Translate This Article

Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Indonesia. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2019

Thailand Lagi, lagi-lagi Thailand

Rasanya sudah lama sekali tidak menulis di laman ini. Banyak cerita perjalanan yang urung dituliskan sehingga hanya disimpan di benak saja. Dengan alasan "sok sibuk" kini saya kembali ke dunia perblogan (ecieh) untuk kembali menuliskan catatan perjalanan yang belum sempat dituangkan. Selain ingin share pengalaman perjalanan, yang terpenting dari menulis disini adalah satu: melawan lupa. bagi saya mendapatkan pengalaman baru ketika sedang traveling adalah hal yang sangat berharga, lebih berharga dari barang-barang mewah yang mungkin saya miliki.

Ok, kali ini saya hendak berbagi cerita tentang perjalanan backpacking saya dan teman-teman ke dua negara yaitu Thailand dan Malaysia selama tujuh hari. Rute kami adalah Indonesia-Thailand-Malaysia-Indonesia. Awalnya, saya hanya merencanakan perjalanan ini dengan teman kuliah sekaligus roommate saya, sebut saja si C. Lalu kami berpikir alangkah baiknya kalau kami mengajak teman lain yang ingin ngetrip juga kesana. Akhirnya kami menemukan dua orang teman lagi yaitu si H dan si I, namun dua orang ini hanya ikut hingga Thailand saja tanpa ikut ke Malaysia karena terkendala izin cuti kerja mereka yang hanya sebentar. Jadilah saya dan si C yang ngebolang ke Malaysia berdua.

Hari itu tanggal 17 Pebruari 2016 kurang lebih jam 9 malam saya dan C berangkat dari Depok menuju hotel Bumi Wiyata Depok menunggu bis Hiba Utama tujuan Soetta. Sebenarnya pesawat ke Thailand terbang pukul 6.30 WIB keesokan harinya, namun karena bis Hiba dari Bumi Wiyata waktu itu hanya ada sampai pukul 22.00 saja, maka kami putuskan berangkat malam itu. Perjalanan malam ternyata bisa ditempuh dalam waktu singkat sehingga tidak membutuhkan waktu lama. Kurang lebih jam 10 malam kami sudah tiba di Soetta. Karena waktu keberangkatan masih lama, akhirnya saya dan C tidur di kursi bandara bersama para penumpang asing yang mungkin juga sama-sama menunggu penerbangan esok hari. Saya dan C akan bertemu dengan 2 orang teman lain yaitu H dan I keesokan harinya saat boarding.

Kali itu kami menggunakan Batik Air dari Jakarta kemudian transit di Changi (Singapura) dan beralih ke Thai Lion Air menuju Bangkok. Kami mendarat di Don Mueang International Airport (DMK). Dari sini kami menunggu teman C, sebut saja si K yang warga asli Thailand untuk menemani kami selama di Thailand, namun ternyata K tidak bisa menemui kami siang itu karena alasan pekerjaan. Untungnya saya dan C sempat browsing transportasi umum dari DMK ke Khaosan Road, tempat hotel kami berada. Kami pun naik shuttle bus berlabel A2 bersama dengan para turis asing lain yang sepertinya memang searah dengan kami ke Khaosan Road, pusat backpacker Thailand. Sekedar info, terdapat dua shuttle bus yang berada di DMK di tahun itu yaitu shuttle bus A1 dan A2. 

Bis yang kami naiki waktu itu ternyata tidak langsung menuju Khaosan Road. Kami pun harus turun di halte Mo Chit yang letaknya tepat di sebelah tangga menuju Mo Chit BTS Station (semacam Skytrain) mencari bis tujuan Khaosan Road. Karena ini pengalaman pertama kami ke luar negeri tanpa ikut agen tur, kami pun harus bertanya kepada warga sekitar yang lalu lalang disekitar halte. Warga Thailand yang kami tanyai pun bermacam-macam mulai dari tukang ojek pengkolan (tukang ojek disana memakai seragam jaket oranye), pedagang asongan, dan berakhir di pekerja kantoran karena hanya orang ini yang paham maksud dan tujuan kami kenapa kami ada disini. Kami berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan seperti kebanyakan masyarakat Indonesia, warga Thailand pun masih banyak yang belum bisa berbahasa Inggris. Nah, setelah mendapat penjelasan dari mbak2 dan mas2 pekerja kantoran yang kami temui akhirnya kami berjalan turun ke bawah dan menunggu bis nomor 44 yang mengantar kami hingga ke dekat Khaosan Road tepatnya di Victory Monument. Oiya, nanti saya ceritakan soal transportasi di Thailand terutama bisnya karena selama di Thailand kami sering menggunakan moda transportasi ini :)

Sepanjang perjalanan saya melihat suasana jalan yang kami lalui. Suasana jalan raya layaknya di Jakarta yang khas dengan kendaraan bermotor dan gedung-gedung di kiri kanan jalan. Bedanya waktu itu di Thailand sudah ada skytrain sehingga banyak "rel melayang" di atas jalanan yang kami lewati. 

Perjalanan dari Mo Chit diperkirakan 15 menit, namun karena waktu itu sudah masuk masa orang-orang pulang kerja maka jalanan sudah mulai agak ramai sehingga sampai ke Victory Monument (monumen tempat kami turun dari bis no 44) ditempuh dalam waktu kurang lebh 1 jam. Dari situ kami melihat papan penunjuk jalan dan melihat bahwa jika kami hendak ke Khaosan Road kami harus menyeberang jalan. Tidak berapa lama kemudian kami sudah masuk ke Khaosan Road, kawasan backpacker di Thailand...

Kamis, 03 November 2016

Traveling is A Process

Belakangan ini semakin banyak orang yang melakukan traveling. Berbagai postingan di media sosial apalagi jika musim liburan tiba banyak diisi oleh aktifitas orang-orang yang tengah menikmati waktunya di suatu tempat dengan orang-orang terdekat. Traveling kini tidak hanya menjadi sebuah gaya hidup namun sudah menjadi kebutuhan terutama pada masyarakat yang tinggal di kota besar. Rutinitas hidup yang melelahkan membuat orang-orang perlu melakukan penyegaran, salah satunya dengan traveling.  

