Sembari menunggu pagi kami tiduran, ngemil sama nonton TV. Macem orang males aja nih kami, hahaha. Lah abisnya emang ga ada aktifitas penting lain. Ya karena emang kami ga ada maksud dan tujuan kesono (Bangkok). Pas itu aku iseng foto2 makanan (aku nyebutnya dish) yang kami bawa dari Solo (karena emang ga ada kerjaan sih...)

50. Camilan seadanya

Abis sholat subuh berjamaah, muncul rasa ingin tauku pengen liat suasana Bangkok di pagi hari kayak apa. Apakah macet kayak Jakarta atau gimana. Aku yang pas duduk di sebelah jendela langsung buka tirai dan seperti inilah Bangkok in the morning.

 51. Bangkok in the Morning






52. Pagi Berkabut di Bangkok

Sebenernya ga terlalu beda dengan Jakarta sih... cuma disini mungkin ga sepadet ibukota Indonesia tercintah dan pengguna jalan bener2 tertib lalin. Macet pun ga berjam2 kayak di Jakarta. Transportasi umum juga banyak, tapi lebih nyaman ketimbang di negeri sendiri.

Oke, mari kembali ke topik. Jadi hari itu rencananya kami akan ke Suvarnabhumi lagi buat berangkat ke Tanah Suci. Hari itu juga pihak biro berjanji akan datang ke Suvarnabhumi bareng sama jamaah yang "tertinggal" di Jakarta, termasuk ayah. Akhirnya setelah sarapan pagi, kami dipandu Sam, pemandu kami disana untuk menuju bus dan otw Suvarnabhumi. Lets go!

Sampai di Suvarnabhumi Sam pun pamit dan bilang kalau nanti pihak biro akan datang. Sam pun menghilang diantara kerumunan orang banyak. Waktu terus berjalan dan ga ada tanda2 kedatangan jamaah dari Indonesia. Kami pun mulai bingung. Tiba2 ada telpon dari biro dan mengatakan sebagian (besar) dari kami harus berangkat duluan. Otomatis rombongan kami terbagi lagi jadi 2 rombongan yang ga sama besar. Banyak jamaah yang emosi dan mungkin kecewa karena ada beberapa dari anggota keluarga mereka terpisah karena ga bisa berangkat bareng. Tapi mau gimana lagi, tiket udah dipesan dan akhirnya rombongan tadi berangkat duluan. Tapi aku masi bersyukur karena aku, ibu dan adek ga terpisah. Bayangin aja kalau misal kami 1 keluarga terpisah berangkat ke Tanah Suci. Terpisah di Bangkok aja udah ga enak. Apalagi di sana ya? 

Keadaan diperparah dengan salah 1 ibu rombongan kami yang marah2 karena dia merasa ditipu oleh biro. Dia mau lapor ke pihak keamanan bandara. Kami yang liat langsung berbisik ngucap istighfar. Lalu beberapa rombongan kami (termasuk ibu) berusaha nenangin tu ibu2. Akhirnya emosi dapat diredam. Tapi, si ibu tadi tetep ngeyel dan berusaha ngehubungin kabiro kami di Jakarta. Dia lalu bawa aku (karena dari rombongan kami yang lancar bahasa Inggris cuma aku) ke pihak2 yang ada di airport. mulai dari security, informasi, sampai ke money changer karena dia pengen telpon kabiro. Di Suvarnabhumi ada telpon koin so kita kudu tuker rupiah ke baht dalam bentuk receh. 

Akhirnya si ibu tadi capek sendiri dan kembali duduk di bangku tempat kami kumpul. Beberapa jamaah kembali nenangin dan nyuruh si ibu buat istighfar. Aku, ibu dan adek alhamdulillah ga terpengaruh sama sikap si ibu tadi. Aku sendiri yakin, haqqul yaqin malah, kalau Allah memang mengundang kami ke Baitullah namun dengan sedikit ujian macam ini. Aku ingat ada ayat AQ yang bilang kalau kita tidak boleh putus asa dari rahmatNya. Dan itu terbukti kami bisa ke Tanah Suci (baca postingan2 yang dulu2 yaa :))

