Translate This Article

Tampilkan postingan dengan label Regent. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Regent. Tampilkan semua postingan

Selasa, 27 Januari 2015

Sightseeing at Ramkhamhaeng Night Market

Postingan sebelumnya udah aku ceritain soal city tour di Thailand sebelum balik ke Indonesia. Gimanapun juga pengalaman "nyasar" di sini tetep berbekas di hati dan pikiran (lebai dikit ah...). Gimana enggak coba, mulai dari kesasar dan ga tau harus berbuat apa2 sampai bisa jalan2 keliling kota. Dan aku sadar ini semua adalah kehendakNya. Ambil hikmahnya aja lah, aku bisa jalan2 gratis dan ketemu dengan orang2 baik yang udah nolongin kami disini, Alhamdulillah...

Ngomong2 soal Thailand, aku pasti inget pengalamanku yang satu ini dan pengen balik ke sana lagi. Bagi yang pengen ke sana bolehlah ajak2, he3... Apalagi kemaren aku sempet liat ada promo tiket awal bulan Pebruari Jakarta Bangkok PP dengan harga 60% lebih murah loh... kyaaaaa.....

Aktivitas kami di sini sebenernya biasa aja sih mulai dari pagi hari bisa dibilang ga beda kayak kami di Indonesia: bangun pagi, sholat subuh, mandi, sarapan. Pas sarapan aku suka banget minum coklat panas pake krimer tanpa gula sama bikin roti tawar panggang barengan sama penghuni hotel lain, hehe... abis sarapan biasanya para jamaah kembali ke kamar hotel ga terkecuali kami, kecuali jika bu kabiro ngajak ayah dan beberapa jamaah laki2 buat berembug di lobi atau musholla hotel atau ngajak aku/adek ngurusin kelengkapan buat para jamaah. Aku sama bu kabiro abis sarapan sering ke kantor Pak G yang letaknya ga jauh dari hotel tempat kami menginap, Regent. Disana kami ketemu sama Pak G, Ust. S dan beberapa stafnya yang ramah dan siap bantu kami

Pernah pas pagi2 abis subuh kami sekeluarga jalan2 di sekitar hotel, masuk ke kawasan kompleks pemukiman penduduk. Daerah yang dekat dengan hotel adalah kawasan pemukiman muslim. Makin masuk ke kompleks adalah pemukiman umat budha, terlihat ada altar2 kecil lengkap ama dupa dan sesaji bunga khas Thailand. Kami terus jalan sampai akhirnya nemu pemukiman orang kristen evangelist Korea. Kami ga berlama-lama disitu karena banyak anjing penjaga berkeliaran di depan rumah2 besar berdesain gotik yang selalu tertutup rapat. Akhirnya kami memutuskan kembali ke hotel karena hari sudah mulai siang dan lanjut sarapan di restoran hotel.

Selama perjalanan kembali ke hotel kami sering membandingkan rumah2 di sini dengan di Indonesia. Di sini, rumah2 kebanyakan memiliki taman atau sekedar tanaman2 yang ditata rapi di depan rumah. Banyak juga rumah yang pake pagar alami (pohon2an) sebagai pembatas rumah dengan jalan. Rumah2 disana juga memasang 2 bendera di pagarnya, bendera negara dan yang 1 bendera warna kuning yang aku ga tau bendera apa itu. Mungkin lambang kerajaan Thailand kali ya...

Pas siang/sore bahkan malam bu kabiro juga biasanya ngajak aku/adek ke sevel buat beli pulsa/barang2 kebutuhan sehari-hari. Karena bu kabiro ga bisa basing maka aku sama adek yang sering diajak kemana2 mulai dari ke kantor Pak G, sevel, bank, mall bahkan pasar tradisional di Ramkamhaeng. Kadang para jamaah juga sering nitip barang2 keperluan jadi kesempatan ini aku ambil sekalian jalan2 di Ramkamhaeng, hehehe...