Bagi banyak orang, traveling merupakan sesuatu hal yang menyenangkan. Jalan-jalan ke tempat liburan, foto-foto, menikmati berbagai fasilitas yang tersedia, mencicipi kuliner asal, dan menginap di tempat yang nyaman. Ada pula yang berusaha mencari tiket transportasi dan akomodasi termurah demi menghemat biaya perjalanan. Lalu sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan traveling? Dan apa tujuan orang-orang melakukannya?

Ditilik dari sejarahnya, sebenarnya kata "travel" bermakna sangat jauh dengan "travel" di zaman sekarang. Kata "travel" diperkirakan berasal dari Bahasa Perancis lama "travailler" yaitu bekerja keras penuh penderitaan. Selain itu menurut kamus Merriam-Webster, di Inggris abad pertengahan, kata "travelen" juga memiliki arti yang mirip. Seiring waktu bergulir kemudian selepas abad ke-14 kata "travel" digunakan untuk mendeskripsikan sebuah perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki maupun dengan kendaraan. 

Menurut saya, istilah perjalanan pada zaman dulu sudah mengalami penyempitan makna. Orang-orang terdahulu melakukan perjalanan untuk tujuan sederhana seperti berburu untuk mencari makanan, membuka lahan baru, atau tujuan yang memiliki maksud khusus seperti pergi beribadah atau bahkan memperluas wilayah kekuasaan suatu kerajaan atau negara tertentu. Tujuan traveling kebanyakan orang saat ini adalah murni pariwisata, meskipun ada juga yang memiliki tujuan sama dengan tujuan orang-orang melakukan perjalanan di masa lalu.

Sekarang ini banyak orang-orang melakukan traveling dengan berbagai cara dan gaya. Ada yang memakai gaya backpacker yaitu traveling dengan budget minim. Ada pula yang lebih memilih traveling ala koper, dimana orang-orang lebih mementingkan kenyamanan meskipun harus merogoh kocek lebih dalam. Btw, saya tiba-tiba tergugah untuk menulis tentang hal ini karena ada beberapa hal yang menarik untuk saya utarakan. Pertama, beberapa atau bahkan mungkin banyak orang merasa bahwa dirinya adalah seorang traveler sejati. Kedua, banyak orang yang saling mencibir gaya traveling ala koper maupun ala ransel. Ketiga, tujuan orang-orang dalam berlibur: dalam maupun luar negeri. Di postingan kali ini saya akan membahas poin pertama.

Statement seseorang yang menisbatkan dirinya sebagai seorang traveler sejati akhir-akhir ini lebih sering saya lihat. Misalnya di medsos, banyak yang mengunggah meme yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang traveler. Ada pula yang menggunakan kaos bertuliskan sebuah program bertema traveling di sebuah stasiun televisi yang rutin ditayangkan tiap akhir pekan. Traveling quote seperti "I'm A Traveler", "trust me I'm A traveler", dan sejenisnya banyak beredar dimana-mana. Memang, aktifitas traveling, ngetrip, ngebolang dan sebagainya sedang tren terutama di kalangan kawula muda. Banyak yang melihat tayangan-tayangan bertema traveling, melihat foto-foto hasil perjalanan orang-orang yang berlibur di tempat wisata tertentu maupun membaca buku atau artikel bertema traveling. Efeknya adalah tak sedikit di antara kita yang "terinfeksi virus" traveling lalu bersemangat untuk ikut menjelajah. Entah niatnya hanya sekedar ikut-ikutan tren atau memang murni ingin traveling. Terlepas dari dua hal itu, traveling bagi saya punya makna yang mendalam.


81. Pantai Samalona, Sulawesi Selatan
Samalona Beach, South Sulawesi

Bagi saya, traveling harus bisa menghasilkan sesuatu yang lebih. Saya sepakat dengan tulisan yang saya kutip dari Hanum Salsabila:  

"Hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekedar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekedar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Makna perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah".

Dari beberapa perjalanan yang pernah saya lakukan, saya bersyukur mendapat banyak hal-hal baru baik secara lahir maupun batin. Secara lahir tentunya saya dapat membeli buah tangan khas dari tempat yang saya datangi. Sedangkan secara batin mungkin bisa saya contohkan seperti ini: Ketika saya tengah menjalankan ibadah umrah, selain saya bisa merasakan suasana beribadah langsung di Tanah Suci, saya juga dapat melihat berbagai macam bentuk dan karakter jamaah lain dari berbagai negara di dunia. Di sana saya belajar bagaimana berinteraksi dengan orang baru, mengenal ciri mereka dan kebiasaan mereka. Dan yang terpenting dari itu adalah saya punya pengalaman yang tidak bisa tergantikan dengan uang atau harta. Bagi saya, pengalaman yang diperoleh dari traveling adalah suatu hal yang sangat berharga dan mungkin sulit atau bahkan tidak bisa didapat ketika kita hanya berdiam diri saja di rumah, kampus atau tempat kerja. Adapun pengalaman yang lain adalah ketika saya tengah berada di KL, saya dijamu dengan ramah oleh seorang  teman lama yang saya anggap seperti guru saya sendiri karena beliau sangat ramah dan dengan ikhlas mengantarkan saya berkeliling KL. Tidak hanya itu, beliau juga berperan seperti seorang tour guide yang menjelaskan banyak hal tentang KL, hal-hal yang boleh maupun yang tidak boleh dilakukan, hingga  isu-isu politik yang tengah hangat di sana maupun yang terjadi antara Indonesia-Malaysia. Seperti anak sendiri, beliau banyak memberi wejangan kepada saya tentang banyak hal dalam hidup. Cerita tentang ini akan saya posting belakangan.

Saya selalu yakin saya akan memperoleh pengalaman baru dimanapun dan kapanpun itu, meskipun dari pengalaman itu kita tidak selalu mendapatkan hal yang manis. Pengalaman baik maupun buruk dalam suatu perjalanan adalah hal dapat membijaksanakan kita jika kita menyikapinya secara positif. Dari sedikit perjalanan yang pernah saya tempuh (saya sebut begitu karena masih banyak tempat yang belum saya datangi), pengalaman terburuk (baca: terbaik) yang saya dapatkan dari traveling sampai saat ini adalah ketika saya "terdampar" di Thailand sebelum sampai ke Tanah Suci (silakan baca postingan Get Stranded in Bangkok: Pisah sama Ayah, Get Stranded in Bangkok (2): @Suvarnabhumi-Hotel, dan Get Stranded in Bangkok (3): Pending Lagi Deh)

Saya sering mendengar kalimat yang menyebutkan bahwa perjalanan itu adalah sebuah proses, bukan perhentian akhir. Ya, saya sepakat akan kalimat ini. Perjalanan adalah proses yang harusnya menjadikan kehidupan kita lebih berwarna, lebih bermakna dan tentunya menjadikan kita lebih bijak dari sebelumnya. Semakin sering kita melakukan perjalanan, semakin banyak belajarlah kita, sementara belajar harus dilakukan secara kontinyu dan tanpa akhir. Jadi menurut saya, kata traveler sejati itu sangat berat maknanya. Hal-hal positif yang didapat dari pembelajaran  selama traveling dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari, karena kehidupan itu sendiri adalah sebuah perjalanan menuju kehidupan berikutnya.