Aku lalu coba telpon ayah via ponsel namun ga ada jawaban. Akhirnya dengan modal koin baht yang aku punya, aku sama salah satu rombongan kami, sebut saja Pak K menuju telpon umum dan coba telpon ayah dan kabiro. Pun ga nemu hasil apa2. Waktu jalan terus dan aku sama Pak K masih berkutat dengan koin dan telpon umum. Akhirnya kami kembali ke bangku dan bilang kalau kabiro ga bisa dihubungi. Aku nangkep muka2 kecewa dari para jamaah. Kami sedang diuji. Tapi ga lama kemudian ada pesan masuk di ponselku. Ternyata salah seorang dari biro mengabarkan kalau rombongan Jakarta (termasuk ayah) sudah sampai di Bangkok via di Don Mueang Airport. Kami lalu ngucap syukur dan nunggu kedatangan mereka. 





Selasa, 16 September 2014

Get Stranded in Bangkok (2): @Suvarnabhumi-Hotel

2 jam yang kami lalui sejak dari Jakarta akhirnya nganter kami di Suvarnabhumi International Airport. Begitu turun pesawat, jamaah pada bingung. kami ga tau kemana dan ga tau apa yang harus kita lakuin, karena emang ga ada rencana kesini dan ga ada satu pun orang yang kami kenal.

Tiap penumpang yang turun di terminal kedatangan luar negeri akan dikasih formulir imigrasi yang harus diisi dan diserahin bareng sama paspor sebelum ambil bawaan dari bagasi. Waktu itu kami bingung karena disitu tertulis dimana dan selama berapa hari kami akan stay di Thailand. Dan dengan "jujur" kami isi dengan keadaan kami sebenarnya. petugas yang bantu kami maklum juga kali ya...ngeliat rombongan kami banyak yang lansia dan dikit banget yang bisa basing, heuheu...

Pengecekan dokumen keimigrasian selesai. Sekarang yang bikin kami bingung adalah di airport yang seluas dan semodern ini siapa yang akan kami temui? Para ibu mulai panik karena kata kabiro sebelum kami berangkat kami akan ketemu guide yang akan antar kami ke hotel. Tapi kami belum ketemu sama si guide itu. Alhasil muter2lah kami di pelataran Suvarnabhumi yang luassss (Soetta kalah banget deh...) hingga akhirnya datang seorang lelaki tambun yang ajak kami semua masuk bis untuk dibawa ke hotel.

 44. Eksterior Suvarnabhumi (1)

45. Eksterior Suvarnabhumi (2)
o iya, FYI, di Thaiand kalau ke toilet jangan kaget ya karena ga disediain air buat cebok. Kita hanya akan nemu tisu gulung di tembok pembatas toilet satu dengan lainnya karena disini nerapin sistem toilet kering. Ada sih air, cuma di toilet buat difabel yang biasanya ada di paling ujung dan hanya disediain 2 toilet. Buat kami sebenernya risih dengan sistem macam itu. Makanya ada jamaah kami yang bawa tisu basah/air mineral buat bersih2. Karena dalam Islam yang namanya bersuci (dalam hal ini istinja') itu ya pakai air. Kalau ga ada bisa pakai yang lain macam tisu, dll.

Di bis, laki2 yang ngaku namanya Sam yang asli Malay beristrikan orang Thai ini ngenalin dirinya. Dia guide yang diutus biro umrah kami buat anter kami sampai hotel. Suasana pun jadi damai lagi karena kami ngerasa udah ada di "jalur" yang bener. Sepanjang jalan para jamaah mulai akrab dan tanya jawab seputar Thailand sama Sam. Aku dan adek yang duduk pas di belakang sopir sibuk sendiri ambil gambar pemandangan Bangkok yang mirip banget sama Jakarta. Bedanya disini lebih banyak jembatan layang, lebih teratur dan ga ada macet. Ada sih, cuma ga separah kayak di Jakarta. Meski udah ngerasa rada lega tapi aku sekeluarga tetep inget ayah yang masih di Jakarta dan berharap segera kumpul lagi. Entah hari ini atau besok. Ibu pun langsung telpon ayah dan ayah bilang sore itu akan terbang ke Bangkok.

