Translate This Article

Tampilkan postingan dengan label haji. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label haji. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Juli 2014

Pengalaman Unik di Corniche


Ga terasa udah 1 taun dari Tanah Suci. Waktu itu cepet banget jalannya. Aku inget kami pulang dari sana akhir bulan Sya’ban atau awal Juli dalam hitungan masehi saat itu. Perjalanan jarak jauh Madinah-Jeddah akhirnya terlewati. Saat itu hari sudah masuk malam. Sebelum menuju King Abdul Aziz International Airport, kami menuju sebuah kawasan perbelanjaan di daerah Corniche. Namanya diambil dari istilah Perancis yang artinya jalan pantai karena emang ada di pinggir Laut Merah (ingat postingan sebelumnya kalau Jeddah ada di pinggir Laut Merah). Kawasan ini rame banget apalagi di malam hari karena selain jadi kawasan perbelanjaan juga banyak ditemui hotel sama rumah makan dan lagi saat itu terus dibangun tempat2 sejenis. Banyak banget orang2 yang meluangkan waktunya buat makan, belanja, atau sekadar jalan2. Di pinggir jalan berjajar toko2 sovenir khas Timur Tengah. Memang, kawasan ini biasa dikunjungi para jamaah haji/umrah untuk membeli berbagai macam buah tangan buat dibawa pulang untuk famili dan teman2 mereka di tanah air.

Ada sebuah toko yang cukup ramai karena katanya itu toko ngejual barang2 khas Timur Tengah dengan harga miring daripada toko2 lainnya. Rombongan kamipun masuk. Ternyata para pegawai di toko itu kebanyakan dari Indonesia, pun toko2 sebelahnya. Di toko yang aku sambangi itu ternyata kepunyaan orang Indonesia yang nikah sama warga negara Bangladesh dan menetap disana. Makanya 95% pegawainya berasal dari Indonesia.

Nah, mau tau pengalaman unik yang aku alami? Oke. Jadi ceritanya bermula pas aku masuk salah 1 toko sovenir haji/umrah dan aku tertarik liat barang2 yang dijual disana. Pas itu ada salah 1 pegawai yang nyamperin aku. Dengan ramah dia nyapa dan nawarin barang2 disitu. Aku kira dia orang Arab asli yang fasih banget berbahasa Indonesia. Sambil liat2 barang2 yang dijual disana dia sempat bertanya darimana kami berasal. Aku yang merasa ditanya saat itupun menjawab kalau kami dari Solo. Abis denger jawabanku, pegawai toko tadi spontan langsung menjawab bahwa dia juga dari Solo yang udah lama kerja di Jeddah. Yaaa... sekitar 5 menit lah dari rumahku. Jadi ceritanya aku ketipu karena ngeliat ciri fisiknya yang memang dia orang keturunan Arab, tapi ternyata dia orang Solo keturunan Arab, bukan orang berkewarganegaraan sana, hehe. Nah, karena sama2 orang Solo, nyambunglah kita. Dan tambah nyambung ketika si mas pegawai tadi bertanya dimana dulu aku sekolah. Aku jawab aku pernah sekolah di SMA Al-Islam 1 Surakarta (alumni yang baik sekalian promosi sekolahnya di blog yaa :D). Dan ternyata kami berasal dari sekolah yang sama! Ga sampe disitu, mas pegawai yang lulus SMA di taun 99 itu ternyata masi inget nama guru2 kami. Dia dengan lancar nyebutin satu2 guru2 SMA kami. Kalau ada pemilihan alumni teladan mungkin masnya ini bisa jadi kandidat kuat deh. Jadi kami malah kayak nostalgia zaman2 SMA dulu. Cerita2 waktu kami masih SMA dulu. Tentunya di masa sekolah kami masing2. aku berasa ketemu keluarga sendiri di Jeddah. MasyaAllah... dunia jadi berasa sempit kalau kayak gini.