Senin, 08 Februari 2016

Mengunjungi Pusat Budaya Jawa di Kasunanan

Kita patut bersyukur hidup dan bertempat tinggal di Indonesia. Bagaimana tidak, negeri kaya dengan berbagai macam anugerah Tuhan ini memiliki banyak keunggulan yang dapat dibanggakan. Anugerah Tuhan tersebut diantaranya ada pada keragaman suku bangsa dan budaya. Saya sendiri sebagai warga negara Indonesia merasa kagum dengan ratusan atau bahkan mungkin ribuan suku yang ada. Di negeri inilah dari ujung terbarat hingga paling timur Indonesia tempat tinggal suku-suku tersebut dengan bahasa dan adat istiadat yang beragam. Tiap suku bangsa memiliki norma dan tata aturan yang berlaku dan masih dilestarikan hingga sekarang, seperti tradisi budaya Jawa yang masih terjaga di Surakarta.

Surakarta atau lebih dikenal dengan nama Solo adalah suatu kota di Jawa Tengah. Saya bilang kota ini adalah kota istimewa. Bukan hanya pendapat pribadi saya yang memang dibesarkan di kota ini, namun juga karena disinilah pusat kebudayaan Jawa berada dan masih dilestarikan hingga sekarang dengan Keraton Surakarta sebagai ikonnya. Ya, Keraton Kasunanan Surakarta merupakan istana tempat tinggal raja Surakarta beserta keluarganya hingga saat ini. pada zaman dahulu, istana berarsitektur campuran Jawa-Eropa ini menjadi pusat pemerintahan kerajaan yang terbentuk setelah adanya Perjanjian Giyanti antara kerajaan Mataram Islam dengan Belanda, yang membagi wilayah kerajaan menjadi dua yaitu Kesultanan Yogyakarta di Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta di Surakarta tahun 1755. Sebagian kompleks Keraton Kasunanan ini terbuka untuk umum dan ada yang dijadikan museum. Bermula dari tempat inilah tata aturan masyarakat Jawa di bawah pemerintahan Kerajaan Kasunanan Surakarta berasal termasuk acara-acara budaya seperti Grebeg Maulud, Sekaten, Kirab Malam 1 Sura dan lainnya yang masih ada hingga sekarang.

Bagian-bagian keraton Surakarta adalah Alun-alun Lor, kompleks Sasana Sumewa, kompleks Siti Hinggil Lor, kompleks Kamandungan Lor dan kompleks Sri Manganti, kompleks Kedhaton, kompleks Kamagangan, Kompleks Sri Manganti Kidul dan Kamandungan Kidul, kompleks Siti Hinggil Kidul dan Alun-alun Kidul. Tiap kompleks memiliki fungsi tersendiri. Alun-alun merupakan tempat diadakan upacara-upacara kerajaan. Alun-alun juga menjadi tempat bertemunya raja dengan rakyatnya. Lor berarti utara dan Kidul berarti selatan. Sasana Sumewa digunakan untuk menghadap raja oleh para pejabat menengah ke atas dalam upacara resmi kerajaan. Siti Hinggil Lor dengan bagian-bagian atau bangsal tertentu yang memiliki berbagai fungsi diantaranya adalah tempat diselenggarakannya upacara kerajaan, tempat singgasana tahta raja saat menerima para pimpinan dan tempat persemayaman pusaka kerajaan selama berlangsungnya upacara. Di tengah Siti Hinggil ini berdiri suatu bangunan kecil bernama Krobongan Bale Manguneng yaitu tempat persemayaman pusaka keraton Kanjeng Nyai Setomi, sebuah meriam yang diperoleh Mataram dari VOC saat menyerang Batavia. Meriam tersebut masih bisa disaksikan hingga sekarang.

Jika anda pernah melihat foto Keraton Surakarta, umumnya ditampilkan sebuah tempat berhalaman luas dengan bangunan bercat biru dan sebuah menara. Tempat berhalaman luas dengan bangunan bercat biru dikenal dengan nama Kamandungan Lor sedangkan menara yang berdiri di belakangnya disebut dengan Panggung Sangga Buwana yang terletak di kompleks Sri Manganti Lor.  

 Kompleks Kamandungan Lor  

Fungsi Panggung Sangga Buwana adalah untuk meditasi raja, melihat munculnya bulan baru sekaligus untuk mengawasi Benteng Vastenburg milik Belanda. Kompleks berikutnya adalah kompleks Kedhaton yang ditandai dengan bangunan berhalaman pasir hitam dari pantai selatan yang  ditumbuhi oleh bermacam pohon langka. Kompleks dengan beberapa bangunan utama ini berfungsi sebagai tempat bertahtanya raja ketika ada upacara kebesaran, tempat menyimpan pusaka, tempat menjamu makan tamu kerajaan, dan tentunya tempat tinggal raja dan keluarganya yang tidak bisa diakses oleh masyarakat umum. Kompleks Magangan dikelilingi bangunan-bangunan untuk menempatkan perlengkapan prajurit untuk hari-hari besar kerajaan sedangkan kompleks Sri Manganti Kidul dan Kamandungan Kidul digunakan saat upacara pemakaman raja maupun permaisuri. Di sekitar Kori Kamandungan Kidul terdapat pelataran yang terbuka untuk umum. Kompleks terakhir keraton adalah Siti Hinggil Kidul. Perbedaannya dengan kompleks Siti Hinggil Lor selain letaknya adalah kemegahan bangunannya dimana kompleks Siti Hinggil Kidul lebih sederhana mulai dari material dan arsitekturnya. Di kompleks ini terdapat kerbau albino pusaka kerajaan yang dikenal sebagai Kyai Slamet. Sebelah selatan Siti Hinggil Kidul adalah Alun-Alun Kidul yang sekarang ramai dijadikan sebagai tempat hiburan rakyat warga Solo dan sekitarnya di malam hari. Selain bangunan Keraton, terdapat pula bangunan peninggalan kerajaan Kasunanan Surakarta yang masih ada hingga sekarang seperti Masjid Agung Surakarta di sebelah barat keraton. Benteng Vastenburg peninggalan Belanda pun masih berdiri tak jauh dari keraton

