Translate This Article

Tampilkan postingan dengan label Bangkok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Bangkok. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2019

Thailand Lagi, lagi-lagi Thailand

Rasanya sudah lama sekali tidak menulis di laman ini. Banyak cerita perjalanan yang urung dituliskan sehingga hanya disimpan di benak saja. Dengan alasan "sok sibuk" kini saya kembali ke dunia perblogan (ecieh) untuk kembali menuliskan catatan perjalanan yang belum sempat dituangkan. Selain ingin share pengalaman perjalanan, yang terpenting dari menulis disini adalah satu: melawan lupa. bagi saya mendapatkan pengalaman baru ketika sedang traveling adalah hal yang sangat berharga, lebih berharga dari barang-barang mewah yang mungkin saya miliki.

Ok, kali ini saya hendak berbagi cerita tentang perjalanan backpacking saya dan teman-teman ke dua negara yaitu Thailand dan Malaysia selama tujuh hari. Rute kami adalah Indonesia-Thailand-Malaysia-Indonesia. Awalnya, saya hanya merencanakan perjalanan ini dengan teman kuliah sekaligus roommate saya, sebut saja si C. Lalu kami berpikir alangkah baiknya kalau kami mengajak teman lain yang ingin ngetrip juga kesana. Akhirnya kami menemukan dua orang teman lagi yaitu si H dan si I, namun dua orang ini hanya ikut hingga Thailand saja tanpa ikut ke Malaysia karena terkendala izin cuti kerja mereka yang hanya sebentar. Jadilah saya dan si C yang ngebolang ke Malaysia berdua.

Hari itu tanggal 17 Pebruari 2016 kurang lebih jam 9 malam saya dan C berangkat dari Depok menuju hotel Bumi Wiyata Depok menunggu bis Hiba Utama tujuan Soetta. Sebenarnya pesawat ke Thailand terbang pukul 6.30 WIB keesokan harinya, namun karena bis Hiba dari Bumi Wiyata waktu itu hanya ada sampai pukul 22.00 saja, maka kami putuskan berangkat malam itu. Perjalanan malam ternyata bisa ditempuh dalam waktu singkat sehingga tidak membutuhkan waktu lama. Kurang lebih jam 10 malam kami sudah tiba di Soetta. Karena waktu keberangkatan masih lama, akhirnya saya dan C tidur di kursi bandara bersama para penumpang asing yang mungkin juga sama-sama menunggu penerbangan esok hari. Saya dan C akan bertemu dengan 2 orang teman lain yaitu H dan I keesokan harinya saat boarding.

Kali itu kami menggunakan Batik Air dari Jakarta kemudian transit di Changi (Singapura) dan beralih ke Thai Lion Air menuju Bangkok. Kami mendarat di Don Mueang International Airport (DMK). Dari sini kami menunggu teman C, sebut saja si K yang warga asli Thailand untuk menemani kami selama di Thailand, namun ternyata K tidak bisa menemui kami siang itu karena alasan pekerjaan. Untungnya saya dan C sempat browsing transportasi umum dari DMK ke Khaosan Road, tempat hotel kami berada. Kami pun naik shuttle bus berlabel A2 bersama dengan para turis asing lain yang sepertinya memang searah dengan kami ke Khaosan Road, pusat backpacker Thailand. Sekedar info, terdapat dua shuttle bus yang berada di DMK di tahun itu yaitu shuttle bus A1 dan A2. 

Bis yang kami naiki waktu itu ternyata tidak langsung menuju Khaosan Road. Kami pun harus turun di halte Mo Chit yang letaknya tepat di sebelah tangga menuju Mo Chit BTS Station (semacam Skytrain) mencari bis tujuan Khaosan Road. Karena ini pengalaman pertama kami ke luar negeri tanpa ikut agen tur, kami pun harus bertanya kepada warga sekitar yang lalu lalang disekitar halte. Warga Thailand yang kami tanyai pun bermacam-macam mulai dari tukang ojek pengkolan (tukang ojek disana memakai seragam jaket oranye), pedagang asongan, dan berakhir di pekerja kantoran karena hanya orang ini yang paham maksud dan tujuan kami kenapa kami ada disini. Kami berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan seperti kebanyakan masyarakat Indonesia, warga Thailand pun masih banyak yang belum bisa berbahasa Inggris. Nah, setelah mendapat penjelasan dari mbak2 dan mas2 pekerja kantoran yang kami temui akhirnya kami berjalan turun ke bawah dan menunggu bis nomor 44 yang mengantar kami hingga ke dekat Khaosan Road tepatnya di Victory Monument. Oiya, nanti saya ceritakan soal transportasi di Thailand terutama bisnya karena selama di Thailand kami sering menggunakan moda transportasi ini :)

Sepanjang perjalanan saya melihat suasana jalan yang kami lalui. Suasana jalan raya layaknya di Jakarta yang khas dengan kendaraan bermotor dan gedung-gedung di kiri kanan jalan. Bedanya waktu itu di Thailand sudah ada skytrain sehingga banyak "rel melayang" di atas jalanan yang kami lewati. 

Perjalanan dari Mo Chit diperkirakan 15 menit, namun karena waktu itu sudah masuk masa orang-orang pulang kerja maka jalanan sudah mulai agak ramai sehingga sampai ke Victory Monument (monumen tempat kami turun dari bis no 44) ditempuh dalam waktu kurang lebh 1 jam. Dari situ kami melihat papan penunjuk jalan dan melihat bahwa jika kami hendak ke Khaosan Road kami harus menyeberang jalan. Tidak berapa lama kemudian kami sudah masuk ke Khaosan Road, kawasan backpacker di Thailand...

Kamis, 03 November 2016

Traveling is A Process

Belakangan ini semakin banyak orang yang melakukan traveling. Berbagai postingan di media sosial apalagi jika musim liburan tiba banyak diisi oleh aktifitas orang-orang yang tengah menikmati waktunya di suatu tempat dengan orang-orang terdekat. Traveling kini tidak hanya menjadi sebuah gaya hidup namun sudah menjadi kebutuhan terutama pada masyarakat yang tinggal di kota besar. Rutinitas hidup yang melelahkan membuat orang-orang perlu melakukan penyegaran, salah satunya dengan traveling.  