Ketika pagi keluar hotel menuju jalan utama Ramkhamhaeng yang jaraknya kira2 50 m aja udah bisa nemu para penjual kaki 5 yang jualan di trotoar. Barang2 yang dijual macem2 mulai dari makanan, pakaian, lapak koran, bunga untuk sembahyang umat budha, obat2an tradisional dll, hingga pengamen jalanan pun ada di sini, mirip banget sama pasar di Indonesia. Makanan macam2 dan hampir mirip sama masakan Indonesia. Makanan berat macam nasi dan bubur untuk sarapan, lauk pauk dan masakan macam kuah kari, tumis, dan mungkin sejenis balado yang penah aku liat ada disitu. Jajanan pasar khas Thailand pun banyak dikerumuni pembeli. Aku juga liat banyak yang jual sate2an macam sate sosis dkk yang sekarang masih ngehits di Indonesia. 


Thailand street food
64. Thai street food. Mirip jajanan di Indonesia ya
Source: pinterest.com
 
Semuanya terlihat yummy tapi aku ga pernah beli makanan2 itu karena ga tau apakah itu halal apa ga. Dan lagi, Ust. S yang asli orang Thai juga memperingatkan untuk ga beli makanan/minuman di situ kecuali yang label halal/menuliskan moslem food di kedai/lapaknya. Kami pun nurut. Yang pernah kami beli adalah buah2an di penjual gerobak macam penjual rujak di Indonesia. Pas itu bu kabiro penasaran sama buah yang mirip kedondong tapi sizenya lebih kecil. Si bapak penjual pun mengisyaratkan kami buat nyoba, dan ternyata rasanya mirip jambu. Kami pun beli trus sampai di hotel kami bagi2in ke jamaah.

Makin sore, suasana makin ramai. Di sepanjang jalan Ramkhamhaeng ini banyak banget pedagang kaki lima yang buka lapak, karena mulai pukul 15.30-22.30, adalah saatnya Ramkhamhaeng Night Market. Ya, pasar malam yang buka tiap hari ini jual macam2 barang keperluan sehari-hari ga jauh beda kayak pas pagi hari, tapi dengan suasana yang lebih semarak karena barang2 yang dijual lebih bervariasi. Pokoknya ni tempat cucok banget buat para backpacker yang mau berburu makanan, barang2/oleh2 dengan harga miring. Kemampuan nawar harga di sini sangat diperlukan guys...


Ramkhamhaeng
65. Suasana sore menjelang Ramkhamhaeng Night Market. Ada bebeapa lapak yang udah buka

Ramkhamhaeng Night Market
66. Walk along at Ramkhamhaeng Night Market
Source: http://inter.tourismthailand.org/fileadmin/upload_img/Attraction/6200/Ramkhamhaengeng.jpg


Ramkhamhaeng Night Market
67. Ramkhamhaeng Night Market dekat Universitas Ramkhamhaeng
Source: http://johnsonism.com/wp-content/uploads/2014/04/market-640x372.jpg

Selain pasar tradisional dan night market, di sepanjang jalan Ramkhamhaeng ini juga ada beberapa pusat perbelanjaan modern. Sebut saja Central Power Center Huamark, Fashion Island, Huamark Town Center, The Mall Bangkapi, The Mall Ramkhamhaeng 2 dan 3 ada di situ. Banyak juga kios2 yang menjual berbagai macam barang2. Yang terdekat sama hotel Regent adalah Huamark Town Center, so, aku sering kesana sama bu kabiro. Pernah juga kami sekeluarga kesana beli camilan skalian jalan2. Pernah juga cuma berdua sama adek ngemall kesono daripada tiduran di kamar hotel, wkwkwk

Sekilas tentang daerah bernama Ramkhamhaeng adalah daerah luas di distrik Bangkapi yang ada di sepanjang jalan Ramkhamhaeng, jalan arteri utama di Bangkok Timur sepanjang 18 km. Nama daerah ini diambil dari nama raja ketiga Dinasti Phra Ruang dari Kerajaan Sukhotai. Raja yang berkuasa dari tahun 1279–1298 ini berjasa membuat aksara Thai. Selain itu raja ini juga jadiin agama budha jadi agama kerajaan saat itu. 