 Panggung Sangga Buwana terlihat dari Jalan Supit Urang

Untuk urusan oleh-oleh khas Solo yaitu batik, anda tidak perlu khawatir karena anda bisa berbelanja dengan mudah di Pasar Klewer yang merupakan pusat tekstil dan batik terbesar di Indonesia, Pusat Grosir Solo (PGS) dan Beteng Trade Center (BTC). Selain itu, di sekitar keraton juga banyak pedagang cinderamata khas Solo. Anda juga wajib mencoba wisata kuliner Solo yang terkenal nikmat yang ada di sekitar tempat-tempat tadi. Semuanya dapat dijangkau dengan mudah dari Keraton Kasunanan Surakarta dengan berjalan kaki sekalipun.

Bagaimana, anda tertarik berkunjung ke pusat budaya Jawa ini? Mudah sekali caranya. Karena kota Solo berada di tengah jalur yang menghubungkan daerah Jawa bagian barat dan timur, banyak moda transportasi baik via darat maupun udara yang tersedia setiap hari ke kota ini. Misalnya untuk perjalanan udara dari Soekarno-Hatta ke Bandara Internasional Adi Sumarmo Solo, anda hanya membutuhkan waktu kurang lebih satu jam dengan pilihan berbagai maskapai penerbangan seperti Garuda Indonesia. Perjalanan selanjutnya ke Keraton Kasunanan Surakarta dan sekitarnya dapat dilanjutkan menggunakan transportasi darat yang dengan mudah ditemui di sekitar bandara maupun di jalanan kota. Bermalam di kota ini pun tidaklah sulit karena banyak hotel bertebaran di kota ini. Tinggal pilih sesuai budget dan fasilitas yang diinginkan dan selamat menikmati warisan budaya kota Solo, The Spirit of Java.

Kamis, 19 Februari 2015

Sebelum Melancong ke negeri Gajah Putih


 Bagi yang mau liburan/merencanakan liburan di Thailand, aku ada sedikit info nih, smoga bisa membantu :)
  • Bahasa dan aksara: 
Bahasa dan aksara resmi negara ini adalah bahasa Thai, tapi bahasa Inggris umum dipake dalam dunia pariwisata disini.
  • Mata uang: 
Thailand Baht (THB). 1 THB= +/-Rp. 350 atau tergantung kurs. Nuker mata uang bisa dilakuin di Bank Sentral/bank2 yang ada tulisan "currency converter". Sepengetahuanku, bank2 di Bangkok yang aku liat bisa buat nuker mata uang. Atau kalau ga pas di airport banyak banget currency converter tapi biasanya harganya lebih mahal daripada nuker di bank.
  • Zona waktu: 
Sama dengan di Indonesia bagian barat/WIB
  • Visa: 
Semua negara ASEAN bebas visa buat WNI. Batas waktu biasanya max. 30 hari. Ada juga yang hanya 15 hari jika masuk via darat.
  • Transport:
# Indonesia-Thailand 
  1. Dari Jakarta bisa naik GIA, Thai Airways, Air Asia, Tiger Air, Singapore Airlines, dan Lion Air. Tiket PP normal sekitar 3 jutaan dengan durasi terbang 2 jaman lebih.
  2. Selain Jakarta bisa juga dari Denpasar pake Thai Airways/Air Asia. Durasi terbang 3 jam-an lebih lah dengan harga tiket PP >3 juta. 
Bangkok punya 2 int. airport: Don Mueang dan Suvarnabhumi. Don Mueang dikhususin buat budget airlines macam Air Asia, Lion Air dkk sama maskapai domestik Thailand, Nok Air. Kalau Suvarnabhumi khusus untuk jalur internasional dan non budget airlines. 2 airport ini dihubungkan sama shuttle bus yang berangkat tiap 30 menit dengan waktu tempuh +/- 45 menit dan gratis buat calon penumpang dengan nunjukin bukti tiket pesawat.

Kalau pengen dapet tiket lebih murah bisa cari tiket promo dengan sering2 liat tiket promo OL. Nah, kemaren sempet liat promo Jakarta-Bangkok PP cuma 1,3 juta loh! Mayan kan...
# Airport-dalam kota
Di Bangkok ada 3 terminal bis: Ekamai (terminal bis timur), Mochit (terminal bis utara) dan Sai Thalling Chan (terminal bis selatan). Bangkok juga punya stasiun utama Hualampong dan hanya ada satu stasiun utama itu di Bangkok. Ada juga Bangkok Sky Train (BTS) yaitu jalur kereta yang dibangun di atas jalan raya dan punya 2 jalur: Siam Line (barat-selatan) dan Sukhumvit Line (timur ke Mochit di utara). Kedua jalur ini ntar ketemu di Stasiun Siam. Tarifnya THB 15-42 dengan jam operasi pukul 06.30-24.00. Ada juga Mass Rapit Transit (MRT)/Subway/kereta bawah tanah yang hanya ada 1 jalur aja. Tarifnya THB 16-40 dengan jam operasi sama kayak BTS. BTS sama MRT dibangun buat mengantisipasi kemacetan di Bangkok.