Bagi banyak orang, traveling merupakan sesuatu hal yang menyenangkan. Jalan-jalan ke tempat liburan, foto-foto, menikmati berbagai fasilitas yang tersedia, mencicipi kuliner asal, dan menginap di tempat yang nyaman. Ada pula yang berusaha mencari tiket transportasi dan akomodasi termurah demi menghemat biaya perjalanan. Lalu sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan traveling? Dan apa tujuan orang-orang melakukannya?

Ditilik dari sejarahnya, sebenarnya kata "travel" bermakna sangat jauh dengan "travel" di zaman sekarang. Kata "travel" diperkirakan berasal dari Bahasa Perancis lama "travailler" yaitu bekerja keras penuh penderitaan. Selain itu menurut kamus Merriam-Webster, di Inggris abad pertengahan, kata "travelen" juga memiliki arti yang mirip. Seiring waktu bergulir kemudian selepas abad ke-14 kata "travel" digunakan untuk mendeskripsikan sebuah perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki maupun dengan kendaraan. 

Menurut saya, istilah perjalanan pada zaman dulu sudah mengalami penyempitan makna. Orang-orang terdahulu melakukan perjalanan untuk tujuan sederhana seperti berburu untuk mencari makanan, membuka lahan baru, atau tujuan yang memiliki maksud khusus seperti pergi beribadah atau bahkan memperluas wilayah kekuasaan suatu kerajaan atau negara tertentu. Tujuan traveling kebanyakan orang saat ini adalah murni pariwisata, meskipun ada juga yang memiliki tujuan sama dengan tujuan orang-orang melakukan perjalanan di masa lalu.

Sekarang ini banyak orang-orang melakukan traveling dengan berbagai cara dan gaya. Ada yang memakai gaya backpacker yaitu traveling dengan budget minim. Ada pula yang lebih memilih traveling ala koper, dimana orang-orang lebih mementingkan kenyamanan meskipun harus merogoh kocek lebih dalam. Btw, saya tiba-tiba tergugah untuk menulis tentang hal ini karena ada beberapa hal yang menarik untuk saya utarakan. Pertama, beberapa atau bahkan mungkin banyak orang merasa bahwa dirinya adalah seorang traveler sejati. Kedua, banyak orang yang saling mencibir gaya traveling ala koper maupun ala ransel. Ketiga, tujuan orang-orang dalam berlibur: dalam maupun luar negeri. Di postingan kali ini saya akan membahas poin pertama.

Statement seseorang yang menisbatkan dirinya sebagai seorang traveler sejati akhir-akhir ini lebih sering saya lihat. Misalnya di medsos, banyak yang mengunggah meme yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang traveler. Ada pula yang menggunakan kaos bertuliskan sebuah program bertema traveling di sebuah stasiun televisi yang rutin ditayangkan tiap akhir pekan. Traveling quote seperti "I'm A Traveler", "trust me I'm A traveler", dan sejenisnya banyak beredar dimana-mana. Memang, aktifitas traveling, ngetrip, ngebolang dan sebagainya sedang tren terutama di kalangan kawula muda. Banyak yang melihat tayangan-tayangan bertema traveling, melihat foto-foto hasil perjalanan orang-orang yang berlibur di tempat wisata tertentu maupun membaca buku atau artikel bertema traveling. Efeknya adalah tak sedikit di antara kita yang "terinfeksi virus" traveling lalu bersemangat untuk ikut menjelajah. Entah niatnya hanya sekedar ikut-ikutan tren atau memang murni ingin traveling. Terlepas dari dua hal itu, traveling bagi saya punya makna yang mendalam.


81. Pantai Samalona, Sulawesi Selatan
Samalona Beach, South Sulawesi

Bagi saya, traveling harus bisa menghasilkan sesuatu yang lebih. Saya sepakat dengan tulisan yang saya kutip dari Hanum Salsabila:  

"Hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekedar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekedar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Makna perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah".

Dari beberapa perjalanan yang pernah saya lakukan, saya bersyukur mendapat banyak hal-hal baru baik secara lahir maupun batin. Secara lahir tentunya saya dapat membeli buah tangan khas dari tempat yang saya datangi. Sedangkan secara batin mungkin bisa saya contohkan seperti ini: Ketika saya tengah menjalankan ibadah umrah, selain saya bisa merasakan suasana beribadah langsung di Tanah Suci, saya juga dapat melihat berbagai macam bentuk dan karakter jamaah lain dari berbagai negara di dunia. Di sana saya belajar bagaimana berinteraksi dengan orang baru, mengenal ciri mereka dan kebiasaan mereka. Dan yang terpenting dari itu adalah saya punya pengalaman yang tidak bisa tergantikan dengan uang atau harta. Bagi saya, pengalaman yang diperoleh dari traveling adalah suatu hal yang sangat berharga dan mungkin sulit atau bahkan tidak bisa didapat ketika kita hanya berdiam diri saja di rumah, kampus atau tempat kerja. Adapun pengalaman yang lain adalah ketika saya tengah berada di KL, saya dijamu dengan ramah oleh seorang  teman lama yang saya anggap seperti guru saya sendiri karena beliau sangat ramah dan dengan ikhlas mengantarkan saya berkeliling KL. Tidak hanya itu, beliau juga berperan seperti seorang tour guide yang menjelaskan banyak hal tentang KL, hal-hal yang boleh maupun yang tidak boleh dilakukan, hingga  isu-isu politik yang tengah hangat di sana maupun yang terjadi antara Indonesia-Malaysia. Seperti anak sendiri, beliau banyak memberi wejangan kepada saya tentang banyak hal dalam hidup. Cerita tentang ini akan saya posting belakangan.