Ini beberapa pemandangan Bangkok yang aku ambil untuk pertama kalinya

46. Baru Keluar dari Suvarnabhumi

47. Jalanan Menuju Pusat Kota

Perjalanan airport-hotel makan waktu lumayan lama. 1-2 jam kali ya kalau dikira-kira. Ga trlalu meratiin waktu pas itu. Jelasnya sampai hotel udah menjelang magrib. Dan akhirnya sampailah kami di hotel. Pas itu kita nginep di Mercure, tepat di pusat kota. Seberang hotel ada Central Plaza, salah satu mall di Bangkok. Nah, ngomong2 soal mall, disana ga terlalu banyak dibangun. Ga kayak Indonesia (baca: Jakarta) yang mallnya bejibun sampai 200an lebih katanya.

Abis check-in dan masuk kamar masing2 (kami sekeluarga kecuali ayah) jadi 1 kamar. 1 kamar biasanya diisi 2 orang) aku naruh ransel dan barang2 bawaan trus observasi kamar. Luas dan interiornya bagus dan terlalu mewah untuk ukuran backpacker, ha3...  tapi aku bersyukur karena perjalanan transit di pusat kota selama 1 malam ini bisa bikin aku betah duduk. Ya. Karena begitu aku buka tirai yang nutupin jendela, Subhanallah, aku bisa liat view Bangkok dengan gedung2 tingginya, kendaraan yang lalu lalang di jalanan, lampu2 kota yang kelip2 dan berpendar sampai perkampungan penduduk di pinggiran kota yang masih banyak tersedia lahan kosong. Ga macam Jakarta (bandingin sama Jakarta lagi deh aku :D) yang udah susah banget nemuin lahan kosong. View inilah yang bikin aku betah duduk di depan jendela dari ba'da sholat maghrib, makan malam hingga mau tidur. dan pemandangan ini yang akan aku liat sampai esok hari. Ga lupa aku ambil camding dari ransel dan took some pictures of it.

48. Bangkok at the Night

49. Lampu yang Berpendar. Mirip Huruf Thai Ga Si?

Ok, saatnya istirahat ngumpulin tenaga buat esok dan berharap semuanya fine.


Kamis, 21 Agustus 2014

Get Stranded in Bangkok: Pisah Sama Ayah

Yup. We get stranded in Bangkok. jadi kisah bemula pas kami jamaah umrah transit di Jakarta untuk kemudian terbang ke Jeddah. Tapi ternyata Allah menghendaki kami transit juga di Bangkok selama (katanya) 1 hari baru bisa ke Jeddah. Jumlah total rombongan kami kalau ga salah ada 24 orang. Sebelumnya udah ada jamaah umrah yang berangkat duluan tanggal 25 Juni, 1 hari sebelum kami yang berangkat dari Jakarta ke Jeddah tanpa transit.

Pagi tanggal 26 Juni kami otw ke Soekarno-Hatta International Airport (Soetta). Alhamdulillah jalanan ga macet pas itu. pesawat ke Bangkok tiba siang. Sementara itu kami di airport nyiapain semua kelengkapan pejalanan kami sembari nunggu siang. Lalu siangpun datang dan kami mulai bergerak untuk check-in. Kami pikir kami bisa barengan ke Bangkok. tapi ternyata jamaah kami ini masih dibagi lagi jadi 2 kloter tanpa sepengetahuan para jamaah. dan malangnya aku, ibu dan adek ga 1 kloter sama ayah. Saat itu juga ayah langsung menanyakan ke kabiro. Karena ga dapet jawaban yang jelas akhirnya ayah datengin petugas yang ngurusin keberangkatan ke Bangkok jam itu. ternyata hasilnya sama aja, gaje alias gajelas. akhirnya ayah nyimpulin sendiri kalau ada sesuatu yang ga beres dan ditutupi sama biro ini. tapi Alhamdulillah ayah tetep berusaha khuznudzon. Cuma ayah berusaha caritau sendiri jawabannya. dan akhirnya ayah nemu benang merah dari semua masalah ini. Mau tau? Oke2... sabar, aku posting ntar deh.