Waktu kami berkeliling pun abis. Kami pun menuju bus untuk menuju ke airport dengan barang belanjaan masing2. Sekali lagi, rasanya berat ninggalin Tanah Suci meski kami udah ada di Jeddah. Buatku, pengalaman umrah ini adalah pengalaman yang terunik yang pernah aku alami dalam hidup. Mulai dari perjalanan yang penuh kejutan, ibadah umrahnya yang penuh kejutan, sampe kejutan ketemu kakak (tepatnya sesepuh) kelas ini. Dan kejutan2 ini bukan kebetulan. Karena buatku ga ada yang namanya kebetulan. Semua hal udah Allah rancang. Allah udah merencanakannya buatku, keluargaku, rombongan umrah kami dan buat orang2 yang berhubungan dengan kami semuanya. Begitupun waktu kami pulang nanti. Semuanya saling terkait.
Perjalanan yang jauh terlewati dan sampailah kami di King abdul Aziz International Airport, bandara khusus jamaah haji/umrah. Sekali lagi aku sebenernya enggan gerakin badan, jalan dan turun dari bis. Apalagi sebelumnya muthawif kami udah pamitan duluan. Tapi emang udah saatnya aku balik. Ransel udah digendong, dan siap2 turun. Aku selalu berharap suatu saat nanti aku akan kembali ke Tanah Suci. Bukan Cuma untuk umrah, tapi juga haji, amien...

Rabu, 04 Juni 2014

Menyambangi Lagi "Nenek Moyang" Sebelum Pulang

Perjalanan menuju Jeddah dari Madinah ditempuh selama 457 km dalam waktu 5-6 jam. Aku, masih aja ngrasa ga mau ninggalin Madinah. Pas angkat ransel dan masuk ke bis pun rasanya ga semangat. Aku ngerasa hatiku terpaut disana. Bahkan aku masi belum percaya kalau hari ini aku harus cuss menuju Jeddah dan balik ke Bangkok. Mungkin banyak atau bahkan pada ga tau kalau aku sampe nangis pas bus mulai jalan pelan ninggalin hotel. Untuk kesekian kalinya aku berdoa semoga aku bisa kembali ke Tanah Suci lagi. Aku bener2 kangen kesana lagi :’)

Perjalanan yang kami lalui memang lumayan jauh. Tapi ini ga seberapa kalau dibandingin sama haji/umrahnya orang2 zaman dulu. Kalau zaman sekarang orang2 bisa dengan mudahnya ke Tanah suci pake pesawat, di zaman kakek buyutnya ayah ga kayak gini. Aku inget cerita ayah waktu kakek buyutnya ayah (ya aku juga termasuk cucunya :D) pergi haji. Beliau jauh2 bulan bahkan mungkin setaun sebelumnya udah persiapan. Ga Cuma dari segi finansial aja tapi juga bekal bahan makanan, obat2an dan sebagainya. Karena zaman itu belum ada pesawat makanya para jamaah haji naik kapal kesana. Transit di ujung Aceh baru lanjutin perjalanan ke Tanah Suci. Itulah sebabnya Aceh kondang namanya sebagai serambi Makkah. Nah, kalau zaman sekarang kita naik pesawat dari Jakarta ke Jeddah kira2 8 jam aja, orang2 zaman dulu naik kapal berbulan2. Kata kakek beliau menempuh perjalanan kira2 3 bulan. Bener2 perjuangan yang hebat menuju Tanah Suci memenuhi panggilanNya sekaligus menengok kampung halaman.

Oke, sebelum cerita perjalanan menuju Jeddah, aku mau cerita soal sejarah kota ini dulu.  Kota yang punya sebutan The Bride of Red Sea (ratu Laut Merah) ini ada di barat Arab Saudi dengan luas +/- 1200 km2 dan garis pantainya sepanjang 80 km2. Sebenernya, Jeddah udah diakui keberadaannya sejak kurang lebih 2500an taun lalu pas masi jadi desa kecil dengan penduduknya yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Karena lokasinya yang strategis makanya desa itu berkembang dan berubah jadi pusat perdagangan antara negara2 Mediterania dan negara2 timur. Nah, taun 647 M Khalifah Utsman bin Affan menyatakan Jeddah sebagai pintu masuk resmi ke Makkah. Jeddah makin berkembang jadi pusat dagang dan menarik Portugis yang udah siap buat nyerbu Jeddah taun 1516. Tapi Jeddah yang saat itu dikuasai Kesultanan Ottoman ga nyerah. Raja lalu ngebangun benteng ngelilingin Jeddah dengan 4 pintu. Meski dibalik benteng besar tapi Jeddah terus berkembang cepet dan ga nerima perwakilan negara2 Eropa.  Baru di tahun 1825 masih di bawah kuasa Turki Ottoman barulah Jeddah nerima perwakilan dari Eropa yaitu Prancis dan Inggris. Maka saat itu Jeddah disebut Bilad al Kanasil (The City of Consulates). Sekarang dikenal juga dengan sebutan al-Balad atau Balad (negeri) yang identik sama kawasan Old Jeddah yang juga sering diidentikkan sebagai pusat belanja disana. Setelah Kesultanan Turki Ottoman runtuh di tahun 1915, benteng yang ngelilingin Jeddah pun runtuh. So sad...