Saya selalu yakin saya akan memperoleh pengalaman baru dimanapun dan kapanpun itu, meskipun dari pengalaman itu kita tidak selalu mendapatkan hal yang manis. Pengalaman baik maupun buruk dalam suatu perjalanan adalah hal dapat membijaksanakan kita jika kita menyikapinya secara positif. Dari sedikit perjalanan yang pernah saya tempuh (saya sebut begitu karena masih banyak tempat yang belum saya datangi), pengalaman terburuk (baca: terbaik) yang saya dapatkan dari traveling sampai saat ini adalah ketika saya "terdampar" di Thailand sebelum sampai ke Tanah Suci (silakan baca postingan Get Stranded in Bangkok: Pisah sama Ayah, Get Stranded in Bangkok (2): @Suvarnabhumi-Hotel, dan Get Stranded in Bangkok (3): Pending Lagi Deh)

Saya sering mendengar kalimat yang menyebutkan bahwa perjalanan itu adalah sebuah proses, bukan perhentian akhir. Ya, saya sepakat akan kalimat ini. Perjalanan adalah proses yang harusnya menjadikan kehidupan kita lebih berwarna, lebih bermakna dan tentunya menjadikan kita lebih bijak dari sebelumnya. Semakin sering kita melakukan perjalanan, semakin banyak belajarlah kita, sementara belajar harus dilakukan secara kontinyu dan tanpa akhir. Jadi menurut saya, kata traveler sejati itu sangat berat maknanya. Hal-hal positif yang didapat dari pembelajaran  selama traveling dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari, karena kehidupan itu sendiri adalah sebuah perjalanan menuju kehidupan berikutnya.

Kamis, 19 Februari 2015

Sebelum Melancong ke negeri Gajah Putih


 Bagi yang mau liburan/merencanakan liburan di Thailand, aku ada sedikit info nih, smoga bisa membantu :)
  • Bahasa dan aksara: 
Bahasa dan aksara resmi negara ini adalah bahasa Thai, tapi bahasa Inggris umum dipake dalam dunia pariwisata disini.
  • Mata uang: 
Thailand Baht (THB). 1 THB= +/-Rp. 350 atau tergantung kurs. Nuker mata uang bisa dilakuin di Bank Sentral/bank2 yang ada tulisan "currency converter". Sepengetahuanku, bank2 di Bangkok yang aku liat bisa buat nuker mata uang. Atau kalau ga pas di airport banyak banget currency converter tapi biasanya harganya lebih mahal daripada nuker di bank.
  • Zona waktu: 
Sama dengan di Indonesia bagian barat/WIB
  • Visa: 
Semua negara ASEAN bebas visa buat WNI. Batas waktu biasanya max. 30 hari. Ada juga yang hanya 15 hari jika masuk via darat.
  • Transport:
# Indonesia-Thailand 
  1. Dari Jakarta bisa naik GIA, Thai Airways, Air Asia, Tiger Air, Singapore Airlines, dan Lion Air. Tiket PP normal sekitar 3 jutaan dengan durasi terbang 2 jaman lebih.
  2. Selain Jakarta bisa juga dari Denpasar pake Thai Airways/Air Asia. Durasi terbang 3 jam-an lebih lah dengan harga tiket PP >3 juta. 
Bangkok punya 2 int. airport: Don Mueang dan Suvarnabhumi. Don Mueang dikhususin buat budget airlines macam Air Asia, Lion Air dkk sama maskapai domestik Thailand, Nok Air. Kalau Suvarnabhumi khusus untuk jalur internasional dan non budget airlines. 2 airport ini dihubungkan sama shuttle bus yang berangkat tiap 30 menit dengan waktu tempuh +/- 45 menit dan gratis buat calon penumpang dengan nunjukin bukti tiket pesawat.

Kalau pengen dapet tiket lebih murah bisa cari tiket promo dengan sering2 liat tiket promo OL. Nah, kemaren sempet liat promo Jakarta-Bangkok PP cuma 1,3 juta loh! Mayan kan...
# Airport-dalam kota
Di Bangkok ada 3 terminal bis: Ekamai (terminal bis timur), Mochit (terminal bis utara) dan Sai Thalling Chan (terminal bis selatan). Bangkok juga punya stasiun utama Hualampong dan hanya ada satu stasiun utama itu di Bangkok. Ada juga Bangkok Sky Train (BTS) yaitu jalur kereta yang dibangun di atas jalan raya dan punya 2 jalur: Siam Line (barat-selatan) dan Sukhumvit Line (timur ke Mochit di utara). Kedua jalur ini ntar ketemu di Stasiun Siam. Tarifnya THB 15-42 dengan jam operasi pukul 06.30-24.00. Ada juga Mass Rapit Transit (MRT)/Subway/kereta bawah tanah yang hanya ada 1 jalur aja. Tarifnya THB 16-40 dengan jam operasi sama kayak BTS. BTS sama MRT dibangun buat mengantisipasi kemacetan di Bangkok.

Tiket buat BTS/MRT bisa dibeli di mesin tiket yang tersedia dan alhamdulillah ada pilihan bahasa Inggrisnya :) O iya ada 2 macam tiket: Single Journey Ticket sama One Day Pass. SJT hanya bisa dipake di hari itu aja. Nah, kalau mau kemana2 pake BTS/MRT bolak-balik mending pake yang ODP.
  1. Dari Suvarnabhumi:
    ^  Bis umum dengan tarif THB 35
    ^ Airport rail link THB 45 ke stasiun BTS Phaya Thai trus sambung lagi pake BTS ke itinerary tujuan.
    ^ Taksi. Biasanya dari airport harga borongan +/- THB 500 udah termask surcharge
  2. Dari Don Mueang: 
^ Airport bus THB 30
^ Taksi ke BTS Mochit THB 100. Kalau sesuai argo ke dalam kota sekitar THB 200.
^ Kereta ke Stasiun Hualampong kelas 1 tarifnya THB 21, kelas 2 THB 11 dan kelas 3 THB 5
  • Tips
  1. Kalau mau pergi2 jarak dekat dan ber-4 lebih baik naik taksi, soalnya tarif jarak dekat biasanya minta borongan THB 100. Kalau pake argo ga bakal lebih dari THB 100, lebih irit daripada naik BTS/MRT. Bisa juga naik bis kota ber-AC THB 10-25, non AC THB 10. 
  2. Bagi yang pengen nyoba transportasi khas Thailand bisa naik tuktuk dengan tarif THB 50-100 (bisa nego) untuk jarak dekat. 
  3. Nah, kalau kami dulu city tour pakai mobil van yang muat sampe 8 orang. Kalau rombongan banyak lebih nyaman naik mobil van deh. Harga sewa+supir+BBM keliling Bangkok +/- THB 800-1600 tergantung jaraknya.
  4.  Thailand beriklim tropis kayak Indonesia. Kapan aja mau kesana nggak masalah buat orang Indonesia. Untuk cuaca dan iklim, bulan Nopember-Pebruari udara biasanya agak dingin daripada biasanya. Bulan Maret-April berhawa  panas dan musim hujan biasanya ada di bulan Mei-Oktober. 
Yup, itu dia infonya, ga banyak sih, tapi moga aja bisa bantu bagi yang mau melancong ke sono :)