Kami sekeluaga ga bisa pergi tanpa ayah. Secara ayah tu imam kami. Masak kami pergi tanpanya. Lagian dari keluarga kami dan jamaah umrah ini ayahlah yang paling pengalaman keluar negeri dan urusan tetek bengeknya. Jamaah merasa iba dengan kami. Mereka udah mulai menuju pesawat sedangkan kami bertiga masih nunggu ayah "berdiplomasi" sama petugas biar kita bisa berangkat 1 keluarga. Tapi Allah ga izinkan kami berangkat bareng. akhirnya ayah berangkat sama kloter 2 (termasuk kabiro) dan kami bertiga dengan berat hati berpisah dengan ayah dan segera berlari menuju pengecekan tiket dan selanjutnya lari lagi menuju pesawat. Alhamdulillah kami belum ketinggalan.

Sampai di dalam pesawat pun kami duduk terpisah dan ga jadi 1 sama adek dan ibu. itu aku sadari abis baca nomor kursiku yang jauh angkanya dengan punya ibu dan adek. Dan ternyata sebagian besar jamaah juga gitu. Tapi Alhamdulillah lagi aku sebelahan sama pasutri yang juga rombongan umrah kami. Mereka juga merasa iba atas terpisahnya kami dari ayah. Selama di pesawat selain ngobrol sama pasutri ini, aku berdoa biar cepet sampai Bangkok dengan selamat dan ketemu ayah disana lalu kami dan jamaah berangkat ke Tanah Suci dengan selamat pula.

Mungkin para penumpang lain pada heran liat kami. Kami kayak rombongan tur dengan baju bercorak sama yang mau piknik ke Thailand yang para wanitanya berhijab besar dan kebanyakan adalah para lansia. Whatever lah. Yang penting tujuan utama kami bukan kesana, tapi ke Tanah Suci.


Senin, 21 Juli 2014

Bikin Paspor Ga Ribet Kok :)

Alhamdulillah akhirnya selesai juga cerita perjalanan ke Tanah Suci ini. Sebenernya belum bisa dibilang selesai karena masih ada rangkaian kisah yang ada sebelum dan sesudahnya. Kisah dimana kami para jamaah harus bermukim kurang lebih 1 minggu lamanya di negara yang ga kita duga sebelumnya sebelum sampai ke Tanah Suci. Perjalanan yang so surprised dan aku sering sebut sebagai unexpcted travel. Tapi nanti dulu deh. Kali ini aku mau bayar utang cerita. Ya. Aku pernah janji bakal posting tulisan seputar persiapan dokumen keberangkatanku, dalam hal ini paspor. So, mau aku jabarin cara bikin paspor yang ternyata ga seribet yang aku bayangin. Tapi eh tapi, cara bikin paspor jamanku dulu sama taun ini udah beda. So, aku beberin cara bikin yang baru aja ya...
1. Siapin syarat2 ini sebelum menuju kantor imigrasi:
          a. KTP. Difotokopi dengan posisi atas-bawah (jangan bolak balik) diperbesar
          b. KK
          c. Akta kelahiran/akta nikah/ijazah sekolah terakhir (bawa salah satu aja)
          d. Kartu mahasiswa (bagi yang masih kuliah) difotokopi sama kayak KTP
          e. Surat ganti nama (bagi yang pernah ganti nama) dari pejabat yang berwenang
          f. Untuk anak-anak yang akan bikin paspor, syaratnya adalah:
 1. Buku nikah orang tua (asli dan fotokopi)
 2. KTP orang tua (asli dan fotokopi)
          g. Surat izin instansi yang berwenang bagi yang akan kerja di luar negeri;
          Semuanya berupa dokumen asli dan fotokopi untuk dibawa ke kantor imigrasi.
          h. Materai Rp. 6000,00   
2.  Abis nyiapin persyaratan tadi, aku menuju ke Kantor Imigrasi Surakarta. Tempatnya di Jl. Adisucipto no.  8 Colomadu. Bagi yang belum tau, ni kantor ada di sepanjang jalan arah menuju Bandara Adi Sumarmo Solo. Jadi, setelah melewati gapura mewah yang dikenal sebagai Gapura Makutha, lurus aja ke barat tepatnya sebelah barat Hotel Narita.

