Translate This Article

Tampilkan postingan dengan label airport. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label airport. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2019

Thailand Lagi, lagi-lagi Thailand

Rasanya sudah lama sekali tidak menulis di laman ini. Banyak cerita perjalanan yang urung dituliskan sehingga hanya disimpan di benak saja. Dengan alasan "sok sibuk" kini saya kembali ke dunia perblogan (ecieh) untuk kembali menuliskan catatan perjalanan yang belum sempat dituangkan. Selain ingin share pengalaman perjalanan, yang terpenting dari menulis disini adalah satu: melawan lupa. bagi saya mendapatkan pengalaman baru ketika sedang traveling adalah hal yang sangat berharga, lebih berharga dari barang-barang mewah yang mungkin saya miliki.

Ok, kali ini saya hendak berbagi cerita tentang perjalanan backpacking saya dan teman-teman ke dua negara yaitu Thailand dan Malaysia selama tujuh hari. Rute kami adalah Indonesia-Thailand-Malaysia-Indonesia. Awalnya, saya hanya merencanakan perjalanan ini dengan teman kuliah sekaligus roommate saya, sebut saja si C. Lalu kami berpikir alangkah baiknya kalau kami mengajak teman lain yang ingin ngetrip juga kesana. Akhirnya kami menemukan dua orang teman lagi yaitu si H dan si I, namun dua orang ini hanya ikut hingga Thailand saja tanpa ikut ke Malaysia karena terkendala izin cuti kerja mereka yang hanya sebentar. Jadilah saya dan si C yang ngebolang ke Malaysia berdua.

Hari itu tanggal 17 Pebruari 2016 kurang lebih jam 9 malam saya dan C berangkat dari Depok menuju hotel Bumi Wiyata Depok menunggu bis Hiba Utama tujuan Soetta. Sebenarnya pesawat ke Thailand terbang pukul 6.30 WIB keesokan harinya, namun karena bis Hiba dari Bumi Wiyata waktu itu hanya ada sampai pukul 22.00 saja, maka kami putuskan berangkat malam itu. Perjalanan malam ternyata bisa ditempuh dalam waktu singkat sehingga tidak membutuhkan waktu lama. Kurang lebih jam 10 malam kami sudah tiba di Soetta. Karena waktu keberangkatan masih lama, akhirnya saya dan C tidur di kursi bandara bersama para penumpang asing yang mungkin juga sama-sama menunggu penerbangan esok hari. Saya dan C akan bertemu dengan 2 orang teman lain yaitu H dan I keesokan harinya saat boarding.

Kali itu kami menggunakan Batik Air dari Jakarta kemudian transit di Changi (Singapura) dan beralih ke Thai Lion Air menuju Bangkok. Kami mendarat di Don Mueang International Airport (DMK). Dari sini kami menunggu teman C, sebut saja si K yang warga asli Thailand untuk menemani kami selama di Thailand, namun ternyata K tidak bisa menemui kami siang itu karena alasan pekerjaan. Untungnya saya dan C sempat browsing transportasi umum dari DMK ke Khaosan Road, tempat hotel kami berada. Kami pun naik shuttle bus berlabel A2 bersama dengan para turis asing lain yang sepertinya memang searah dengan kami ke Khaosan Road, pusat backpacker Thailand. Sekedar info, terdapat dua shuttle bus yang berada di DMK di tahun itu yaitu shuttle bus A1 dan A2. 

Bis yang kami naiki waktu itu ternyata tidak langsung menuju Khaosan Road. Kami pun harus turun di halte Mo Chit yang letaknya tepat di sebelah tangga menuju Mo Chit BTS Station (semacam Skytrain) mencari bis tujuan Khaosan Road. Karena ini pengalaman pertama kami ke luar negeri tanpa ikut agen tur, kami pun harus bertanya kepada warga sekitar yang lalu lalang disekitar halte. Warga Thailand yang kami tanyai pun bermacam-macam mulai dari tukang ojek pengkolan (tukang ojek disana memakai seragam jaket oranye), pedagang asongan, dan berakhir di pekerja kantoran karena hanya orang ini yang paham maksud dan tujuan kami kenapa kami ada disini. Kami berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan seperti kebanyakan masyarakat Indonesia, warga Thailand pun masih banyak yang belum bisa berbahasa Inggris. Nah, setelah mendapat penjelasan dari mbak2 dan mas2 pekerja kantoran yang kami temui akhirnya kami berjalan turun ke bawah dan menunggu bis nomor 44 yang mengantar kami hingga ke dekat Khaosan Road tepatnya di Victory Monument. Oiya, nanti saya ceritakan soal transportasi di Thailand terutama bisnya karena selama di Thailand kami sering menggunakan moda transportasi ini :)

Sepanjang perjalanan saya melihat suasana jalan yang kami lalui. Suasana jalan raya layaknya di Jakarta yang khas dengan kendaraan bermotor dan gedung-gedung di kiri kanan jalan. Bedanya waktu itu di Thailand sudah ada skytrain sehingga banyak "rel melayang" di atas jalanan yang kami lewati. 