Selasa, 27 Januari 2015

Sightseeing at Ramkhamhaeng Night Market

Postingan sebelumnya udah aku ceritain soal city tour di Thailand sebelum balik ke Indonesia. Gimanapun juga pengalaman "nyasar" di sini tetep berbekas di hati dan pikiran (lebai dikit ah...). Gimana enggak coba, mulai dari kesasar dan ga tau harus berbuat apa2 sampai bisa jalan2 keliling kota. Dan aku sadar ini semua adalah kehendakNya. Ambil hikmahnya aja lah, aku bisa jalan2 gratis dan ketemu dengan orang2 baik yang udah nolongin kami disini, Alhamdulillah...

Ngomong2 soal Thailand, aku pasti inget pengalamanku yang satu ini dan pengen balik ke sana lagi. Bagi yang pengen ke sana bolehlah ajak2, he3... Apalagi kemaren aku sempet liat ada promo tiket awal bulan Pebruari Jakarta Bangkok PP dengan harga 60% lebih murah loh... kyaaaaa.....

Aktivitas kami di sini sebenernya biasa aja sih mulai dari pagi hari bisa dibilang ga beda kayak kami di Indonesia: bangun pagi, sholat subuh, mandi, sarapan. Pas sarapan aku suka banget minum coklat panas pake krimer tanpa gula sama bikin roti tawar panggang barengan sama penghuni hotel lain, hehe... abis sarapan biasanya para jamaah kembali ke kamar hotel ga terkecuali kami, kecuali jika bu kabiro ngajak ayah dan beberapa jamaah laki2 buat berembug di lobi atau musholla hotel atau ngajak aku/adek ngurusin kelengkapan buat para jamaah. Aku sama bu kabiro abis sarapan sering ke kantor Pak G yang letaknya ga jauh dari hotel tempat kami menginap, Regent. Disana kami ketemu sama Pak G, Ust. S dan beberapa stafnya yang ramah dan siap bantu kami

Pernah pas pagi2 abis subuh kami sekeluarga jalan2 di sekitar hotel, masuk ke kawasan kompleks pemukiman penduduk. Daerah yang dekat dengan hotel adalah kawasan pemukiman muslim. Makin masuk ke kompleks adalah pemukiman umat budha, terlihat ada altar2 kecil lengkap ama dupa dan sesaji bunga khas Thailand. Kami terus jalan sampai akhirnya nemu pemukiman orang kristen evangelist Korea. Kami ga berlama-lama disitu karena banyak anjing penjaga berkeliaran di depan rumah2 besar berdesain gotik yang selalu tertutup rapat. Akhirnya kami memutuskan kembali ke hotel karena hari sudah mulai siang dan lanjut sarapan di restoran hotel.

Selama perjalanan kembali ke hotel kami sering membandingkan rumah2 di sini dengan di Indonesia. Di sini, rumah2 kebanyakan memiliki taman atau sekedar tanaman2 yang ditata rapi di depan rumah. Banyak juga rumah yang pake pagar alami (pohon2an) sebagai pembatas rumah dengan jalan. Rumah2 disana juga memasang 2 bendera di pagarnya, bendera negara dan yang 1 bendera warna kuning yang aku ga tau bendera apa itu. Mungkin lambang kerajaan Thailand kali ya...

Pas siang/sore bahkan malam bu kabiro juga biasanya ngajak aku/adek ke sevel buat beli pulsa/barang2 kebutuhan sehari-hari. Karena bu kabiro ga bisa basing maka aku sama adek yang sering diajak kemana2 mulai dari ke kantor Pak G, sevel, bank, mall bahkan pasar tradisional di Ramkamhaeng. Kadang para jamaah juga sering nitip barang2 keperluan jadi kesempatan ini aku ambil sekalian jalan2 di Ramkamhaeng, hehehe...

Ketika pagi keluar hotel menuju jalan utama Ramkhamhaeng yang jaraknya kira2 50 m aja udah bisa nemu para penjual kaki 5 yang jualan di trotoar. Barang2 yang dijual macem2 mulai dari makanan, pakaian, lapak koran, bunga untuk sembahyang umat budha, obat2an tradisional dll, hingga pengamen jalanan pun ada di sini, mirip banget sama pasar di Indonesia. Makanan macam2 dan hampir mirip sama masakan Indonesia. Makanan berat macam nasi dan bubur untuk sarapan, lauk pauk dan masakan macam kuah kari, tumis, dan mungkin sejenis balado yang penah aku liat ada disitu. Jajanan pasar khas Thailand pun banyak dikerumuni pembeli. Aku juga liat banyak yang jual sate2an macam sate sosis dkk yang sekarang masih ngehits di Indonesia. 


Thailand street food
64. Thai street food. Mirip jajanan di Indonesia ya
Source: pinterest.com
 
Semuanya terlihat yummy tapi aku ga pernah beli makanan2 itu karena ga tau apakah itu halal apa ga. Dan lagi, Ust. S yang asli orang Thai juga memperingatkan untuk ga beli makanan/minuman di situ kecuali yang label halal/menuliskan moslem food di kedai/lapaknya. Kami pun nurut. Yang pernah kami beli adalah buah2an di penjual gerobak macam penjual rujak di Indonesia. Pas itu bu kabiro penasaran sama buah yang mirip kedondong tapi sizenya lebih kecil. Si bapak penjual pun mengisyaratkan kami buat nyoba, dan ternyata rasanya mirip jambu. Kami pun beli trus sampai di hotel kami bagi2in ke jamaah.