3. Sampai di kantor segera menuju ke meja sebelah kiri pintu masuk buat ambil nomor antrian dan pengecekan dokumen persyaratan pembuatan paspor. Setelah lengkap, petugas akan ngasi map kuning buat tempat syarat2 tadi+formulir permohonan paspor.

4. Abis dapet formulir, langsung diisi sesuai data2 yang ada. Jangan lupa bawa pena dan tipe-x sendiri karena disana emang ga menyediakan alat tulis kecuali di koperasi (dengan membeli dong ya pastinya :p)
Begitu syarat-syarat lengkap dan formulir pendaftaran udah diisi, tunggu panggilan dari loket buat pengecekan dokumen. Jangan lupa nulis nama dan alamat di map dan pilih isi halaman paspor, 48 atau 24 halaman.

5. Setelah dokumen asli dan fotokopi dicek petugas, nanti pemohon paspor bakal dikasi kertas pembayaran untuk membayar di BNI. Paspor 48 halaman Rp 255.000 + biaya administrasi bank Rp 5000 (total 260rb). Kalau pengen cepet jadi paspornya, biaya kudu cepet2 dibayar ke BNI di loket khusus pembayaran paspor. Karena batas waktu bayar Cuma 2 hari, so jangan sampai kelewat ya... karena kalau kelewat bakal ngulang prosesnya lagi

6. Abis bayar, datang ke kantor imigrasi lagi (biasanya dikasi tau 2 hari abis bayar) buat pemotretan (ceileh), pengambilan sidik jari sama wawancara. Pakai baju yang rapi. Jangan lupa bawa berkas asli sama bukti pembayaran dari BNI.

7. Ambil nomor antrian. Pasang kuping baik-baik. Begitu nama disebut langsung masuk buat foto dkk. Abis itu, petugasnya akan pinjem dokumen asli kita (aku dulu KTP) buat cek data kita sesuai atau ga sama di paspor, eh calon paspor. Trus kita disuruh tanda tangan di calon paspor kita. Tunggu lagi 3 hari untuk ambil paspor :D

Paspor berlaku selama 5 taun. Nah, di taun ini mulai diadain paspor elektronik, jadi ada chipnya gitu... tapi masih diadain di Jakarta, Surabaya, Bandung dan Batam. Wacananya, paspor elektronik ini bakalan diadain di seluruh Indonesia. Mungkin dengan adanya e-passport ini nantinya bisa ngilangin kasus2 penyalahgunaan paspor yang ditemui di lapangan. Kayak bapak pakai paspor anak laki2nya, om pakai paspor ponakannya yang mukanya mirip dsb. Masi inget ga kasus Gayus si koruptor yang dibui tapi masi bisa nonton pertandingan tenis di Bali? Hehehe...

Nah, perbedaan bikin paspor jamanku sama taun ini ada di abis dicek dokumennya di loket lalu dikasi jadwal foto dan sidik jari wawancara. Biasanya seminggu abis hari pengecekan dokumen. Pembayaran pun ga lewat bank dan baru dilakukan 2 minggu abis foto, pengambilan sidik jari dan wawancara, sekalian ambil paspor yang udah jadi.

O iya info penting buat yang udah punya paspor baik yang baru dan yang udah punya lama, paspor itu dokumen penting kita pas lagi diluar negeri. Bisa diibaratkan paspor itu KTP kita di luar negeri. Jadi kudu dibawa kemana2 pas lagi diluar. Jangan sepelein paspor kayak orang2 kita kebanyakan nyepelein dokumen2 penting ya. Kalau pas lagi diluar negeri dan suatu saat lagi jalan2/hang out diluar trus ada pemeriksaan dokumen kependudukan/keimigrasian bagi turis dan kita ga bawa gimana? Bisa panjang ntar urusannya. Ga mau kan kayak gitu?
Jaga paspor baik2 selama diluar negeri dan simpan baik2 bila udah sampai di tanah air.





Postingan Populer

Sesame Street Elmo 2