Layaknya daerah kota besar, Ramkhamhaeng di pagi dan sore hari juga ga lepas dari macet. Banyak orang yang pergi ke tempat kerja maupun mahasiswa/i yang mungkin berangkat kuliah. Ada 2 universitas di sini, Ramkhamhaeng University sama Assumption University. Ramkhamhaeng University berdiri sejak tahun 1971 yang alumninya banyak jadi orang sukses di negeri Gajah Putih ini. Sebut saja Mario Maurer (model & aktor Thailand), Abishit Vejjajiva (Perdana Menteri Thailand ke-27) dan masih banyak lagi. Stadion Rajamanggala yang terkenal yang sering dipake buat turnamen sepakbola ASEAN juga terletak di pinggir jalan arteri ini.

Rabu, 29 Oktober 2014

Bonus dari Tanah Suci

Sebelum baca postingan ini, aku mau jelasin sebentar kenapa alur kisahnya terkesan berbolak-balik atau muter2. Aku ga pake alur maju (kisah diceritain runut mulai dari awal perjalanan dari Solo-Jakarta-Bangkok-Tanah Suci-Bangkok-Jakarta-Solo) atau alur mundur (kisah diceritain runut mulai dari akhir perjalanan dari Solo-Jakarta-Bangkok-Tanah Suci-Bangkok-Jakarta-Solo) tapi aku campur keduanya (lhoh, gimana tuh?). Jadi aku mulai nulis awal keberangkatan dari Solo ke Jakarta lalu Tanah Suci dulu tanpa nulis Bangkok sebelumnya. Niatku karena tujuan awalku adalah cerita tentang my trip experience in Tanah Suci dulu baru Bangkok karena Bangkok buatku adalah bonus perjalanan buat kami semua.

Ngomong2 soal bonus, disini bakalan aku pos soalan kegiatan kami para jamaah abis pulang dari Tanah Suci. Kami ga bisa pulang langsung ke tanah air karena emang tiketnya PP Jeddah-Bangkok, bukan Jeddah-Jakarta. Jadilah kami "pulang" ke Bangkok pakai Etihad alhamdulillah dengan aman, nyaman dan sentausa, he3... Oke, dari Jeddah transit dulu di Abu Dhabi Int. Airport baru ke Suvanabhumi untuk selanjutnya stay di Ramkhamhaeng lagi, alhamdulillah, yeay!

Sampai di Suvarnabhumi, ibu kabiro langsung ngajak aku hubungi Ust. S untuk urusan akomodasi dan transport. Ga beberapa saat kemudian sebuah panggilan masuk di gadgetku dan ternyata dari Pak G manajer Regent Hotel di Ramkhamhaeng tempat kami stay sebelum ke Tanah Suci. Beliau sama satu asistennya dateng dan langsung bawa kami ke Regent. Sekali lagi aku kagum sama Pak G karena beliau bener2 memuliakan tamu dengan jemput kami secara langsung dari Suvarnabhumi ke Ramkhamhaeng. Keren!

Di Regent kamipun istirahat. Kami stay disana selama 3 hari. Hari kedua di Bangkok pasca kepulangan dari Tanah Suci, kami dapat bonus traveling ke beberapa itinerary di Thailand. Aku sebut bonus karena kami ga nyangka bisa sampai di negara ini dan bisa traveling gratis disini. Aku sendiri ingat niat besarku kala itu, waktu umurku masi belia (sekarang juga masi belia, cuma beda beberapa tahun, hahaha... ga mau dibilang tua ceritanya :p) Aku pengen banget bisa traveling keluar negeri. Tapi sebelum kemana2, aku pengen bisa ke Tanah Suci dulu baru traveling ke negara lain jika Allah ngasi kesempatan karena aku ga tau aku hidup sampai usia keberapa dan sebelum aku tutup usia aku ingin ke Tanah Suci buat ibadah dulu jika diizinkan. Dan Alhamdulillah Allah ngijabahin doaku. Aku bisa ke Tanah Suci buat umrah dan dapet bonus langsung di Thailand selama seminggu (4 hari pra, 3 hari pasca dari Tanah Suci). Aku bener2 ngrasa Allah itu deket. Deket banget sama aku khususnya karena Dia terus mendidik aku untuk jadi orang yang harusnya selalu sabar dan bersyukur meski harus ngelewatin berbagai halang rintang menuju Baitullah.