Perjalanan dari Mo Chit diperkirakan 15 menit, namun karena waktu itu sudah masuk masa orang-orang pulang kerja maka jalanan sudah mulai agak ramai sehingga sampai ke Victory Monument (monumen tempat kami turun dari bis no 44) ditempuh dalam waktu kurang lebh 1 jam. Dari situ kami melihat papan penunjuk jalan dan melihat bahwa jika kami hendak ke Khaosan Road kami harus menyeberang jalan. Tidak berapa lama kemudian kami sudah masuk ke Khaosan Road, kawasan backpacker di Thailand...

Kamis, 19 Februari 2015

Sebelum Melancong ke negeri Gajah Putih


 Bagi yang mau liburan/merencanakan liburan di Thailand, aku ada sedikit info nih, smoga bisa membantu :)
  • Bahasa dan aksara: 
Bahasa dan aksara resmi negara ini adalah bahasa Thai, tapi bahasa Inggris umum dipake dalam dunia pariwisata disini.
  • Mata uang: 
Thailand Baht (THB). 1 THB= +/-Rp. 350 atau tergantung kurs. Nuker mata uang bisa dilakuin di Bank Sentral/bank2 yang ada tulisan "currency converter". Sepengetahuanku, bank2 di Bangkok yang aku liat bisa buat nuker mata uang. Atau kalau ga pas di airport banyak banget currency converter tapi biasanya harganya lebih mahal daripada nuker di bank.
  • Zona waktu: 
Sama dengan di Indonesia bagian barat/WIB
  • Visa: 
Semua negara ASEAN bebas visa buat WNI. Batas waktu biasanya max. 30 hari. Ada juga yang hanya 15 hari jika masuk via darat.
  • Transport:
# Indonesia-Thailand 
  1. Dari Jakarta bisa naik GIA, Thai Airways, Air Asia, Tiger Air, Singapore Airlines, dan Lion Air. Tiket PP normal sekitar 3 jutaan dengan durasi terbang 2 jaman lebih.
  2. Selain Jakarta bisa juga dari Denpasar pake Thai Airways/Air Asia. Durasi terbang 3 jam-an lebih lah dengan harga tiket PP >3 juta. 
Bangkok punya 2 int. airport: Don Mueang dan Suvarnabhumi. Don Mueang dikhususin buat budget airlines macam Air Asia, Lion Air dkk sama maskapai domestik Thailand, Nok Air. Kalau Suvarnabhumi khusus untuk jalur internasional dan non budget airlines. 2 airport ini dihubungkan sama shuttle bus yang berangkat tiap 30 menit dengan waktu tempuh +/- 45 menit dan gratis buat calon penumpang dengan nunjukin bukti tiket pesawat.

Kalau pengen dapet tiket lebih murah bisa cari tiket promo dengan sering2 liat tiket promo OL. Nah, kemaren sempet liat promo Jakarta-Bangkok PP cuma 1,3 juta loh! Mayan kan...
# Airport-dalam kota
Di Bangkok ada 3 terminal bis: Ekamai (terminal bis timur), Mochit (terminal bis utara) dan Sai Thalling Chan (terminal bis selatan). Bangkok juga punya stasiun utama Hualampong dan hanya ada satu stasiun utama itu di Bangkok. Ada juga Bangkok Sky Train (BTS) yaitu jalur kereta yang dibangun di atas jalan raya dan punya 2 jalur: Siam Line (barat-selatan) dan Sukhumvit Line (timur ke Mochit di utara). Kedua jalur ini ntar ketemu di Stasiun Siam. Tarifnya THB 15-42 dengan jam operasi pukul 06.30-24.00. Ada juga Mass Rapit Transit (MRT)/Subway/kereta bawah tanah yang hanya ada 1 jalur aja. Tarifnya THB 16-40 dengan jam operasi sama kayak BTS. BTS sama MRT dibangun buat mengantisipasi kemacetan di Bangkok.