O iya, Jeddah berasal dari kata jaddah (nenek moyang, baca: makam nenek moyang). Bisa juga berarti tepi pantai/sungai diantara 2 gunung. Namun kini lebih diartikan sebagai nenek moyang. Kenapa? Karena disini menurut ulama dan arkeolog disinilah Hawa hidup abis dipisahin Allah sama Adam dari surga. Dan di Jeddah inilah Hawa wafat dan dimakamkan. Nah, di banyak cerita katanya makam Hawa tingginya sampe 145 m. Konon, beliau bertubuh tinggi. Bahkan tempat terdalem di Laut Merah Cuma selututnya doang, MasyaAllah... Makam Hawa dulu ditandai dengan tugu. Tapi karena banyak orang yang berlaku syirik disitu makanya pemerintah Arab Saudi ngrobohin tugu tadi. Dan kini yang keliatan Cuma tanah lapang kosong yang dikelilingi pagar tembok.

Jeddah selain sebagai pusat perdagangan tapi juga sebagai gerbang utama ke Makkah dan Madinah baik via Jeddah Islamic Port yang dikenal sebagai pelabuhan tertua atau King Abdul Aziz Int. Airport yang diresmiin taun 1981 sama Raja Khalid. Jeddah juga jadi terminal akhir kepulangan jamaah haji/umrah (Madinatul Hujaj).
Itu dia sekilas tentang Jeddah. Aku ada cerita seru yang mau dibagiin. Apa itu? Tunggu di postingan selanjutnya :D

Kamis, 27 Maret 2014

Before Left Makkah

Siang menjelang. Saatnya kembali ke hotel untuk makan siang dan packing buat ke Madinah. Rasanya berat ninggalin kota suci Makkah ini. Pengen bisa ada di sini lagi, suatu saat nanti. Itu salah satu doaku sebelum ninggalin Makkah. 
Buat obat kangen, aku sempat ambil beberapa gambar yang ada di Makkah and surrounding. Ini beberapa foto yang gambarin Makkah pas aku ada disana waktu itu : 

1. Perpustakaan Masjidil Haram

23. Perpus di daerah Sheeb Banu Hasyim

Ini adalah perpustakaan yang masih ada di dalam kompleks Masjidil Haram. Letaknya di Sheeb Banu Hasyim, sebelah timur Masjidil Haram. Perpustakaan ini didirikan oleh Syekh Abbas Qoththan pada tahub 1950 M/1370 H. Di dalemnya banyak banget kitab, naskah2 kuno dan berbagai benda bersejarah yang ga ternilai. Disebutkan oleh sebagian ahli sejarah, perpustakaan ini adalah rumah dimana Rasulullah dilahirkan. Rumah itu kemudian dimiliki oleh Aqil bin Abu Thalib yang ia terima dari nabi ketika beliau hijrah ke Madinah, trus dijual kepada Muhammad bin Yusuf ats Tsaqafi (saudara Al Hajjaj), yang kemudian memasukkannya ke dalam bagian rumahnya yang dikenal dengan nama Daar al Baidha. Nah, ketika al Khayziran ( ibu Harun ar Rasyid) menunaikan haji pada tahun 71 H, ia kemudian menjadikannya masjid untuk ditempati sholat. Sekarang hanya dipakai untuk perpustakaan aja dan dibuka selepas sholat maghrib. Karena pas itu kami sekeluarga datang pas siang abis thawaf wada', maka perpusnya masi tutup. 