Tiket buat BTS/MRT bisa dibeli di mesin tiket yang tersedia dan alhamdulillah ada pilihan bahasa Inggrisnya :) O iya ada 2 macam tiket: Single Journey Ticket sama One Day Pass. SJT hanya bisa dipake di hari itu aja. Nah, kalau mau kemana2 pake BTS/MRT bolak-balik mending pake yang ODP.
  1. Dari Suvarnabhumi:
    ^  Bis umum dengan tarif THB 35
    ^ Airport rail link THB 45 ke stasiun BTS Phaya Thai trus sambung lagi pake BTS ke itinerary tujuan.
    ^ Taksi. Biasanya dari airport harga borongan +/- THB 500 udah termask surcharge
  2. Dari Don Mueang: 
^ Airport bus THB 30
^ Taksi ke BTS Mochit THB 100. Kalau sesuai argo ke dalam kota sekitar THB 200.
^ Kereta ke Stasiun Hualampong kelas 1 tarifnya THB 21, kelas 2 THB 11 dan kelas 3 THB 5
  • Tips
  1. Kalau mau pergi2 jarak dekat dan ber-4 lebih baik naik taksi, soalnya tarif jarak dekat biasanya minta borongan THB 100. Kalau pake argo ga bakal lebih dari THB 100, lebih irit daripada naik BTS/MRT. Bisa juga naik bis kota ber-AC THB 10-25, non AC THB 10. 
  2. Bagi yang pengen nyoba transportasi khas Thailand bisa naik tuktuk dengan tarif THB 50-100 (bisa nego) untuk jarak dekat. 
  3. Nah, kalau kami dulu city tour pakai mobil van yang muat sampe 8 orang. Kalau rombongan banyak lebih nyaman naik mobil van deh. Harga sewa+supir+BBM keliling Bangkok +/- THB 800-1600 tergantung jaraknya.
  4.  Thailand beriklim tropis kayak Indonesia. Kapan aja mau kesana nggak masalah buat orang Indonesia. Untuk cuaca dan iklim, bulan Nopember-Pebruari udara biasanya agak dingin daripada biasanya. Bulan Maret-April berhawa  panas dan musim hujan biasanya ada di bulan Mei-Oktober. 
Yup, itu dia infonya, ga banyak sih, tapi moga aja bisa bantu bagi yang mau melancong ke sono :)

Selasa, 27 Januari 2015

Sightseeing at Ramkhamhaeng Night Market

Postingan sebelumnya udah aku ceritain soal city tour di Thailand sebelum balik ke Indonesia. Gimanapun juga pengalaman "nyasar" di sini tetep berbekas di hati dan pikiran (lebai dikit ah...). Gimana enggak coba, mulai dari kesasar dan ga tau harus berbuat apa2 sampai bisa jalan2 keliling kota. Dan aku sadar ini semua adalah kehendakNya. Ambil hikmahnya aja lah, aku bisa jalan2 gratis dan ketemu dengan orang2 baik yang udah nolongin kami disini, Alhamdulillah...

Ngomong2 soal Thailand, aku pasti inget pengalamanku yang satu ini dan pengen balik ke sana lagi. Bagi yang pengen ke sana bolehlah ajak2, he3... Apalagi kemaren aku sempet liat ada promo tiket awal bulan Pebruari Jakarta Bangkok PP dengan harga 60% lebih murah loh... kyaaaaa.....

Aktivitas kami di sini sebenernya biasa aja sih mulai dari pagi hari bisa dibilang ga beda kayak kami di Indonesia: bangun pagi, sholat subuh, mandi, sarapan. Pas sarapan aku suka banget minum coklat panas pake krimer tanpa gula sama bikin roti tawar panggang barengan sama penghuni hotel lain, hehe... abis sarapan biasanya para jamaah kembali ke kamar hotel ga terkecuali kami, kecuali jika bu kabiro ngajak ayah dan beberapa jamaah laki2 buat berembug di lobi atau musholla hotel atau ngajak aku/adek ngurusin kelengkapan buat para jamaah. Aku sama bu kabiro abis sarapan sering ke kantor Pak G yang letaknya ga jauh dari hotel tempat kami menginap, Regent. Disana kami ketemu sama Pak G, Ust. S dan beberapa stafnya yang ramah dan siap bantu kami

Pernah pas pagi2 abis subuh kami sekeluarga jalan2 di sekitar hotel, masuk ke kawasan kompleks pemukiman penduduk. Daerah yang dekat dengan hotel adalah kawasan pemukiman muslim. Makin masuk ke kompleks adalah pemukiman umat budha, terlihat ada altar2 kecil lengkap ama dupa dan sesaji bunga khas Thailand. Kami terus jalan sampai akhirnya nemu pemukiman orang kristen evangelist Korea. Kami ga berlama-lama disitu karena banyak anjing penjaga berkeliaran di depan rumah2 besar berdesain gotik yang selalu tertutup rapat. Akhirnya kami memutuskan kembali ke hotel karena hari sudah mulai siang dan lanjut sarapan di restoran hotel.

Selama perjalanan kembali ke hotel kami sering membandingkan rumah2 di sini dengan di Indonesia. Di sini, rumah2 kebanyakan memiliki taman atau sekedar tanaman2 yang ditata rapi di depan rumah. Banyak juga rumah yang pake pagar alami (pohon2an) sebagai pembatas rumah dengan jalan. Rumah2 disana juga memasang 2 bendera di pagarnya, bendera negara dan yang 1 bendera warna kuning yang aku ga tau bendera apa itu. Mungkin lambang kerajaan Thailand kali ya...

Pas siang/sore bahkan malam bu kabiro juga biasanya ngajak aku/adek ke sevel buat beli pulsa/barang2 kebutuhan sehari-hari. Karena bu kabiro ga bisa basing maka aku sama adek yang sering diajak kemana2 mulai dari ke kantor Pak G, sevel, bank, mall bahkan pasar tradisional di Ramkamhaeng. Kadang para jamaah juga sering nitip barang2 keperluan jadi kesempatan ini aku ambil sekalian jalan2 di Ramkamhaeng, hehehe...

Ketika pagi keluar hotel menuju jalan utama Ramkhamhaeng yang jaraknya kira2 50 m aja udah bisa nemu para penjual kaki 5 yang jualan di trotoar. Barang2 yang dijual macem2 mulai dari makanan, pakaian, lapak koran, bunga untuk sembahyang umat budha, obat2an tradisional dll, hingga pengamen jalanan pun ada di sini, mirip banget sama pasar di Indonesia. Makanan macam2 dan hampir mirip sama masakan Indonesia. Makanan berat macam nasi dan bubur untuk sarapan, lauk pauk dan masakan macam kuah kari, tumis, dan mungkin sejenis balado yang penah aku liat ada disitu. Jajanan pasar khas Thailand pun banyak dikerumuni pembeli. Aku juga liat banyak yang jual sate2an macam sate sosis dkk yang sekarang masih ngehits di Indonesia. 