Tiket buat BTS/MRT bisa dibeli di mesin tiket yang tersedia dan alhamdulillah ada pilihan bahasa Inggrisnya :) O iya ada 2 macam tiket: Single Journey Ticket sama One Day Pass. SJT hanya bisa dipake di hari itu aja. Nah, kalau mau kemana2 pake BTS/MRT bolak-balik mending pake yang ODP.
  1. Dari Suvarnabhumi:
    ^  Bis umum dengan tarif THB 35
    ^ Airport rail link THB 45 ke stasiun BTS Phaya Thai trus sambung lagi pake BTS ke itinerary tujuan.
    ^ Taksi. Biasanya dari airport harga borongan +/- THB 500 udah termask surcharge
  2. Dari Don Mueang: 
^ Airport bus THB 30
^ Taksi ke BTS Mochit THB 100. Kalau sesuai argo ke dalam kota sekitar THB 200.
^ Kereta ke Stasiun Hualampong kelas 1 tarifnya THB 21, kelas 2 THB 11 dan kelas 3 THB 5
  • Tips
  1. Kalau mau pergi2 jarak dekat dan ber-4 lebih baik naik taksi, soalnya tarif jarak dekat biasanya minta borongan THB 100. Kalau pake argo ga bakal lebih dari THB 100, lebih irit daripada naik BTS/MRT. Bisa juga naik bis kota ber-AC THB 10-25, non AC THB 10. 
  2. Bagi yang pengen nyoba transportasi khas Thailand bisa naik tuktuk dengan tarif THB 50-100 (bisa nego) untuk jarak dekat. 
  3. Nah, kalau kami dulu city tour pakai mobil van yang muat sampe 8 orang. Kalau rombongan banyak lebih nyaman naik mobil van deh. Harga sewa+supir+BBM keliling Bangkok +/- THB 800-1600 tergantung jaraknya.
  4.  Thailand beriklim tropis kayak Indonesia. Kapan aja mau kesana nggak masalah buat orang Indonesia. Untuk cuaca dan iklim, bulan Nopember-Pebruari udara biasanya agak dingin daripada biasanya. Bulan Maret-April berhawa  panas dan musim hujan biasanya ada di bulan Mei-Oktober. 
Yup, itu dia infonya, ga banyak sih, tapi moga aja bisa bantu bagi yang mau melancong ke sono :)

Minggu, 21 September 2014

Get Stranded in Bangkok (3): Pending Lagi Deh

Ini masih kelanjutan yang kemaren. Sembari menunggu pagi kami tiduran, ngemil sama nonton TV. Macem orang males aja nih kami, hahaha. Lah abisnya emang ga ada aktifitas penting lain. Ya karena emang kami ga ada maksud dan tujuan kesono (Bangkok). Pas itu aku iseng foto2 makanan (aku nyebutnya dish) yang kami bawa dari Solo (karena emang ga ada kerjaan sih...)

50. Camilan seadanya

Abis sholat subuh berjamaah, muncul rasa ingin tauku pengen liat suasana Bangkok di pagi hari kayak apa. Apakah macet kayak Jakarta atau gimana. Aku yang pas duduk di sebelah jendela langsung buka tirai dan seperti inilah Bangkok in the morning.

 51. Bangkok in the Morning






52. Pagi Berkabut di Bangkok

Sebenernya ga terlalu beda dengan Jakarta sih... cuma disini mungkin ga sepadet ibukota Indonesia tercintah dan pengguna jalan bener2 tertib lalin. Macet pun ga berjam2 kayak di Jakarta. Transportasi umum juga banyak, tapi lebih nyaman ketimbang di negeri sendiri.

Oke, mari kembali ke topik. Jadi hari itu rencananya kami akan ke Suvarnabhumi lagi buat berangkat ke Tanah Suci. Hari itu juga pihak biro berjanji akan datang ke Suvarnabhumi bareng sama jamaah yang "tertinggal" di Jakarta, termasuk ayah. Akhirnya setelah sarapan pagi, kami dipandu Sam, pemandu kami disana untuk menuju bus dan otw Suvarnabhumi. Lets go!

Sampai di Suvarnabhumi Sam pun pamit dan bilang kalau nanti pihak biro akan datang. Sam pun menghilang diantara kerumunan orang banyak. Waktu terus berjalan dan ga ada tanda2 kedatangan jamaah dari Indonesia. Kami pun mulai bingung. Tiba2 ada telpon dari biro dan mengatakan sebagian (besar) dari kami harus berangkat duluan. Otomatis rombongan kami terbagi lagi jadi 2 rombongan yang ga sama besar. Banyak jamaah yang emosi dan mungkin kecewa karena ada beberapa dari anggota keluarga mereka terpisah karena ga bisa berangkat bareng. Tapi mau gimana lagi, tiket udah dipesan dan akhirnya rombongan tadi berangkat duluan. Tapi aku masi bersyukur karena aku, ibu dan adek ga terpisah. Bayangin aja kalau misal kami 1 keluarga terpisah berangkat ke Tanah Suci. Terpisah di Bangkok aja udah ga enak. Apalagi di sana ya? 

Keadaan diperparah dengan salah 1 ibu rombongan kami yang marah2 karena dia merasa ditipu oleh biro. Dia mau lapor ke pihak keamanan bandara. Kami yang liat langsung berbisik ngucap istighfar. Lalu beberapa rombongan kami (termasuk ibu) berusaha nenangin tu ibu2. Akhirnya emosi dapat diredam. Tapi, si ibu tadi tetep ngeyel dan berusaha ngehubungin kabiro kami di Jakarta. Dia lalu bawa aku (karena dari rombongan kami yang lancar bahasa Inggris cuma aku) ke pihak2 yang ada di airport. mulai dari security, informasi, sampai ke money changer karena dia pengen telpon kabiro. Di Suvarnabhumi ada telpon koin so kita kudu tuker rupiah ke baht dalam bentuk receh. 