Bonus yang kami dapet adalah kami pergi ke 3 tempat di Thailand. Pattaya Floating Market, Pattaya Beach, sama Gems Gallery. Ya, kami akan ke Pattaya. Letaknya yang hanya sekitar 140 km dari Bangkok yang jadi pertimbangan kesana. Karena kebanyakan jamaah kami adalah lansia dan esok hari kami akan ninggalin Thailand, hanya kira2 separuh yang ikut tur ini. Keluargaku Alhamdulillah ikut semua, he3... Mari dikupas satu persatu.

1. Pattaya Floating Market
Sebelum kesini, karena hari udah siang dan masuk waktu dhuhur, kami berhenti di Chonburi tepatnya di kawasan muslimnya. Kami ternyata diantar sama si sopir travel yang bawa kami ke restoran muslim Thailand. Aneka macam dish khas Thailand macam tom yam, seafood, dan masakan kari tersedia di meja kami. Alhamdulillah... kalau udah rezeki emang ga akan kemana, he3...

Restoran cozy dan comfy yang cukup luas ini punya seorang wanita turunan Bangladesh yang bersuami orang Thai. Si ibu cukup ramah nyapa kami dan ajak ngobrol. Abis makan dan selesai sholat kamipun ninggalin tempat ini dan berangkat menuju Pattaya Floating Market.


Pattaya Floating Market
56. Main Entrance Pattaya Floating Market

Pattaya Floating Market
 57. Padet banget. Pas musim liburan disana
Bagi yang pernah ke Kalsel dan liat pasar terapung disana, kita juga bisa nemuin di Thailand yang emang terkenal juga akan pasar terapungnya.  Barang2 yang dijual pun sama macam disini kek buah dan sayuran di atas perahu. Perahu yang digunakan emang cukup besar dengan kapasitas hingga 4 orang. 

Pattaya Floating Market
58. Suasana di Dalam
Source: http://www.travelhubthailandtours.com/images/hotels-pic/lightbox-pics/floating-market/floating-market010.jpg
 
Dibangun di lahan seluas 100,000 meter2, pasar terapung ini terbagi jadi 4 bagian: utara, timur, selatan, dan barat. Selain pasar terapung ada rumah-rumah kayu yang juga ngejual beberapa dagangan, mulai dari gerai buah segar, toko sovenir, sampai galeri seni. Yang juga ada pastinya aneka makanan khas Thailand, kek pad thai (mi goreng Thailand-pernah aku bahas di postingan awal), kanom jean (bihun beras) dengan aneka macem kuah kari, ka nom krok (panekuk kelapa), foi thong, dll. Jam Buka  Pattaya Floating Market adalah jam 08.00 – 18.00 dan lokasinya ada di 451/304 Mu 12, Sukhumvit Road, Tambon Nong Prue, Amphoe Bang Lamung, Chon Buri, Tel. +66 3870 6340.

2. Pattaya Beach
 Pantai yang ada di tenggara Bangkok ini cukup terkenal di dunia dengan pusat hiburan malamnya. Tapi tenang aja, kami datang kesana pas tengah hari dan lokasi kami di pantai ini pun jauh dari lokasi hiburan malam tadi, aman laahh...