Makin sore, suasana makin ramai. Di sepanjang jalan Ramkhamhaeng ini banyak banget pedagang kaki lima yang buka lapak, karena mulai pukul 15.30-22.30, adalah saatnya Ramkhamhaeng Night Market. Ya, pasar malam yang buka tiap hari ini jual macam2 barang keperluan sehari-hari ga jauh beda kayak pas pagi hari, tapi dengan suasana yang lebih semarak karena barang2 yang dijual lebih bervariasi. Pokoknya ni tempat cucok banget buat para backpacker yang mau berburu makanan, barang2/oleh2 dengan harga miring. Kemampuan nawar harga di sini sangat diperlukan guys...


Ramkhamhaeng
65. Suasana sore menjelang Ramkhamhaeng Night Market. Ada bebeapa lapak yang udah buka

Ramkhamhaeng Night Market
66. Walk along at Ramkhamhaeng Night Market
Source: http://inter.tourismthailand.org/fileadmin/upload_img/Attraction/6200/Ramkhamhaengeng.jpg


Ramkhamhaeng Night Market
67. Ramkhamhaeng Night Market dekat Universitas Ramkhamhaeng
Source: http://johnsonism.com/wp-content/uploads/2014/04/market-640x372.jpg

Selain pasar tradisional dan night market, di sepanjang jalan Ramkhamhaeng ini juga ada beberapa pusat perbelanjaan modern. Sebut saja Central Power Center Huamark, Fashion Island, Huamark Town Center, The Mall Bangkapi, The Mall Ramkhamhaeng 2 dan 3 ada di situ. Banyak juga kios2 yang menjual berbagai macam barang2. Yang terdekat sama hotel Regent adalah Huamark Town Center, so, aku sering kesana sama bu kabiro. Pernah juga kami sekeluarga kesana beli camilan skalian jalan2. Pernah juga cuma berdua sama adek ngemall kesono daripada tiduran di kamar hotel, wkwkwk

Sekilas tentang daerah bernama Ramkhamhaeng adalah daerah luas di distrik Bangkapi yang ada di sepanjang jalan Ramkhamhaeng, jalan arteri utama di Bangkok Timur sepanjang 18 km. Nama daerah ini diambil dari nama raja ketiga Dinasti Phra Ruang dari Kerajaan Sukhotai. Raja yang berkuasa dari tahun 1279–1298 ini berjasa membuat aksara Thai. Selain itu raja ini juga jadiin agama budha jadi agama kerajaan saat itu. 


Layaknya daerah kota besar, Ramkhamhaeng di pagi dan sore hari juga ga lepas dari macet. Banyak orang yang pergi ke tempat kerja maupun mahasiswa/i yang mungkin berangkat kuliah. Ada 2 universitas di sini, Ramkhamhaeng University sama Assumption University. Ramkhamhaeng University berdiri sejak tahun 1971 yang alumninya banyak jadi orang sukses di negeri Gajah Putih ini. Sebut saja Mario Maurer (model & aktor Thailand), Abishit Vejjajiva (Perdana Menteri Thailand ke-27) dan masih banyak lagi. Stadion Rajamanggala yang terkenal yang sering dipake buat turnamen sepakbola ASEAN juga terletak di pinggir jalan arteri ini.

Rabu, 29 Oktober 2014

Bonus dari Tanah Suci

Sebelum baca postingan ini, aku mau jelasin sebentar kenapa alur kisahnya terkesan berbolak-balik atau muter2. Aku ga pake alur maju (kisah diceritain runut mulai dari awal perjalanan dari Solo-Jakarta-Bangkok-Tanah Suci-Bangkok-Jakarta-Solo) atau alur mundur (kisah diceritain runut mulai dari akhir perjalanan dari Solo-Jakarta-Bangkok-Tanah Suci-Bangkok-Jakarta-Solo) tapi aku campur keduanya (lhoh, gimana tuh?). Jadi aku mulai nulis awal keberangkatan dari Solo ke Jakarta lalu Tanah Suci dulu tanpa nulis Bangkok sebelumnya. Niatku karena tujuan awalku adalah cerita tentang my trip experience in Tanah Suci dulu baru Bangkok karena Bangkok buatku adalah bonus perjalanan buat kami semua.

Ngomong2 soal bonus, disini bakalan aku pos soalan kegiatan kami para jamaah abis pulang dari Tanah Suci. Kami ga bisa pulang langsung ke tanah air karena emang tiketnya PP Jeddah-Bangkok, bukan Jeddah-Jakarta. Jadilah kami "pulang" ke Bangkok pakai Etihad alhamdulillah dengan aman, nyaman dan sentausa, he3... Oke, dari Jeddah transit dulu di Abu Dhabi Int. Airport baru ke Suvanabhumi untuk selanjutnya stay di Ramkhamhaeng lagi, alhamdulillah, yeay!

Sampai di Suvarnabhumi, ibu kabiro langsung ngajak aku hubungi Ust. S untuk urusan akomodasi dan transport. Ga beberapa saat kemudian sebuah panggilan masuk di gadgetku dan ternyata dari Pak G manajer Regent Hotel di Ramkhamhaeng tempat kami stay sebelum ke Tanah Suci. Beliau sama satu asistennya dateng dan langsung bawa kami ke Regent. Sekali lagi aku kagum sama Pak G karena beliau bener2 memuliakan tamu dengan jemput kami secara langsung dari Suvarnabhumi ke Ramkhamhaeng. Keren!

Di Regent kamipun istirahat. Kami stay disana selama 3 hari. Hari kedua di Bangkok pasca kepulangan dari Tanah Suci, kami dapat bonus traveling ke beberapa itinerary di Thailand. Aku sebut bonus karena kami ga nyangka bisa sampai di negara ini dan bisa traveling gratis disini. Aku sendiri ingat niat besarku kala itu, waktu umurku masi belia (sekarang juga masi belia, cuma beda beberapa tahun, hahaha... ga mau dibilang tua ceritanya :p) Aku pengen banget bisa traveling keluar negeri. Tapi sebelum kemana2, aku pengen bisa ke Tanah Suci dulu baru traveling ke negara lain jika Allah ngasi kesempatan karena aku ga tau aku hidup sampai usia keberapa dan sebelum aku tutup usia aku ingin ke Tanah Suci buat ibadah dulu jika diizinkan. Dan Alhamdulillah Allah ngijabahin doaku. Aku bisa ke Tanah Suci buat umrah dan dapet bonus langsung di Thailand selama seminggu (4 hari pra, 3 hari pasca dari Tanah Suci). Aku bener2 ngrasa Allah itu deket. Deket banget sama aku khususnya karena Dia terus mendidik aku untuk jadi orang yang harusnya selalu sabar dan bersyukur meski harus ngelewatin berbagai halang rintang menuju Baitullah.