Akhirnya si ibu tadi capek sendiri dan kembali duduk di bangku tempat kami kumpul. Beberapa jamaah kembali nenangin dan nyuruh si ibu buat istighfar. Aku, ibu dan adek alhamdulillah ga terpengaruh sama sikap si ibu tadi. Aku sendiri yakin, haqqul yaqin malah, kalau Allah memang mengundang kami ke Baitullah namun dengan sedikit ujian macam ini. Aku ingat ada ayat AQ yang bilang kalau kita tidak boleh putus asa dari rahmatNya. Dan itu terbukti kami bisa ke Tanah Suci (baca postingan2 yang dulu2 yaa :))

Aku lalu coba telpon ayah via ponsel namun ga ada jawaban. Akhirnya dengan modal koin baht yang aku punya, aku sama salah satu rombongan kami, sebut saja Pak K menuju telpon umum dan coba telpon ayah dan kabiro. Pun ga nemu hasil apa2. Waktu jalan terus dan aku sama Pak K masih berkutat dengan koin dan telpon umum. Akhirnya kami kembali ke bangku dan bilang kalau kabiro ga bisa dihubungi. Aku nangkep muka2 kecewa dari para jamaah. Kami sedang diuji. Tapi ga lama kemudian ada pesan masuk di ponselku. Ternyata salah seorang dari biro mengabarkan kalau rombongan Jakarta (termasuk ayah) sudah sampai di Bangkok via di Don Mueang Airport. Kami lalu ngucap syukur dan nunggu kedatangan mereka. 





Selasa, 16 September 2014

Get Stranded in Bangkok (2): @Suvarnabhumi-Hotel

2 jam yang kami lalui sejak dari Jakarta akhirnya nganter kami di Suvarnabhumi International Airport. Begitu turun pesawat, jamaah pada bingung. kami ga tau kemana dan ga tau apa yang harus kita lakuin, karena emang ga ada rencana kesini dan ga ada satu pun orang yang kami kenal.

Tiap penumpang yang turun di terminal kedatangan luar negeri akan dikasih formulir imigrasi yang harus diisi dan diserahin bareng sama paspor sebelum ambil bawaan dari bagasi. Waktu itu kami bingung karena disitu tertulis dimana dan selama berapa hari kami akan stay di Thailand. Dan dengan "jujur" kami isi dengan keadaan kami sebenarnya. petugas yang bantu kami maklum juga kali ya...ngeliat rombongan kami banyak yang lansia dan dikit banget yang bisa basing, heuheu...

Pengecekan dokumen keimigrasian selesai. Sekarang yang bikin kami bingung adalah di airport yang seluas dan semodern ini siapa yang akan kami temui? Para ibu mulai panik karena kata kabiro sebelum kami berangkat kami akan ketemu guide yang akan antar kami ke hotel. Tapi kami belum ketemu sama si guide itu. Alhasil muter2lah kami di pelataran Suvarnabhumi yang luassss (Soetta kalah banget deh...) hingga akhirnya datang seorang lelaki tambun yang ajak kami semua masuk bis untuk dibawa ke hotel.

 44. Eksterior Suvarnabhumi (1)

45. Eksterior Suvarnabhumi (2)
o iya, FYI, di Thaiand kalau ke toilet jangan kaget ya karena ga disediain air buat cebok. Kita hanya akan nemu tisu gulung di tembok pembatas toilet satu dengan lainnya karena disini nerapin sistem toilet kering. Ada sih air, cuma di toilet buat difabel yang biasanya ada di paling ujung dan hanya disediain 2 toilet. Buat kami sebenernya risih dengan sistem macam itu. Makanya ada jamaah kami yang bawa tisu basah/air mineral buat bersih2. Karena dalam Islam yang namanya bersuci (dalam hal ini istinja') itu ya pakai air. Kalau ga ada bisa pakai yang lain macam tisu, dll.

Di bis, laki2 yang ngaku namanya Sam yang asli Malay beristrikan orang Thai ini ngenalin dirinya. Dia guide yang diutus biro umrah kami buat anter kami sampai hotel. Suasana pun jadi damai lagi karena kami ngerasa udah ada di "jalur" yang bener. Sepanjang jalan para jamaah mulai akrab dan tanya jawab seputar Thailand sama Sam. Aku dan adek yang duduk pas di belakang sopir sibuk sendiri ambil gambar pemandangan Bangkok yang mirip banget sama Jakarta. Bedanya disini lebih banyak jembatan layang, lebih teratur dan ga ada macet. Ada sih, cuma ga separah kayak di Jakarta. Meski udah ngerasa rada lega tapi aku sekeluarga tetep inget ayah yang masih di Jakarta dan berharap segera kumpul lagi. Entah hari ini atau besok. Ibu pun langsung telpon ayah dan ayah bilang sore itu akan terbang ke Bangkok.