Begitu masuk halaman perpus, kita bakal disambut beberapa banner.Salah satu banner ngegambarin keadaan di dalam perpus dan satu lagi berisi peringatan kepada para jamaah yang berkunjung biar ga ngagungin perpus. Peringatan ditulis dalam berbagai bahasa diantaranya Arab, Turki, Inggris dan Indonesia. Bunyi peringatan tersebut : Saudarauku se Islam : Tidak ada dalil shohih yang menentukan tempat lahirnya nabi Muhammad SAW. Maka mengambil barakah di tempat ini, atau mengkhususkannya dengan sholat atau doa adalah perbuatan yang dilarang menurut syariat. 

24. Perpus tampak depan dengan banner warna merah 

2. Pemukiman Penduduk Makkah 

25. Bangunan2 di Makkah

Ini gambar diambil saat matahari mulai cukup terang dan panas di Makkah. Karena kontur alam di Makkah sebagian besar adalah gunung batu, makanya bangunan2 juga didirikan di atasnya. Hotel2 untuk para jamaah haji/umrah saling berjajar tinggi menjulang dan di lereng2 bukit batu dipakai untuk pemukiman penduduk. Ga jarang banyak mobil2 yang lalulalang di jalanan di atas bukit. Sepertinya penduduk Arab udah terlatih bawa mobil di jalanan naik turun berkelok khas bukit dengan kecepatan tinggi. Perlu belajar nyetir kek gitu deh aku, ha3...

Baiklah, waktu di Makkah untuk kami saat itu sudah habis. Kami bergegas naik ke bus yang akan bawa kami ke Madinah. Ransel udah ada di pundak dan bus pun mulai jalan ninggalin kota suci ini. Good bye Makkah, I hope I can do hajj and umra also meet ur atmosphere again someday :’)

Kamis, 20 Maret 2014

Shopping Time at Makkah

Ini cerita lain pas aku di Makkah. Selain ibadah umrah aku juga nyempatin buat jalan2 di sekitar Masjidil Haram. Kebanyakan bangunan di sekitar Masjidil Haram adalah hotel2 dengan toko dan mall di lantai 1 atau ground floors nya. Kebanyakan toko menjual berbagai macam sovenir khas Tanah Suci macam parfum, sajadah, gamis, kurma, kismis, zaitun, coklat dll. Untuk mall biasanya ada di lantai 1 ke bawah hingga 3rd ground floor. Yang dijual sama kayak mall2 kebanyakan. Ada supermarketnya, toko pakaian, toko sovenir, dll. 

Hari kedua di Makkah ba’da sholat dhuhur di Masjidil Haram, aku dan keluarga masuk ke salah satu supermarket disana. Banyak para jamaah yang manfaatin waktunya kesini juga. Waktu itu bapak beli semacam roti khas Timur Tengah. Ga tau namanya tapi bentuknya bulat tipis dengan aroma khas rempah Timur Tengah. Lumayan murah juga harganya. Ibu beli air mineral buat persediaan di kamar. Aku dan adek sibuk muter2 nyari cemilan khas disana. Sempet pengen beli coklat disana karena varian rasa dan merknya buanyak banget (kayaknya orang Arab suka makan coklat deh). Tapi pilihan kami jatuh pada Lays. Ya. Karena kami suka kripik kentang dan  merk ini ada di Indonesia tapi untuk di Arab Saudi produk ini punya rasa sendiri. Kami pilih rasa french cheese. Pas itu ane liat ada eskrim juga. Aku langsung buka lemari pendinginnya dan ambil ice cream sandwich. Abis itu kami liat2 isi supermarketnya. Banyak juga dijual sayur2an hijau dan buah2an yang kebanyakan impor dari Asia.

Aku liat banyak produk Indonesia yang dijual disana. Beberapa merk makanan, minuman, obat2an macam balsem, minyak angin, obat maag dll tersedia disana. Dan... bagi yang rindu makan mi instan bisa beli Indomie karena banyak dijual dan didapet dengan gampang disana.


21. Kemasan Indomie di negara2 Timur Tengah

 Nah, pas kami lagi milih2 barang, ada salah satu pegawai supermarket yang nyapa kami. Ternyata dia orang Indonesia asal Jawa Barat yang kerja disana. Serasa ketemu sodara sendiri, dia lalu ngajak bapak ngobrol2 ringan. Ga berapa lama kemudian kami pamitan dan menuju kasir buat bayar belanjaan kami. Asal tau aja ya, semua pegawai di Arab Saudi adalah laki2 (kecuali pekerjaan yang memang hanya boleh dilakukan wanita ie. Bidan, dokter wanita untuk pasien wanita, dll). Jadi kasirnya pun laki2 juga. 