Pantai cakep ini pernah kena imbas tsunami 2006 kemaren. Meskipun gitu, pantai yang bikin Thailand tambah devisa karena kunjungan turis manca yang luar biasa ini udah lengkap nawarin macem2 fasilitas dan hiburan. Mulai dari resor sampai berbagai macam olahraga air ada disana. Beberapa foto aku ambil dari sana. Kayak gini nih cakepnya Pattaya Beach...
Pattaya
59. Pattaya Beach (cuaca mendung)

3. Gems Gallery

Gems Gallery
60. Pelataran Gems Gallery Pattaya
Source: http://i1301.photobucket.com/albums/ag110/KitYiLim/bkk%204/DSCN1827_zps27e4c361.jpg
Gems Gallery di Pattaya ini adalah 1 dari empat cabang galeri permata yang ada di Thailand. Disini kami bisa liat macem2 batu permata mulai dari cara pengambilannya dari alam sampai proses pembuatan dan pemasarannya. Begitu sampai di pelataran kami disambut sama petugas cewek berbaju khas Thai dan menanyakan darimana asal negara kami. Sebelum kami masuk ke area galeri, kami dipesilakan ikut tur Germs Discovery dengan naik kereta yang masuk ke sebuah gua. Semacem masuk gua hantu gitu deh... Gelap juga awalnya pas kereta mulai jalan sampai ada anggota jamaah kami yang lansia pegang tangan ibuku kenceng saking takutnya. 

Gems Gallery
61. Kereta Gua Hantu, Eh Gua Permata Ding :p
Source: http://www.gems-gallery.com/mobile/images/store/pattaya/IMG_9419_sm.jpg
 Di dalam gua buatan ini kami disuguhi live diorama bagaimana permata/gems itu berasal. Mulai dari gunung berapi yang memuntahkan lahar dan batu2an, kemudian cara pengambilan dan pengolahan secara tradisional pada zaman dulu hingga zaman sekarang dengan alat2 modern plus arti permata bagi bangsa Thai. Narasi disajiin dalam Bahasa Indonesia disesuaikan sama negara asal pengunjung. Cukup memukau tapi sayang pengunjung ga dibolehin take pictures disana.

Abis keluar "gua" dan turun dari kereta, kami langsung disambut sama petugas yang fasih bebahasa Indonesia dan bawa kami ke suatu ruangan yang luas dimana kami bisa liat cara pengolahan batu permata jadi macem2 perhiasan apik yang langsung dipraktekin sama para tukang pembuat permatanya sendiri. Jadi inget tetanggaku dulu orang Banjar yang profesinya bikin perhiasan dari batu intan, alat2 yang dipake mirip. Nah, abis itu kami masuk ke ruangan dimana galeri dari permata yang udah jadi dipamerin dan dijual. Harganya mulai dari yang paling rendah hingga milyaran rupiah (kalau dirupiahin) ada disana tergantung dari jenis, ukuran, dan tingkat keruwetan bentuknya. Banyak turis domestik maupun manca yang datang kesono dan tertarik buat beli, termasuk mak gue. Pas mau bayar, ayah ngeluarin uang riyal. tapi ternyata petugas disana ga bisa nerima dengan alesan kalau susah nukerin riyal ke baht dan harus ke bank sentral. So petugas disana nganjurin pembayaran pakai Rp aja. Ya wis lah...


Gems Gallery
62. Ruang Display Gems Gallery Pattaya
Source: http://www.tourismthailand.org/img_resize/79/8cde70975899d15468864f11b17062_400_300_none.jpg

Selain perhiasan dan asesoris dari permata, ada juga yang dari emas dan perak. Aku emang ga tertarik sama perhiasan2 macam itu jadi aku sambil lalu aja dan masuk ke ruangan yang mamerin aneka macam traditional handicrafts khas Thailand. Nah disini aku bisa betah liat2 barang2 unik, tapi aku ga niat beli juga karena emang harganya mahal sangat! bisa 3x lipat kalau kita beli di lapak kaki lima diluar sana. Ada juga produk body care lokal dan fesyen merk terkenal juga dijual disana mulai dari baju, tas, sepatu, dompet, dll. Enaknya disini waktu pengunjung liat2 barang ga diikutin sama petugasnya. Ga macam di Indonesia yang pas mau milih2 barang diikuti trus diliatin terus sama petugas/SPG yang pastinya bikin kita ga nyaman pas belanja/milih2 barang.