Ini beberapa pemandangan Bangkok yang aku ambil untuk pertama kalinya

46. Baru Keluar dari Suvarnabhumi

47. Jalanan Menuju Pusat Kota

Perjalanan airport-hotel makan waktu lumayan lama. 1-2 jam kali ya kalau dikira-kira. Ga trlalu meratiin waktu pas itu. Jelasnya sampai hotel udah menjelang magrib. Dan akhirnya sampailah kami di hotel. Pas itu kita nginep di Mercure, tepat di pusat kota. Seberang hotel ada Central Plaza, salah satu mall di Bangkok. Nah, ngomong2 soal mall, disana ga terlalu banyak dibangun. Ga kayak Indonesia (baca: Jakarta) yang mallnya bejibun sampai 200an lebih katanya.

Abis check-in dan masuk kamar masing2 (kami sekeluarga kecuali ayah) jadi 1 kamar. 1 kamar biasanya diisi 2 orang) aku naruh ransel dan barang2 bawaan trus observasi kamar. Luas dan interiornya bagus dan terlalu mewah untuk ukuran backpacker, ha3...  tapi aku bersyukur karena perjalanan transit di pusat kota selama 1 malam ini bisa bikin aku betah duduk. Ya. Karena begitu aku buka tirai yang nutupin jendela, Subhanallah, aku bisa liat view Bangkok dengan gedung2 tingginya, kendaraan yang lalu lalang di jalanan, lampu2 kota yang kelip2 dan berpendar sampai perkampungan penduduk di pinggiran kota yang masih banyak tersedia lahan kosong. Ga macam Jakarta (bandingin sama Jakarta lagi deh aku :D) yang udah susah banget nemuin lahan kosong. View inilah yang bikin aku betah duduk di depan jendela dari ba'da sholat maghrib, makan malam hingga mau tidur. dan pemandangan ini yang akan aku liat sampai esok hari. Ga lupa aku ambil camding dari ransel dan took some pictures of it.

48. Bangkok at the Night

49. Lampu yang Berpendar. Mirip Huruf Thai Ga Si?

Ok, saatnya istirahat ngumpulin tenaga buat esok dan berharap semuanya fine.


Kamis, 21 Agustus 2014

Get Stranded in Bangkok: Pisah Sama Ayah

Yup. We get stranded in Bangkok. jadi kisah bemula pas kami jamaah umrah transit di Jakarta untuk kemudian terbang ke Jeddah. Tapi ternyata Allah menghendaki kami transit juga di Bangkok selama (katanya) 1 hari baru bisa ke Jeddah. Jumlah total rombongan kami kalau ga salah ada 24 orang. Sebelumnya udah ada jamaah umrah yang berangkat duluan tanggal 25 Juni, 1 hari sebelum kami yang berangkat dari Jakarta ke Jeddah tanpa transit.

Pagi tanggal 26 Juni kami otw ke Soekarno-Hatta International Airport (Soetta). Alhamdulillah jalanan ga macet pas itu. pesawat ke Bangkok tiba siang. Sementara itu kami di airport nyiapain semua kelengkapan pejalanan kami sembari nunggu siang. Lalu siangpun datang dan kami mulai bergerak untuk check-in. Kami pikir kami bisa barengan ke Bangkok. tapi ternyata jamaah kami ini masih dibagi lagi jadi 2 kloter tanpa sepengetahuan para jamaah. dan malangnya aku, ibu dan adek ga 1 kloter sama ayah. Saat itu juga ayah langsung menanyakan ke kabiro. Karena ga dapet jawaban yang jelas akhirnya ayah datengin petugas yang ngurusin keberangkatan ke Bangkok jam itu. ternyata hasilnya sama aja, gaje alias gajelas. akhirnya ayah nyimpulin sendiri kalau ada sesuatu yang ga beres dan ditutupi sama biro ini. tapi Alhamdulillah ayah tetep berusaha khuznudzon. Cuma ayah berusaha caritau sendiri jawabannya. dan akhirnya ayah nemu benang merah dari semua masalah ini. Mau tau? Oke2... sabar, aku posting ntar deh.

Kami sekeluaga ga bisa pergi tanpa ayah. Secara ayah tu imam kami. Masak kami pergi tanpanya. Lagian dari keluarga kami dan jamaah umrah ini ayahlah yang paling pengalaman keluar negeri dan urusan tetek bengeknya. Jamaah merasa iba dengan kami. Mereka udah mulai menuju pesawat sedangkan kami bertiga masih nunggu ayah "berdiplomasi" sama petugas biar kita bisa berangkat 1 keluarga. Tapi Allah ga izinkan kami berangkat bareng. akhirnya ayah berangkat sama kloter 2 (termasuk kabiro) dan kami bertiga dengan berat hati berpisah dengan ayah dan segera berlari menuju pengecekan tiket dan selanjutnya lari lagi menuju pesawat. Alhamdulillah kami belum ketinggalan.