Bonus yang kami dapet adalah kami pergi ke 3 tempat di Thailand. Pattaya Floating Market, Pattaya Beach, sama Gems Gallery. Ya, kami akan ke Pattaya. Letaknya yang hanya sekitar 140 km dari Bangkok yang jadi pertimbangan kesana. Karena kebanyakan jamaah kami adalah lansia dan esok hari kami akan ninggalin Thailand, hanya kira2 separuh yang ikut tur ini. Keluargaku Alhamdulillah ikut semua, he3... Mari dikupas satu persatu.

1. Pattaya Floating Market
Sebelum kesini, karena hari udah siang dan masuk waktu dhuhur, kami berhenti di Chonburi tepatnya di kawasan muslimnya. Kami ternyata diantar sama si sopir travel yang bawa kami ke restoran muslim Thailand. Aneka macam dish khas Thailand macam tom yam, seafood, dan masakan kari tersedia di meja kami. Alhamdulillah... kalau udah rezeki emang ga akan kemana, he3...

Restoran cozy dan comfy yang cukup luas ini punya seorang wanita turunan Bangladesh yang bersuami orang Thai. Si ibu cukup ramah nyapa kami dan ajak ngobrol. Abis makan dan selesai sholat kamipun ninggalin tempat ini dan berangkat menuju Pattaya Floating Market.


Pattaya Floating Market
56. Main Entrance Pattaya Floating Market

Pattaya Floating Market
 57. Padet banget. Pas musim liburan disana
Bagi yang pernah ke Kalsel dan liat pasar terapung disana, kita juga bisa nemuin di Thailand yang emang terkenal juga akan pasar terapungnya.  Barang2 yang dijual pun sama macam disini kek buah dan sayuran di atas perahu. Perahu yang digunakan emang cukup besar dengan kapasitas hingga 4 orang. 

Pattaya Floating Market
58. Suasana di Dalam
Source: http://www.travelhubthailandtours.com/images/hotels-pic/lightbox-pics/floating-market/floating-market010.jpg
 
Dibangun di lahan seluas 100,000 meter2, pasar terapung ini terbagi jadi 4 bagian: utara, timur, selatan, dan barat. Selain pasar terapung ada rumah-rumah kayu yang juga ngejual beberapa dagangan, mulai dari gerai buah segar, toko sovenir, sampai galeri seni. Yang juga ada pastinya aneka makanan khas Thailand, kek pad thai (mi goreng Thailand-pernah aku bahas di postingan awal), kanom jean (bihun beras) dengan aneka macem kuah kari, ka nom krok (panekuk kelapa), foi thong, dll. Jam Buka  Pattaya Floating Market adalah jam 08.00 – 18.00 dan lokasinya ada di 451/304 Mu 12, Sukhumvit Road, Tambon Nong Prue, Amphoe Bang Lamung, Chon Buri, Tel. +66 3870 6340.

2. Pattaya Beach
 Pantai yang ada di tenggara Bangkok ini cukup terkenal di dunia dengan pusat hiburan malamnya. Tapi tenang aja, kami datang kesana pas tengah hari dan lokasi kami di pantai ini pun jauh dari lokasi hiburan malam tadi, aman laahh...

Pantai cakep ini pernah kena imbas tsunami 2006 kemaren. Meskipun gitu, pantai yang bikin Thailand tambah devisa karena kunjungan turis manca yang luar biasa ini udah lengkap nawarin macem2 fasilitas dan hiburan. Mulai dari resor sampai berbagai macam olahraga air ada disana. Beberapa foto aku ambil dari sana. Kayak gini nih cakepnya Pattaya Beach...
Pattaya
59. Pattaya Beach (cuaca mendung)

3. Gems Gallery

Gems Gallery
60. Pelataran Gems Gallery Pattaya
Source: http://i1301.photobucket.com/albums/ag110/KitYiLim/bkk%204/DSCN1827_zps27e4c361.jpg
Gems Gallery di Pattaya ini adalah 1 dari empat cabang galeri permata yang ada di Thailand. Disini kami bisa liat macem2 batu permata mulai dari cara pengambilannya dari alam sampai proses pembuatan dan pemasarannya. Begitu sampai di pelataran kami disambut sama petugas cewek berbaju khas Thai dan menanyakan darimana asal negara kami. Sebelum kami masuk ke area galeri, kami dipesilakan ikut tur Germs Discovery dengan naik kereta yang masuk ke sebuah gua. Semacem masuk gua hantu gitu deh... Gelap juga awalnya pas kereta mulai jalan sampai ada anggota jamaah kami yang lansia pegang tangan ibuku kenceng saking takutnya. 

Gems Gallery
61. Kereta Gua Hantu, Eh Gua Permata Ding :p
Source: http://www.gems-gallery.com/mobile/images/store/pattaya/IMG_9419_sm.jpg
 Di dalam gua buatan ini kami disuguhi live diorama bagaimana permata/gems itu berasal. Mulai dari gunung berapi yang memuntahkan lahar dan batu2an, kemudian cara pengambilan dan pengolahan secara tradisional pada zaman dulu hingga zaman sekarang dengan alat2 modern plus arti permata bagi bangsa Thai. Narasi disajiin dalam Bahasa Indonesia disesuaikan sama negara asal pengunjung. Cukup memukau tapi sayang pengunjung ga dibolehin take pictures disana.

Abis keluar "gua" dan turun dari kereta, kami langsung disambut sama petugas yang fasih bebahasa Indonesia dan bawa kami ke suatu ruangan yang luas dimana kami bisa liat cara pengolahan batu permata jadi macem2 perhiasan apik yang langsung dipraktekin sama para tukang pembuat permatanya sendiri. Jadi inget tetanggaku dulu orang Banjar yang profesinya bikin perhiasan dari batu intan, alat2 yang dipake mirip. Nah, abis itu kami masuk ke ruangan dimana galeri dari permata yang udah jadi dipamerin dan dijual. Harganya mulai dari yang paling rendah hingga milyaran rupiah (kalau dirupiahin) ada disana tergantung dari jenis, ukuran, dan tingkat keruwetan bentuknya. Banyak turis domestik maupun manca yang datang kesono dan tertarik buat beli, termasuk mak gue. Pas mau bayar, ayah ngeluarin uang riyal. tapi ternyata petugas disana ga bisa nerima dengan alesan kalau susah nukerin riyal ke baht dan harus ke bank sentral. So petugas disana nganjurin pembayaran pakai Rp aja. Ya wis lah...