Gems Gallery
63. Ruang Display Handicraft dan Fesyen Gems Gallery Pattaya
http://www.pattaya.go.th/wp-content/uploads/2012/01/IMG_9393_resize.jpg 

Gems Gallery Pattaya yang letaknya di 555 Moo 6 North Pattaya Rd., Nakluea, Banglamung Thaiand ini buka tiap hari dari pukul 08.30 - 18.00. Bagi yang pengen tau detil bisa buka webnya Gems Gallery atau telp di +66 3837 1222-31, +668 3657 5757.

Usai dari situ, kami pulang karena hari udah sore. Sepanjang jalan di kawasan Pattaya yang kami liat udah mirip di Bali aja. Para turis dari berbagai ras lalu lalang disitu, hotel dari kelas backpacker hingga bintang lima, tempat makan dari pedagang kaki lima sampai yang mewah, resto fast food, mall, minimarket (disana banyak banget sevel), tempat hiburan malam hingga tempat pijat plus2 pun ada. Perjalanan yang agak jauh yang bikin capek ditambah hujan deras waktu udah hampir sampai Bangkok bikin kami ngantuk. Akhirnya satu per satu dari kami tertidur, he3... 

Kami sampai di hotel menjelang magrib. Meskipun capek, kami terutama keluargaku ga boleh tidur dulu karena mau packing buat kepulangan kami ke tanah air.

Kamis, 23 Oktober 2014

Orang-orang Baik di Negeri Tak Terduga

Jumat itu, Ust. S ngajak para jamaah kami yang laki buat sholat jumat berjamaah di Islamic Center Bangkok. Lokasinya masih di Ramkhamhaeng juga. Mereka kesana naik taksi. Ayahku langsung terharu begitu sampai disana karena desain masjid di Islamic Center mirip kek di Masjid Nabawi dengan atap macam payung2 elektrik. Ini yang ngingetin ayah akan Tanah Suci dan bikin ayah tambah yakin kalau Allah emang ngundang kami ke sana.

Besok malamnya aku, ibu kabiro sama staf biro travel utusan Ust. S kumpul di outdoor restaurant hotel. Abis makan (ini certanya aku sama ibu kabiro ditraktir makan malam sama mas staf biro travelnya, hi3) si masnya staf travel tadi buka email via smartphonenya dan nunjukin kalau e-tiket kami sudah berhasil dipesan dan esok hari kami para jamaah umrah bisa berangkat ke Tanah Suci. Si mas staf biro travel tadi lalu ngirim attachment e-tiket tadi ke email hotel untuk kemudian diprin dan diserahin ke kita setelah sebelumnya kami cek dulu apakah semua jamaah tercantum disitu. 

55. Outdoor Resto Regent Ramkhamhaeng Hotel
Sedikit cerita soal suasana malam itu (yang aku ga sadar kalau itu malam minggu) ya. Hotel Regent ini terutama di bagian outdoor resto nya cukup ramai ketimbang hari2 biasa. Banyak orang kumpul disitu. Ga cuma buat makan atau santai2 tapi juga buat belajar. Kayak mas staf travel yang kami temui ini ternyata ga cuma mau ketemu kami tapi juga lagi nunggu ustadznya buat belajar. Entah apa yang sedang mereka diskusikan karena mereka cakap2 pakai bahasa Thai dan banyak juga anak2 muda di samping meja kami yang sedang belajar bersama. Nah, si mas staf biro travel ini bisa berbahasa Melayu sikit2, so nyambunglah kami ngobrol2 sampai hampir tengah malam. Kadang kalau si mas ini ga bisa nyebut sesuatu benda/hal dengan bahasa Melayu, dia move ke English. Jadilah bahasa kita jadi gado2 antara bahasa Melayu dan English, ha3... Tapi dari pertemuan kami berempat ini aku jadi tambah ilmu karena ga cuma e-tiket yang kami bahas, tapi juga tentang kehidupan muslim di negara ini, khususnya di Bangkok. Jadi minoritas ga menyurutkan semangat mereka untuk melakukan semua aktifitas dan hubungan baik itu hubungan dengan Allah maupun hubungan dengan manusia. Jadi agen muslim yang baik, itu kesimpulan yang bisa aku tarik dari sini dan jadi penyemangatku untuk bisa seperti mereka.