Sampai di dalam pesawat pun kami duduk terpisah dan ga jadi 1 sama adek dan ibu. itu aku sadari abis baca nomor kursiku yang jauh angkanya dengan punya ibu dan adek. Dan ternyata sebagian besar jamaah juga gitu. Tapi Alhamdulillah lagi aku sebelahan sama pasutri yang juga rombongan umrah kami. Mereka juga merasa iba atas terpisahnya kami dari ayah. Selama di pesawat selain ngobrol sama pasutri ini, aku berdoa biar cepet sampai Bangkok dengan selamat dan ketemu ayah disana lalu kami dan jamaah berangkat ke Tanah Suci dengan selamat pula.

Mungkin para penumpang lain pada heran liat kami. Kami kayak rombongan tur dengan baju bercorak sama yang mau piknik ke Thailand yang para wanitanya berhijab besar dan kebanyakan adalah para lansia. Whatever lah. Yang penting tujuan utama kami bukan kesana, tapi ke Tanah Suci.


Minggu, 06 Juli 2014

Pengalaman Unik di Corniche


Ga terasa udah 1 taun dari Tanah Suci. Waktu itu cepet banget jalannya. Aku inget kami pulang dari sana akhir bulan Sya’ban atau awal Juli dalam hitungan masehi saat itu. Perjalanan jarak jauh Madinah-Jeddah akhirnya terlewati. Saat itu hari sudah masuk malam. Sebelum menuju King Abdul Aziz International Airport, kami menuju sebuah kawasan perbelanjaan di daerah Corniche. Namanya diambil dari istilah Perancis yang artinya jalan pantai karena emang ada di pinggir Laut Merah (ingat postingan sebelumnya kalau Jeddah ada di pinggir Laut Merah). Kawasan ini rame banget apalagi di malam hari karena selain jadi kawasan perbelanjaan juga banyak ditemui hotel sama rumah makan dan lagi saat itu terus dibangun tempat2 sejenis. Banyak banget orang2 yang meluangkan waktunya buat makan, belanja, atau sekadar jalan2. Di pinggir jalan berjajar toko2 sovenir khas Timur Tengah. Memang, kawasan ini biasa dikunjungi para jamaah haji/umrah untuk membeli berbagai macam buah tangan buat dibawa pulang untuk famili dan teman2 mereka di tanah air.

Ada sebuah toko yang cukup ramai karena katanya itu toko ngejual barang2 khas Timur Tengah dengan harga miring daripada toko2 lainnya. Rombongan kamipun masuk. Ternyata para pegawai di toko itu kebanyakan dari Indonesia, pun toko2 sebelahnya. Di toko yang aku sambangi itu ternyata kepunyaan orang Indonesia yang nikah sama warga negara Bangladesh dan menetap disana. Makanya 95% pegawainya berasal dari Indonesia.

Nah, mau tau pengalaman unik yang aku alami? Oke. Jadi ceritanya bermula pas aku masuk salah 1 toko sovenir haji/umrah dan aku tertarik liat barang2 yang dijual disana. Pas itu ada salah 1 pegawai yang nyamperin aku. Dengan ramah dia nyapa dan nawarin barang2 disitu. Aku kira dia orang Arab asli yang fasih banget berbahasa Indonesia. Sambil liat2 barang2 yang dijual disana dia sempat bertanya darimana kami berasal. Aku yang merasa ditanya saat itupun menjawab kalau kami dari Solo. Abis denger jawabanku, pegawai toko tadi spontan langsung menjawab bahwa dia juga dari Solo yang udah lama kerja di Jeddah. Yaaa... sekitar 5 menit lah dari rumahku. Jadi ceritanya aku ketipu karena ngeliat ciri fisiknya yang memang dia orang keturunan Arab, tapi ternyata dia orang Solo keturunan Arab, bukan orang berkewarganegaraan sana, hehe. Nah, karena sama2 orang Solo, nyambunglah kita. Dan tambah nyambung ketika si mas pegawai tadi bertanya dimana dulu aku sekolah. Aku jawab aku pernah sekolah di SMA Al-Islam 1 Surakarta (alumni yang baik sekalian promosi sekolahnya di blog yaa :D). Dan ternyata kami berasal dari sekolah yang sama! Ga sampe disitu, mas pegawai yang lulus SMA di taun 99 itu ternyata masi inget nama guru2 kami. Dia dengan lancar nyebutin satu2 guru2 SMA kami. Kalau ada pemilihan alumni teladan mungkin masnya ini bisa jadi kandidat kuat deh. Jadi kami malah kayak nostalgia zaman2 SMA dulu. Cerita2 waktu kami masih SMA dulu. Tentunya di masa sekolah kami masing2. aku berasa ketemu keluarga sendiri di Jeddah. MasyaAllah... dunia jadi berasa sempit kalau kayak gini.