Gems Gallery
62. Ruang Display Gems Gallery Pattaya
Source: http://www.tourismthailand.org/img_resize/79/8cde70975899d15468864f11b17062_400_300_none.jpg

Selain perhiasan dan asesoris dari permata, ada juga yang dari emas dan perak. Aku emang ga tertarik sama perhiasan2 macam itu jadi aku sambil lalu aja dan masuk ke ruangan yang mamerin aneka macam traditional handicrafts khas Thailand. Nah disini aku bisa betah liat2 barang2 unik, tapi aku ga niat beli juga karena emang harganya mahal sangat! bisa 3x lipat kalau kita beli di lapak kaki lima diluar sana. Ada juga produk body care lokal dan fesyen merk terkenal juga dijual disana mulai dari baju, tas, sepatu, dompet, dll. Enaknya disini waktu pengunjung liat2 barang ga diikutin sama petugasnya. Ga macam di Indonesia yang pas mau milih2 barang diikuti trus diliatin terus sama petugas/SPG yang pastinya bikin kita ga nyaman pas belanja/milih2 barang.


Gems Gallery
63. Ruang Display Handicraft dan Fesyen Gems Gallery Pattaya
http://www.pattaya.go.th/wp-content/uploads/2012/01/IMG_9393_resize.jpg 

Gems Gallery Pattaya yang letaknya di 555 Moo 6 North Pattaya Rd., Nakluea, Banglamung Thaiand ini buka tiap hari dari pukul 08.30 - 18.00. Bagi yang pengen tau detil bisa buka webnya Gems Gallery atau telp di +66 3837 1222-31, +668 3657 5757.

Usai dari situ, kami pulang karena hari udah sore. Sepanjang jalan di kawasan Pattaya yang kami liat udah mirip di Bali aja. Para turis dari berbagai ras lalu lalang disitu, hotel dari kelas backpacker hingga bintang lima, tempat makan dari pedagang kaki lima sampai yang mewah, resto fast food, mall, minimarket (disana banyak banget sevel), tempat hiburan malam hingga tempat pijat plus2 pun ada. Perjalanan yang agak jauh yang bikin capek ditambah hujan deras waktu udah hampir sampai Bangkok bikin kami ngantuk. Akhirnya satu per satu dari kami tertidur, he3... 

Kami sampai di hotel menjelang magrib. Meskipun capek, kami terutama keluargaku ga boleh tidur dulu karena mau packing buat kepulangan kami ke tanah air.

Kamis, 23 Oktober 2014

Orang-orang Baik di Negeri Tak Terduga

Jumat itu, Ust. S ngajak para jamaah kami yang laki buat sholat jumat berjamaah di Islamic Center Bangkok. Lokasinya masih di Ramkhamhaeng juga. Mereka kesana naik taksi. Ayahku langsung terharu begitu sampai disana karena desain masjid di Islamic Center mirip kek di Masjid Nabawi dengan atap macam payung2 elektrik. Ini yang ngingetin ayah akan Tanah Suci dan bikin ayah tambah yakin kalau Allah emang ngundang kami ke sana.

Besok malamnya aku, ibu kabiro sama staf biro travel utusan Ust. S kumpul di outdoor restaurant hotel. Abis makan (ini certanya aku sama ibu kabiro ditraktir makan malam sama mas staf biro travelnya, hi3) si masnya staf travel tadi buka email via smartphonenya dan nunjukin kalau e-tiket kami sudah berhasil dipesan dan esok hari kami para jamaah umrah bisa berangkat ke Tanah Suci. Si mas staf biro travel tadi lalu ngirim attachment e-tiket tadi ke email hotel untuk kemudian diprin dan diserahin ke kita setelah sebelumnya kami cek dulu apakah semua jamaah tercantum disitu. 

55. Outdoor Resto Regent Ramkhamhaeng Hotel
Sedikit cerita soal suasana malam itu (yang aku ga sadar kalau itu malam minggu) ya. Hotel Regent ini terutama di bagian outdoor resto nya cukup ramai ketimbang hari2 biasa. Banyak orang kumpul disitu. Ga cuma buat makan atau santai2 tapi juga buat belajar. Kayak mas staf travel yang kami temui ini ternyata ga cuma mau ketemu kami tapi juga lagi nunggu ustadznya buat belajar. Entah apa yang sedang mereka diskusikan karena mereka cakap2 pakai bahasa Thai dan banyak juga anak2 muda di samping meja kami yang sedang belajar bersama. Nah, si mas staf biro travel ini bisa berbahasa Melayu sikit2, so nyambunglah kami ngobrol2 sampai hampir tengah malam. Kadang kalau si mas ini ga bisa nyebut sesuatu benda/hal dengan bahasa Melayu, dia move ke English. Jadilah bahasa kita jadi gado2 antara bahasa Melayu dan English, ha3... Tapi dari pertemuan kami berempat ini aku jadi tambah ilmu karena ga cuma e-tiket yang kami bahas, tapi juga tentang kehidupan muslim di negara ini, khususnya di Bangkok. Jadi minoritas ga menyurutkan semangat mereka untuk melakukan semua aktifitas dan hubungan baik itu hubungan dengan Allah maupun hubungan dengan manusia. Jadi agen muslim yang baik, itu kesimpulan yang bisa aku tarik dari sini dan jadi penyemangatku untuk bisa seperti mereka.