Ahad subuh kami sudah siap dengan semua kelengkapan keberangkatan kami ke Tanah Suci. Setelah sholat subuh di mushola hotel, kami menuju mobil untuk berangkat ke Suvarnabhumi. Ust. S ikut serta antar kami setelah sebelumnya kami para jamaah foto bareng sama Ust. S (selfie tetep dong ya...). jalanan masih sepi waktu kami melintas. Aku bener2 seneng karena kami bisa berangkat lengkap ke Tanah Suci dari Bangkok. Tapi di satu sisi sedih juga rasanya ninggalin kota ini. Di Bangkok, tepatnya di Ramkhamhaeng adalah tempat yang udah Allah takdirin buat kami para jamaah stay sebelum ke Tanah suci. Aku udah merasa nyatu sama orang2 disini karena mereka saudara2 seimanku yang bener2 ikhlas bantuin kami. Aku berharap suatu saat aku akan pergi kesana. Lantunan doa dalam hati yang diikuti tetesan2 air bening yang keluar dari sudut mata karena sedih ninggalin kota ini.

Semua urusan transportasi dan akomodasi kami diurus sama Ust. S dan salah satu stafnya. Kami disuruh duduk manis dan nunggu sampai semuanya siap. Beliau juga bantuin angkatin barang2 kami tanpa diminta. Subhanallah... Semoga Allah membalas semua kebaikan Ust. S dan semuanya yang sudah membantu kami selama ini.

Ga terasa akhirnya kami kudu beranjak dan berpisah dari Ust. S dan stafnya. Kami berjalan menuju pemeriksaan dan bergerak menuju gate yang lumayan jauuuhhhh dari tempat kami tadi. Aku udah ga bisa liat Ust. S dan stafnya. Kami terus jalan dan akhirnya kamipun masuk ke pesawat lalu duduk sesuai nomor kursi kami masing2. Nanti kami akan transit di Abu Dhabi untuk selanjutnya terbang ke Jeddah. Namun aku masih merasa ga mau ninggalin Bangkok, ingin ada disini lebih lama lagi, tapi mau gimana lagi. Tujuan utamaku adalah ke Tanah Suci. Aku bersyukur bisa dipertemukan dengan keluarga seimanku disini, Alhamdulillah... Aku ga akan bisa lupain kebaikan mereka dan berharap bisa bertemu mereka lagi dalam keadaan yang baik. Itu salah satu doaku di Tanah Suci, semoga Allah kabulkan, amiiin...



Rabu, 22 Oktober 2014

Feels Like A Home

Kejutan2 muncul sebelum kami berangkat ke Tanah Suci. Mulai dari negeri Gajah Putih ini hingga kami kembali ke Tanah Air. Nah, waktu kita sampai malem2 di hotel, dan kami sekeluarga makan malam disana, kami sebangku sama orang yang bantu kami yang ketemu di Suvarnabhumi. kamipun ngepoin orang itu, karena kami penasaran dia mau bantu jamaah kami. ternyata dia seorang ustadz, importir, plus mahasiswa program doktoral yang punya saham di hotel yang kami diami saat itu. Yang bikin ga nyangka lagi, beliau ini kuliah S1 di Indonesia, tepatnya di salah satu universitas ternama di Jogja. So beliau bisa cas cis cus ngomong Indonesia dan sedikit Bahasa Jawa. Sebut saja Ust. S