Thailand street food
64. Thai street food. Mirip jajanan di Indonesia ya
Source: pinterest.com
 
Semuanya terlihat yummy tapi aku ga pernah beli makanan2 itu karena ga tau apakah itu halal apa ga. Dan lagi, Ust. S yang asli orang Thai juga memperingatkan untuk ga beli makanan/minuman di situ kecuali yang label halal/menuliskan moslem food di kedai/lapaknya. Kami pun nurut. Yang pernah kami beli adalah buah2an di penjual gerobak macam penjual rujak di Indonesia. Pas itu bu kabiro penasaran sama buah yang mirip kedondong tapi sizenya lebih kecil. Si bapak penjual pun mengisyaratkan kami buat nyoba, dan ternyata rasanya mirip jambu. Kami pun beli trus sampai di hotel kami bagi2in ke jamaah.

Makin sore, suasana makin ramai. Di sepanjang jalan Ramkhamhaeng ini banyak banget pedagang kaki lima yang buka lapak, karena mulai pukul 15.30-22.30, adalah saatnya Ramkhamhaeng Night Market. Ya, pasar malam yang buka tiap hari ini jual macam2 barang keperluan sehari-hari ga jauh beda kayak pas pagi hari, tapi dengan suasana yang lebih semarak karena barang2 yang dijual lebih bervariasi. Pokoknya ni tempat cucok banget buat para backpacker yang mau berburu makanan, barang2/oleh2 dengan harga miring. Kemampuan nawar harga di sini sangat diperlukan guys...


Ramkhamhaeng
65. Suasana sore menjelang Ramkhamhaeng Night Market. Ada bebeapa lapak yang udah buka

Ramkhamhaeng Night Market
66. Walk along at Ramkhamhaeng Night Market
Source: http://inter.tourismthailand.org/fileadmin/upload_img/Attraction/6200/Ramkhamhaengeng.jpg


Ramkhamhaeng Night Market
67. Ramkhamhaeng Night Market dekat Universitas Ramkhamhaeng
Source: http://johnsonism.com/wp-content/uploads/2014/04/market-640x372.jpg

Selain pasar tradisional dan night market, di sepanjang jalan Ramkhamhaeng ini juga ada beberapa pusat perbelanjaan modern. Sebut saja Central Power Center Huamark, Fashion Island, Huamark Town Center, The Mall Bangkapi, The Mall Ramkhamhaeng 2 dan 3 ada di situ. Banyak juga kios2 yang menjual berbagai macam barang2. Yang terdekat sama hotel Regent adalah Huamark Town Center, so, aku sering kesana sama bu kabiro. Pernah juga kami sekeluarga kesana beli camilan skalian jalan2. Pernah juga cuma berdua sama adek ngemall kesono daripada tiduran di kamar hotel, wkwkwk

Sekilas tentang daerah bernama Ramkhamhaeng adalah daerah luas di distrik Bangkapi yang ada di sepanjang jalan Ramkhamhaeng, jalan arteri utama di Bangkok Timur sepanjang 18 km. Nama daerah ini diambil dari nama raja ketiga Dinasti Phra Ruang dari Kerajaan Sukhotai. Raja yang berkuasa dari tahun 1279–1298 ini berjasa membuat aksara Thai. Selain itu raja ini juga jadiin agama budha jadi agama kerajaan saat itu. 


Layaknya daerah kota besar, Ramkhamhaeng di pagi dan sore hari juga ga lepas dari macet. Banyak orang yang pergi ke tempat kerja maupun mahasiswa/i yang mungkin berangkat kuliah. Ada 2 universitas di sini, Ramkhamhaeng University sama Assumption University. Ramkhamhaeng University berdiri sejak tahun 1971 yang alumninya banyak jadi orang sukses di negeri Gajah Putih ini. Sebut saja Mario Maurer (model & aktor Thailand), Abishit Vejjajiva (Perdana Menteri Thailand ke-27) dan masih banyak lagi. Stadion Rajamanggala yang terkenal yang sering dipake buat turnamen sepakbola ASEAN juga terletak di pinggir jalan arteri ini.

Rabu, 22 Oktober 2014

Feels Like A Home

Kejutan2 muncul sebelum kami berangkat ke Tanah Suci. Mulai dari negeri Gajah Putih ini hingga kami kembali ke Tanah Air. Nah, waktu kita sampai malem2 di hotel, dan kami sekeluarga makan malam disana, kami sebangku sama orang yang bantu kami yang ketemu di Suvarnabhumi. kamipun ngepoin orang itu, karena kami penasaran dia mau bantu jamaah kami. ternyata dia seorang ustadz, importir, plus mahasiswa program doktoral yang punya saham di hotel yang kami diami saat itu. Yang bikin ga nyangka lagi, beliau ini kuliah S1 di Indonesia, tepatnya di salah satu universitas ternama di Jogja. So beliau bisa cas cis cus ngomong Indonesia dan sedikit Bahasa Jawa. Sebut saja Ust. S

Pagi menjelang. Setelah sholat subuh, mandi dan sebagainya kami kembali ngisi perut di resto. Disana sudah ada Ust. S yang dengan ramah ngajakin para jamaah makan. Meskipun hari itu aku belum bisa berangkat ke Tanah Suci, aku tetep yakin esok atau lusa kami akan berangkat. Ya, berangkat bukan dari negeri sendiri, berangkat dari negeri yang muslimnya jadi minoritas namun keliatan tinggi banget ukhuwahnya. Dan aku kagum dengan hal itu :)

Selama disana, aku sering nemenin ibu kabiro ngurusin e-tiket dan kelengkapan pemberangkatan ke Tanah Suci. Aku jadi sering ketemu sama Ust. S, orang KBRI di Thailand dan tentunya, jalan2 di kota, hehehe (ini yang gue suka :D). Ust. S ini juga punya usaha agen tiket dan biro perjalanan wisata barengan sama pemilik hotel yang kami diami, jadi semua hal yang berhubungan dengan transportasi dan akomodasi kami selama berangkat dibantuin sama beliau dan temen2nya, termasuk pemilik hotel yang secara khusus menjamu kami dengan apik banget pas malemnya.Disini aku bisa belajar tentang gimana ukhuwah Islam itu bener2 terbangun. Aku juga belajar banyak hal dari Ust. S, orang KBRI dan semua yang udah bikin aku makin banyak wawasan disini.