Waktu kami berkeliling pun abis. Kami pun menuju bus untuk menuju ke airport dengan barang belanjaan masing2. Sekali lagi, rasanya berat ninggalin Tanah Suci meski kami udah ada di Jeddah. Buatku, pengalaman umrah ini adalah pengalaman yang terunik yang pernah aku alami dalam hidup. Mulai dari perjalanan yang penuh kejutan, ibadah umrahnya yang penuh kejutan, sampe kejutan ketemu kakak (tepatnya sesepuh) kelas ini. Dan kejutan2 ini bukan kebetulan. Karena buatku ga ada yang namanya kebetulan. Semua hal udah Allah rancang. Allah udah merencanakannya buatku, keluargaku, rombongan umrah kami dan buat orang2 yang berhubungan dengan kami semuanya. Begitupun waktu kami pulang nanti. Semuanya saling terkait.
Perjalanan yang jauh terlewati dan sampailah kami di King abdul Aziz International Airport, bandara khusus jamaah haji/umrah. Sekali lagi aku sebenernya enggan gerakin badan, jalan dan turun dari bis. Apalagi sebelumnya muthawif kami udah pamitan duluan. Tapi emang udah saatnya aku balik. Ransel udah digendong, dan siap2 turun. Aku selalu berharap suatu saat nanti aku akan kembali ke Tanah Suci. Bukan Cuma untuk umrah, tapi juga haji, amien...

Rabu, 04 Juni 2014

Menyambangi Lagi "Nenek Moyang" Sebelum Pulang

Perjalanan menuju Jeddah dari Madinah ditempuh selama 457 km dalam waktu 5-6 jam. Aku, masih aja ngrasa ga mau ninggalin Madinah. Pas angkat ransel dan masuk ke bis pun rasanya ga semangat. Aku ngerasa hatiku terpaut disana. Bahkan aku masi belum percaya kalau hari ini aku harus cuss menuju Jeddah dan balik ke Bangkok. Mungkin banyak atau bahkan pada ga tau kalau aku sampe nangis pas bus mulai jalan pelan ninggalin hotel. Untuk kesekian kalinya aku berdoa semoga aku bisa kembali ke Tanah Suci lagi. Aku bener2 kangen kesana lagi :’)

Perjalanan yang kami lalui memang lumayan jauh. Tapi ini ga seberapa kalau dibandingin sama haji/umrahnya orang2 zaman dulu. Kalau zaman sekarang orang2 bisa dengan mudahnya ke Tanah suci pake pesawat, di zaman kakek buyutnya ayah ga kayak gini. Aku inget cerita ayah waktu kakek buyutnya ayah (ya aku juga termasuk cucunya :D) pergi haji. Beliau jauh2 bulan bahkan mungkin setaun sebelumnya udah persiapan. Ga Cuma dari segi finansial aja tapi juga bekal bahan makanan, obat2an dan sebagainya. Karena zaman itu belum ada pesawat makanya para jamaah haji naik kapal kesana. Transit di ujung Aceh baru lanjutin perjalanan ke Tanah Suci. Itulah sebabnya Aceh kondang namanya sebagai serambi Makkah. Nah, kalau zaman sekarang kita naik pesawat dari Jakarta ke Jeddah kira2 8 jam aja, orang2 zaman dulu naik kapal berbulan2. Kata kakek beliau menempuh perjalanan kira2 3 bulan. Bener2 perjuangan yang hebat menuju Tanah Suci memenuhi panggilanNya sekaligus menengok kampung halaman.

Oke, sebelum cerita perjalanan menuju Jeddah, aku mau cerita soal sejarah kota ini dulu.  Kota yang punya sebutan The Bride of Red Sea (ratu Laut Merah) ini ada di barat Arab Saudi dengan luas +/- 1200 km2 dan garis pantainya sepanjang 80 km2. Sebenernya, Jeddah udah diakui keberadaannya sejak kurang lebih 2500an taun lalu pas masi jadi desa kecil dengan penduduknya yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Karena lokasinya yang strategis makanya desa itu berkembang dan berubah jadi pusat perdagangan antara negara2 Mediterania dan negara2 timur. Nah, taun 647 M Khalifah Utsman bin Affan menyatakan Jeddah sebagai pintu masuk resmi ke Makkah. Jeddah makin berkembang jadi pusat dagang dan menarik Portugis yang udah siap buat nyerbu Jeddah taun 1516. Tapi Jeddah yang saat itu dikuasai Kesultanan Ottoman ga nyerah. Raja lalu ngebangun benteng ngelilingin Jeddah dengan 4 pintu. Meski dibalik benteng besar tapi Jeddah terus berkembang cepet dan ga nerima perwakilan negara2 Eropa.  Baru di tahun 1825 masih di bawah kuasa Turki Ottoman barulah Jeddah nerima perwakilan dari Eropa yaitu Prancis dan Inggris. Maka saat itu Jeddah disebut Bilad al Kanasil (The City of Consulates). Sekarang dikenal juga dengan sebutan al-Balad atau Balad (negeri) yang identik sama kawasan Old Jeddah yang juga sering diidentikkan sebagai pusat belanja disana. Setelah Kesultanan Turki Ottoman runtuh di tahun 1915, benteng yang ngelilingin Jeddah pun runtuh. So sad...