Ahad subuh kami sudah siap dengan semua kelengkapan keberangkatan kami ke Tanah Suci. Setelah sholat subuh di mushola hotel, kami menuju mobil untuk berangkat ke Suvarnabhumi. Ust. S ikut serta antar kami setelah sebelumnya kami para jamaah foto bareng sama Ust. S (selfie tetep dong ya...). jalanan masih sepi waktu kami melintas. Aku bener2 seneng karena kami bisa berangkat lengkap ke Tanah Suci dari Bangkok. Tapi di satu sisi sedih juga rasanya ninggalin kota ini. Di Bangkok, tepatnya di Ramkhamhaeng adalah tempat yang udah Allah takdirin buat kami para jamaah stay sebelum ke Tanah suci. Aku udah merasa nyatu sama orang2 disini karena mereka saudara2 seimanku yang bener2 ikhlas bantuin kami. Aku berharap suatu saat aku akan pergi kesana. Lantunan doa dalam hati yang diikuti tetesan2 air bening yang keluar dari sudut mata karena sedih ninggalin kota ini.

Semua urusan transportasi dan akomodasi kami diurus sama Ust. S dan salah satu stafnya. Kami disuruh duduk manis dan nunggu sampai semuanya siap. Beliau juga bantuin angkatin barang2 kami tanpa diminta. Subhanallah... Semoga Allah membalas semua kebaikan Ust. S dan semuanya yang sudah membantu kami selama ini.

Ga terasa akhirnya kami kudu beranjak dan berpisah dari Ust. S dan stafnya. Kami berjalan menuju pemeriksaan dan bergerak menuju gate yang lumayan jauuuhhhh dari tempat kami tadi. Aku udah ga bisa liat Ust. S dan stafnya. Kami terus jalan dan akhirnya kamipun masuk ke pesawat lalu duduk sesuai nomor kursi kami masing2. Nanti kami akan transit di Abu Dhabi untuk selanjutnya terbang ke Jeddah. Namun aku masih merasa ga mau ninggalin Bangkok, ingin ada disini lebih lama lagi, tapi mau gimana lagi. Tujuan utamaku adalah ke Tanah Suci. Aku bersyukur bisa dipertemukan dengan keluarga seimanku disini, Alhamdulillah... Aku ga akan bisa lupain kebaikan mereka dan berharap bisa bertemu mereka lagi dalam keadaan yang baik. Itu salah satu doaku di Tanah Suci, semoga Allah kabulkan, amiiin...



Kamis, 25 September 2014

Ramkhamhaeng, Alhamdulillah :)

Yang ditunggu-tunggu akhirnya datang juga. Rombongan yang "tertinggal" di Jakarta akhirnya sampai juga di Suvarnabhumi. Ayah langsung meluk aku, begitu juga beberapa jamaah wanita yang langsung menghambur lari ke arahku diikuti muka haru+linangan air mata yang keluar dari sudut mata mereka (serius, ga lebai).  Kami akhirnya bisa kumpul lagi di tempat tak terduga, Bangkok.

Abis makan, kami semua menuju musholla untuk ibadah. Sedikit penjelasan tentang musholla/prayer room di Suvarnabhumi, aku agak terkesima pas masuk didalam. Karena banyak muslim disana yang menyapa kami dengan ramah. Sembari menunggu waktu ashar tiba, aku ngobrol sama wanita keturunan India yang berkebangsaan Thailand. Dia udah menduga kami akan berangkat umrah (mungkin karena kostum kami samaan kali ya...)

Ok, abis sholat kami kembali lagi ke lantai atas untuk menunggu kepastian tiket. Hinga magrib kamipun belum mendapat info apapun. O iya, sedikit penjelasan kenapa kami ga bisa berangkat cepet ke Tanah Suci karena ada sesuatu hal yang membuat kami pending berangkat dan harus transit di Bangkok. Ada oknum yang mengambil keuntungan dibalik pembelian tiket kami. Dan itu bukan kesalahan dari biro kami. Mereka juga kena imbasnya. Saat aku tau hal itu aku berpikir alangkah bodohnya orang yang tega menipu kami para jamaah umrah dan biro dengan mengambil kesempatan macam ini. Mereka tidak berpikir apa yang mereka lakukan sebenernya ngerugiin diri mereka sendiri karena mereka menghalangi orang untuk beribadah ke Tanah Suci. Mereka hanya memikirkan kesenangan sesaat di dunia tanpa berpikir efeknya. Baik efek di dunia yang berat maupun efek di akhirat kelak yang lebih berat. Ini bener2 ujian dalam beribadah yang paling besar yang pernah aku alami sampai aku nulis postingan ini. Tapi gimanapun juga kami ga boleh kebawa emosi. Kalau pengen jadi hamba Allah yang lebih baik dari sebelumnya dan ingin derajat di hadapanNya lebih baik dari sebelumnya, kami harus menyikapi keadaaan ini dengan sabar dan tawakal. Gimanapun juga aku tetep yakin kalau kami semua akan bisa sampai ke Tanah Suci dengan selamat.

Back to the story. Waktu magrib pun tiba. Kami kembali turun ke prayer room buat ibadah. Disinilah bantuan Allah datang. Salah seorang rombongan biro kami (laki, sebuat aja Y) sehabis sholat ngobrol2 sama orang sebelahnya. Si Y cerita semua permasalahan kami dan ternyata orang tadi dengan ikhlas mau bantu kami dan pengen ketemu sama jamaah. Akhirnya orang tadi langsung koordinir kami untuk keluar Suvarnabhumi dan dia udah nyiapin akomodasi dsb buat kami. What a coincidence! Ini bantuan Allah yang nyata! Kami dipertemukan sama sodara seiman kami disini.

Sesampainya di hotel, kira2 jam 22.30 kalau ga salah. Aku langsung tau kalau itu hotel muslim karena semua pegawai wanita yang bekerja disitu memakai penutup aurat. Dugaan ini makin bener pas keesokan harinya aku liat suasana sekitar kalau kami tengah berada di kawasan muslim Thailand, Ramkhamhaeng.

Kami mulai mengambil kunci kamar masing-masing dan naruh barang. Ada perasaan berbeda waktu aku tiba di hotel ini. Suasana Islam sangat kental disini. Dari hiasan hotel yang banyak majang kaligrafi dan nama-nama kota-kota Islam dunia tertulis rapi. Tapi aku ga sampai bengong karena aku kudu turun ke resto buat ngisi perut buat makan malam. 

Ada kejutan lagi dari Allah buat kami khususnya keluargaku di resto. Penasaran sama kisah selanjutnya? Tunggu postingan berikutnya ;)

Postingan Populer

Sesame Street Elmo 2