Pemilik hotel ini, Pak G dan istrinya menjamu kami dengan ramah malam itu. Semua makanan andalan di hotel itu dimasak khusus buat kami para jamaah umrah. Kami bener2 seperti jadi tamu kehormatan kala itu. Tom Yam dan aneka hidangan khas negeri gajah putih tersaji di meja makan kami. Pak G pun ga segan buat melayani kami bak waiter. Ya Allah, aku bersyukur bisa ketemu saudara seimanku disini :') Nah, pas aku sama ibu kabiro ngurus e-tiket buat ke Tanah Suci, Pak G ini cerita kalau anak pertamanya nyantri di Indonesia, tepatnya di Jawa Barat tapi aku lupa nama ponpes sama daerahnya dimana. Itulah sebabnya Pak G sering ke Indonesia buat jenguk anaknya atau buat urusan bisnis.

Banyak hotel dan tempat makan halal dari yang harga kaki lima hingga bintang lima disana. Tinggal pilih sesuai kecukupan kantong aja. O iya sekilas tentang hotel tempatku berdiam saat itu, namanya Hotel Regent. Ini hotel letaknya di daerah Ramkamhaeng, di kawasan muslim Bangkok. Hotel ini deket sama Ramkhamhaeng Univ. Gampang dijangkau dengan angkutan umum dan deket sama pusat perbelanjaan dari pasar tradisional hingga mall.

53. Lokasi Hotel Regent (Aku yang di Ramkhamhaeng)
(Source: www.koh-samet.org)

Banyak muslim yang menginap disitu mulai dari orang berwajah Melayu, India, Indocina, hingga Timur Tengah. Dengan slogan hotel "Feels Like A Home", aku rasa emang bener karena itu yang aku rasain selama disana. Aku seperti ketemu keluarga besar disini :) Lebih lengkapnya silakan kunjungi web hotelnya Regent Hotel & Apartement

54. Tampilan Depan Hotel Regent
(Source: www.regentram.com)

Sambil nunggu kepastian keberangkatan, aku sering jalan2 di sekitar hotel. Meskipun kawasan muslim, tapi kita kudu tetep ati2 karena ga semua pedagang makanan disana muslim. So untuk amannya beli makanan di tempat yang ada tulisan "halal" dan atau "muslim food".

Segini aja dulu deh ya... Di postingan berikutnya bakalan aku ceritain deh keadaan Ramkamhaeng dan apa aja yang ada disana. So be patient waiting my next post ;)

Minggu, 21 September 2014

Get Stranded in Bangkok (3): Pending Lagi Deh

Ini masih kelanjutan yang kemaren. Sembari menunggu pagi kami tiduran, ngemil sama nonton TV. Macem orang males aja nih kami, hahaha. Lah abisnya emang ga ada aktifitas penting lain. Ya karena emang kami ga ada maksud dan tujuan kesono (Bangkok). Pas itu aku iseng foto2 makanan (aku nyebutnya dish) yang kami bawa dari Solo (karena emang ga ada kerjaan sih...)

50. Camilan seadanya

Abis sholat subuh berjamaah, muncul rasa ingin tauku pengen liat suasana Bangkok di pagi hari kayak apa. Apakah macet kayak Jakarta atau gimana. Aku yang pas duduk di sebelah jendela langsung buka tirai dan seperti inilah Bangkok in the morning.

 51. Bangkok in the Morning






52. Pagi Berkabut di Bangkok

Sebenernya ga terlalu beda dengan Jakarta sih... cuma disini mungkin ga sepadet ibukota Indonesia tercintah dan pengguna jalan bener2 tertib lalin. Macet pun ga berjam2 kayak di Jakarta. Transportasi umum juga banyak, tapi lebih nyaman ketimbang di negeri sendiri.

Oke, mari kembali ke topik. Jadi hari itu rencananya kami akan ke Suvarnabhumi lagi buat berangkat ke Tanah Suci. Hari itu juga pihak biro berjanji akan datang ke Suvarnabhumi bareng sama jamaah yang "tertinggal" di Jakarta, termasuk ayah. Akhirnya setelah sarapan pagi, kami dipandu Sam, pemandu kami disana untuk menuju bus dan otw Suvarnabhumi. Lets go!

Sampai di Suvarnabhumi Sam pun pamit dan bilang kalau nanti pihak biro akan datang. Sam pun menghilang diantara kerumunan orang banyak. Waktu terus berjalan dan ga ada tanda2 kedatangan jamaah dari Indonesia. Kami pun mulai bingung. Tiba2 ada telpon dari biro dan mengatakan sebagian (besar) dari kami harus berangkat duluan. Otomatis rombongan kami terbagi lagi jadi 2 rombongan yang ga sama besar. Banyak jamaah yang emosi dan mungkin kecewa karena ada beberapa dari anggota keluarga mereka terpisah karena ga bisa berangkat bareng. Tapi mau gimana lagi, tiket udah dipesan dan akhirnya rombongan tadi berangkat duluan. Tapi aku masi bersyukur karena aku, ibu dan adek ga terpisah. Bayangin aja kalau misal kami 1 keluarga terpisah berangkat ke Tanah Suci. Terpisah di Bangkok aja udah ga enak. Apalagi di sana ya? 

Keadaan diperparah dengan salah 1 ibu rombongan kami yang marah2 karena dia merasa ditipu oleh biro. Dia mau lapor ke pihak keamanan bandara. Kami yang liat langsung berbisik ngucap istighfar. Lalu beberapa rombongan kami (termasuk ibu) berusaha nenangin tu ibu2. Akhirnya emosi dapat diredam. Tapi, si ibu tadi tetep ngeyel dan berusaha ngehubungin kabiro kami di Jakarta. Dia lalu bawa aku (karena dari rombongan kami yang lancar bahasa Inggris cuma aku) ke pihak2 yang ada di airport. mulai dari security, informasi, sampai ke money changer karena dia pengen telpon kabiro. Di Suvarnabhumi ada telpon koin so kita kudu tuker rupiah ke baht dalam bentuk receh. 