O iya, Jeddah berasal dari kata jaddah (nenek moyang, baca: makam nenek moyang). Bisa juga berarti tepi pantai/sungai diantara 2 gunung. Namun kini lebih diartikan sebagai nenek moyang. Kenapa? Karena disini menurut ulama dan arkeolog disinilah Hawa hidup abis dipisahin Allah sama Adam dari surga. Dan di Jeddah inilah Hawa wafat dan dimakamkan. Nah, di banyak cerita katanya makam Hawa tingginya sampe 145 m. Konon, beliau bertubuh tinggi. Bahkan tempat terdalem di Laut Merah Cuma selututnya doang, MasyaAllah... Makam Hawa dulu ditandai dengan tugu. Tapi karena banyak orang yang berlaku syirik disitu makanya pemerintah Arab Saudi ngrobohin tugu tadi. Dan kini yang keliatan Cuma tanah lapang kosong yang dikelilingi pagar tembok.

Jeddah selain sebagai pusat perdagangan tapi juga sebagai gerbang utama ke Makkah dan Madinah baik via Jeddah Islamic Port yang dikenal sebagai pelabuhan tertua atau King Abdul Aziz Int. Airport yang diresmiin taun 1981 sama Raja Khalid. Jeddah juga jadi terminal akhir kepulangan jamaah haji/umrah (Madinatul Hujaj).
Itu dia sekilas tentang Jeddah. Aku ada cerita seru yang mau dibagiin. Apa itu? Tunggu di postingan selanjutnya :D

Sabtu, 31 Mei 2014

Madinah Selalu Bikin Kangen

Rasanya kayak ga mau ninggalin kota ini. Emang si kata orang2 yang udah pernah kesini bilang pasti pengin balik lagi, baik Makkah maupun Madinah. Karena aku ada di Madinah saat itu, aku ngerasa kayak ga mau keluar dari kota itu. Aku selalu berdoa biar aku bisa balik lagi kesana.Robb... I miss Holly Land :’)

Di Madinah selain Masjid Nabawi, Masjid Quba dan kebun sama pasar kurma para jamaah juga bisa liat Jannatul Baqi (makam Baqi) yang disitu dimakamkan Fatimah putri Rasulullah dan istri2 Rasulullah selain ada juga pemakaman umum disitu. Ada Masjid Qiblatain atau masjid dua kiblat. Dinamain gitu karena ni masjid punya 2 mihrab. Jadi dulu Allah memerintahkan ngubah arah kiblat yang awalnya dari Baitul Maqdis di Jerusalem jadi ngadep ke Masjidil Haram di Makkah melalui Jibril  buat nyampein ke Rasulullah. Pas Rasulullah SAW lagi sholat asar (riwayat lain lagi sholat dhuhur) berjamaah turun wahyu ini. Segera Rasulullah berhenti sholat trus memutar 180 derajat ngadep ke arah Masjidil Haram bareng2 sama jamaahnya. Nah, dulunya ni masjid namanya Masjid Bani Salamah. Ada juga rumah Ali bin abi Thalib yang letaknya dibelakang Masjid Quba, Masjid Fadikh yang letaknya di timur Masjid Quba. Namanya diambil dari pohon palem yang pernah tumbuh disitu. Selain itu juga ada Sab’a Masajid (tempat 7 masjid) yang katanya tinggal 5: Masjid Ali, Masjid Fatima, Masjid Fath, Masjid Salman al-Farisi, dan Masjid Umar. Masjid Fath letaknya di puncak gunung. Nama Fath (kemenangan) diambil dari kemenangan muslim dalam perang Khandaq. Saat itu Rasulullah SAW berdoa buat kemenangan muslim di lokasi ini.
Sebelum ninggalin Madinah aku sempetin buat ambil beberapa gambar. Ini aku ambil pas otw menuju hotel abis city tour.

 39. Bukit batu pinggir jalan menuju Madinah

40. Pemukiman penduduk dengan pegunungan terbentang dibelakangnya dan padang pasir didepannya


41. Salah satu sudut Kota Madinah

Pas nulis ini aku inget, mulai dari masukin barang ke hotel, menuju Masjid Nabawi, sholat sama doa di Raudhah, jalan2 keliling kota, trus beli oleh2. O iya sebelum barang2 di pack sama ayah, aku sempet beli beberapa buah tangan buat sodara sodari sama temen2 di Indonesia. Sebelumnya aku udah buat list nih sapa aja yang bakalan aku kasi. Mulai dari temen sd, smp, sma, kuliah, karate, temen kerja sampe kenalan2 aku, he3... Tinggal turun dari kamar hotel trus puter2 di lantai dasar hotel. Banyak banget yang jual oleh2 haji/umroh. Hampir semua malah. Dan kebanyakan penjualnya bisa bahasa Indonesia. Abis berburu buah tangan aku yang pas itu beli sama ibu langsung naik ke kamar buat bantu packing barang2 karena siang nanti kami akan ninggalin Madinah menuju King Abdul Aziz Airport di Jeddah abis masukin bawaan di ransel.

Postingan Populer

Sesame Street Elmo 2