Let's talk bout the dishes :) Makanan dan minuman yang kami konsumsi pas umrah sebenernya sama dengan di Indonesia. Ada nasi, roti, lauk pauk kayak ayam, ikan, telur, sayur2an yg dimasak kayak sup, ca, tumis, dll. kalo ngepasin dapet menu nasgor, disana pake beras basmati. Beras asli India dengan penampakan gede2 (+/- 2x beras normal) dan diklaim sebagai yg terenak daripada beras/nasi lain (katanya sih...). Kalau minumannya sih standar Indonesia juga. Ada teh/kopi/sirup. Nah, menu2 yg ada adalah menu yg disesuaikan sama lidah masing2 orang dari negaranya. Karena kami jamaah Indonesia, maka menunya pun menu Indonesia. Chef dan para pembantunya pun juga didatangin dari Indonesia.

Ini dia beberapa makanan dan minuman yang kami konsumsi selama di Makkah dan Madinah :


 22. Makanan dan minuman yang pernah dikonsumsi di Tanah Suci

1. Ice cream sandwich
Ice cream sandwich vanila yang ane sama adek beli di supermarket di Makkah. Abis bayar di kasir kami kudu cepet2 balik hotel kalau ga mau eskrimnya keburu cair. Suhu Makkah saat itu sedang panas2nya mencapai 52⁰ C di tengah hari. Dan, meskipun kami udah berusaha jalan cepet buat jaga tu eskrim, sampai di kamar ane buka bungkusnya mau dimakan ternyata si sandwichnya udah melempem sebagian kena lelehan eskrimnya.

2. Chocolate puff
Ini semacem roti isi coklat yang kami makan pas city tour Makkah. Enak, coklatnya penuh. Pas digigit langsung kena coklatnya. 

3. Croissant
Croissant isi coklat ini kerasa banget menteganya. Isi coklat juga. Kami serombongan makan ini pas perjalanan ke Madinah dan pas city tour Madinah.

4. Lays
Ini dia lays yang aku beli pas di Makkah. Ada macam2 rasa. Yang kuinget Cuma 2, ini sama salt and vinegar. Kalau yang ini rasanya keju banget. Salt and vinegar rasanya kayak acar. Asin kecut. Agak nyengir2 gitu pas makan saking kecutnya, tapi abis juga tuh, hahaha XD 

5. Pepsi cola KFC
Jangan dikira di Makkah ga ada makanan fast food kek gini ya... malah banyak banget seputaran Masjidil Haram restoran2 fast food lokal sampai internasional yang buka sampai malam. Ini kami beli paketan sama burgernya di KFC depan Masjidil Haram. 

6. Burger ayam KFC
Sebelum thawaf wada’ kami udah sarapan di hotel. Selesai thawaf wada’ udah masuk siang hari. Waktunya makan siang. Tapi kami ga kembali ke hotel karena ingin menjajal salah satu kuliner khas disana. Tapi adek pengen ke KFC. Akhirnya kami beli paket burger ayam+pepsi. Isi burgernya sama kayak beli di Indonesia, Cuma ga ada sayurnya blas. Jadi Cuma burger yang ditengahnya ada dagingnya. Udah. Tapi yang khas adalah rasa ayamnya itu rempah banget khas masakan Timteng gitu... pas itu burgernya udah abis so foto kardusnya aja ya, he3... 

7. Kurma
Macam2 jenis kurma ada di sini. Foto ini diambil pas lagi di Madinah. Tepatnya di toko kurma yang dibelakangnya ada kebun kurmanya juga. Nanti ane ceritain pas udah sampai di Madinah. 

8. Macam2 oleh2 khas haji/umrah
Di Madinah tadi selain kurma, toko2 juga ngejual macam2 oleh2 makanan khas haji/umrah kayak buah tin, zaitun, coklat dll. Lengkapnya ane kupas di city tour Madinah nanti :)



Postingan Populer

Sesame Street Elmo 2