Akhirnya si ibu tadi capek sendiri dan kembali duduk di bangku tempat kami kumpul. Beberapa jamaah kembali nenangin dan nyuruh si ibu buat istighfar. Aku, ibu dan adek alhamdulillah ga terpengaruh sama sikap si ibu tadi. Aku sendiri yakin, haqqul yaqin malah, kalau Allah memang mengundang kami ke Baitullah namun dengan sedikit ujian macam ini. Aku ingat ada ayat AQ yang bilang kalau kita tidak boleh putus asa dari rahmatNya. Dan itu terbukti kami bisa ke Tanah Suci (baca postingan2 yang dulu2 yaa :))

Aku lalu coba telpon ayah via ponsel namun ga ada jawaban. Akhirnya dengan modal koin baht yang aku punya, aku sama salah satu rombongan kami, sebut saja Pak K menuju telpon umum dan coba telpon ayah dan kabiro. Pun ga nemu hasil apa2. Waktu jalan terus dan aku sama Pak K masih berkutat dengan koin dan telpon umum. Akhirnya kami kembali ke bangku dan bilang kalau kabiro ga bisa dihubungi. Aku nangkep muka2 kecewa dari para jamaah. Kami sedang diuji. Tapi ga lama kemudian ada pesan masuk di ponselku. Ternyata salah seorang dari biro mengabarkan kalau rombongan Jakarta (termasuk ayah) sudah sampai di Bangkok via di Don Mueang Airport. Kami lalu ngucap syukur dan nunggu kedatangan mereka. 





Minggu, 06 Juli 2014

Pengalaman Unik di Corniche


Ga terasa udah 1 taun dari Tanah Suci. Waktu itu cepet banget jalannya. Aku inget kami pulang dari sana akhir bulan Sya’ban atau awal Juli dalam hitungan masehi saat itu. Perjalanan jarak jauh Madinah-Jeddah akhirnya terlewati. Saat itu hari sudah masuk malam. Sebelum menuju King Abdul Aziz International Airport, kami menuju sebuah kawasan perbelanjaan di daerah Corniche. Namanya diambil dari istilah Perancis yang artinya jalan pantai karena emang ada di pinggir Laut Merah (ingat postingan sebelumnya kalau Jeddah ada di pinggir Laut Merah). Kawasan ini rame banget apalagi di malam hari karena selain jadi kawasan perbelanjaan juga banyak ditemui hotel sama rumah makan dan lagi saat itu terus dibangun tempat2 sejenis. Banyak banget orang2 yang meluangkan waktunya buat makan, belanja, atau sekadar jalan2. Di pinggir jalan berjajar toko2 sovenir khas Timur Tengah. Memang, kawasan ini biasa dikunjungi para jamaah haji/umrah untuk membeli berbagai macam buah tangan buat dibawa pulang untuk famili dan teman2 mereka di tanah air.

Ada sebuah toko yang cukup ramai karena katanya itu toko ngejual barang2 khas Timur Tengah dengan harga miring daripada toko2 lainnya. Rombongan kamipun masuk. Ternyata para pegawai di toko itu kebanyakan dari Indonesia, pun toko2 sebelahnya. Di toko yang aku sambangi itu ternyata kepunyaan orang Indonesia yang nikah sama warga negara Bangladesh dan menetap disana. Makanya 95% pegawainya berasal dari Indonesia.

Nah, mau tau pengalaman unik yang aku alami? Oke. Jadi ceritanya bermula pas aku masuk salah 1 toko sovenir haji/umrah dan aku tertarik liat barang2 yang dijual disana. Pas itu ada salah 1 pegawai yang nyamperin aku. Dengan ramah dia nyapa dan nawarin barang2 disitu. Aku kira dia orang Arab asli yang fasih banget berbahasa Indonesia. Sambil liat2 barang2 yang dijual disana dia sempat bertanya darimana kami berasal. Aku yang merasa ditanya saat itupun menjawab kalau kami dari Solo. Abis denger jawabanku, pegawai toko tadi spontan langsung menjawab bahwa dia juga dari Solo yang udah lama kerja di Jeddah. Yaaa... sekitar 5 menit lah dari rumahku. Jadi ceritanya aku ketipu karena ngeliat ciri fisiknya yang memang dia orang keturunan Arab, tapi ternyata dia orang Solo keturunan Arab, bukan orang berkewarganegaraan sana, hehe. Nah, karena sama2 orang Solo, nyambunglah kita. Dan tambah nyambung ketika si mas pegawai tadi bertanya dimana dulu aku sekolah. Aku jawab aku pernah sekolah di SMA Al-Islam 1 Surakarta (alumni yang baik sekalian promosi sekolahnya di blog yaa :D). Dan ternyata kami berasal dari sekolah yang sama! Ga sampe disitu, mas pegawai yang lulus SMA di taun 99 itu ternyata masi inget nama guru2 kami. Dia dengan lancar nyebutin satu2 guru2 SMA kami. Kalau ada pemilihan alumni teladan mungkin masnya ini bisa jadi kandidat kuat deh. Jadi kami malah kayak nostalgia zaman2 SMA dulu. Cerita2 waktu kami masih SMA dulu. Tentunya di masa sekolah kami masing2. aku berasa ketemu keluarga sendiri di Jeddah. MasyaAllah... dunia jadi berasa sempit kalau kayak gini.

Waktu kami berkeliling pun abis. Kami pun menuju bus untuk menuju ke airport dengan barang belanjaan masing2. Sekali lagi, rasanya berat ninggalin Tanah Suci meski kami udah ada di Jeddah. Buatku, pengalaman umrah ini adalah pengalaman yang terunik yang pernah aku alami dalam hidup. Mulai dari perjalanan yang penuh kejutan, ibadah umrahnya yang penuh kejutan, sampe kejutan ketemu kakak (tepatnya sesepuh) kelas ini. Dan kejutan2 ini bukan kebetulan. Karena buatku ga ada yang namanya kebetulan. Semua hal udah Allah rancang. Allah udah merencanakannya buatku, keluargaku, rombongan umrah kami dan buat orang2 yang berhubungan dengan kami semuanya. Begitupun waktu kami pulang nanti. Semuanya saling terkait.
Perjalanan yang jauh terlewati dan sampailah kami di King abdul Aziz International Airport, bandara khusus jamaah haji/umrah. Sekali lagi aku sebenernya enggan gerakin badan, jalan dan turun dari bis. Apalagi sebelumnya muthawif kami udah pamitan duluan. Tapi emang udah saatnya aku balik. Ransel udah digendong, dan siap2 turun. Aku selalu berharap suatu saat nanti aku akan kembali ke Tanah Suci. Bukan Cuma untuk umrah, tapi juga haji, amien...

Postingan Populer

Sesame Street Elmo 2