Pagi menjelang. Setelah sholat subuh, mandi dan sebagainya kami kembali ngisi perut di resto. Disana sudah ada Ust. S yang dengan ramah ngajakin para jamaah makan. Meskipun hari itu aku belum bisa berangkat ke Tanah Suci, aku tetep yakin esok atau lusa kami akan berangkat. Ya, berangkat bukan dari negeri sendiri, berangkat dari negeri yang muslimnya jadi minoritas namun keliatan tinggi banget ukhuwahnya. Dan aku kagum dengan hal itu :)

Selama disana, aku sering nemenin ibu kabiro ngurusin e-tiket dan kelengkapan pemberangkatan ke Tanah Suci. Aku jadi sering ketemu sama Ust. S, orang KBRI di Thailand dan tentunya, jalan2 di kota, hehehe (ini yang gue suka :D). Ust. S ini juga punya usaha agen tiket dan biro perjalanan wisata barengan sama pemilik hotel yang kami diami, jadi semua hal yang berhubungan dengan transportasi dan akomodasi kami selama berangkat dibantuin sama beliau dan temen2nya, termasuk pemilik hotel yang secara khusus menjamu kami dengan apik banget pas malemnya.Disini aku bisa belajar tentang gimana ukhuwah Islam itu bener2 terbangun. Aku juga belajar banyak hal dari Ust. S, orang KBRI dan semua yang udah bikin aku makin banyak wawasan disini.

Pemilik hotel ini, Pak G dan istrinya menjamu kami dengan ramah malam itu. Semua makanan andalan di hotel itu dimasak khusus buat kami para jamaah umrah. Kami bener2 seperti jadi tamu kehormatan kala itu. Tom Yam dan aneka hidangan khas negeri gajah putih tersaji di meja makan kami. Pak G pun ga segan buat melayani kami bak waiter. Ya Allah, aku bersyukur bisa ketemu saudara seimanku disini :') Nah, pas aku sama ibu kabiro ngurus e-tiket buat ke Tanah Suci, Pak G ini cerita kalau anak pertamanya nyantri di Indonesia, tepatnya di Jawa Barat tapi aku lupa nama ponpes sama daerahnya dimana. Itulah sebabnya Pak G sering ke Indonesia buat jenguk anaknya atau buat urusan bisnis.

Banyak hotel dan tempat makan halal dari yang harga kaki lima hingga bintang lima disana. Tinggal pilih sesuai kecukupan kantong aja. O iya sekilas tentang hotel tempatku berdiam saat itu, namanya Hotel Regent. Ini hotel letaknya di daerah Ramkamhaeng, di kawasan muslim Bangkok. Hotel ini deket sama Ramkhamhaeng Univ. Gampang dijangkau dengan angkutan umum dan deket sama pusat perbelanjaan dari pasar tradisional hingga mall.

53. Lokasi Hotel Regent (Aku yang di Ramkhamhaeng)
(Source: www.koh-samet.org)

Banyak muslim yang menginap disitu mulai dari orang berwajah Melayu, India, Indocina, hingga Timur Tengah. Dengan slogan hotel "Feels Like A Home", aku rasa emang bener karena itu yang aku rasain selama disana. Aku seperti ketemu keluarga besar disini :) Lebih lengkapnya silakan kunjungi web hotelnya Regent Hotel & Apartement

54. Tampilan Depan Hotel Regent
(Source: www.regentram.com)

Sambil nunggu kepastian keberangkatan, aku sering jalan2 di sekitar hotel. Meskipun kawasan muslim, tapi kita kudu tetep ati2 karena ga semua pedagang makanan disana muslim. So untuk amannya beli makanan di tempat yang ada tulisan "halal" dan atau "muslim food".

Segini aja dulu deh ya... Di postingan berikutnya bakalan aku ceritain deh keadaan Ramkamhaeng dan apa aja yang ada disana. So be patient waiting my next post ;)

Postingan Populer

Sesame Street Elmo 2