Translate This Article

Tampilkan postingan dengan label Depok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Depok. Tampilkan semua postingan

Selasa, 08 Oktober 2019

Thailand Lagi, lagi-lagi Thailand

Rasanya sudah lama sekali tidak menulis di laman ini. Banyak cerita perjalanan yang urung dituliskan sehingga hanya disimpan di benak saja. Dengan alasan "sok sibuk" kini saya kembali ke dunia perblogan (ecieh) untuk kembali menuliskan catatan perjalanan yang belum sempat dituangkan. Selain ingin share pengalaman perjalanan, yang terpenting dari menulis disini adalah satu: melawan lupa. bagi saya mendapatkan pengalaman baru ketika sedang traveling adalah hal yang sangat berharga, lebih berharga dari barang-barang mewah yang mungkin saya miliki.

Ok, kali ini saya hendak berbagi cerita tentang perjalanan backpacking saya dan teman-teman ke dua negara yaitu Thailand dan Malaysia selama tujuh hari. Rute kami adalah Indonesia-Thailand-Malaysia-Indonesia. Awalnya, saya hanya merencanakan perjalanan ini dengan teman kuliah sekaligus roommate saya, sebut saja si C. Lalu kami berpikir alangkah baiknya kalau kami mengajak teman lain yang ingin ngetrip juga kesana. Akhirnya kami menemukan dua orang teman lagi yaitu si H dan si I, namun dua orang ini hanya ikut hingga Thailand saja tanpa ikut ke Malaysia karena terkendala izin cuti kerja mereka yang hanya sebentar. Jadilah saya dan si C yang ngebolang ke Malaysia berdua.

Hari itu tanggal 17 Pebruari 2016 kurang lebih jam 9 malam saya dan C berangkat dari Depok menuju hotel Bumi Wiyata Depok menunggu bis Hiba Utama tujuan Soetta. Sebenarnya pesawat ke Thailand terbang pukul 6.30 WIB keesokan harinya, namun karena bis Hiba dari Bumi Wiyata waktu itu hanya ada sampai pukul 22.00 saja, maka kami putuskan berangkat malam itu. Perjalanan malam ternyata bisa ditempuh dalam waktu singkat sehingga tidak membutuhkan waktu lama. Kurang lebih jam 10 malam kami sudah tiba di Soetta. Karena waktu keberangkatan masih lama, akhirnya saya dan C tidur di kursi bandara bersama para penumpang asing yang mungkin juga sama-sama menunggu penerbangan esok hari. Saya dan C akan bertemu dengan 2 orang teman lain yaitu H dan I keesokan harinya saat boarding.

Kali itu kami menggunakan Batik Air dari Jakarta kemudian transit di Changi (Singapura) dan beralih ke Thai Lion Air menuju Bangkok. Kami mendarat di Don Mueang International Airport (DMK). Dari sini kami menunggu teman C, sebut saja si K yang warga asli Thailand untuk menemani kami selama di Thailand, namun ternyata K tidak bisa menemui kami siang itu karena alasan pekerjaan. Untungnya saya dan C sempat browsing transportasi umum dari DMK ke Khaosan Road, tempat hotel kami berada. Kami pun naik shuttle bus berlabel A2 bersama dengan para turis asing lain yang sepertinya memang searah dengan kami ke Khaosan Road, pusat backpacker Thailand. Sekedar info, terdapat dua shuttle bus yang berada di DMK di tahun itu yaitu shuttle bus A1 dan A2. 

Bis yang kami naiki waktu itu ternyata tidak langsung menuju Khaosan Road. Kami pun harus turun di halte Mo Chit yang letaknya tepat di sebelah tangga menuju Mo Chit BTS Station (semacam Skytrain) mencari bis tujuan Khaosan Road. Karena ini pengalaman pertama kami ke luar negeri tanpa ikut agen tur, kami pun harus bertanya kepada warga sekitar yang lalu lalang disekitar halte. Warga Thailand yang kami tanyai pun bermacam-macam mulai dari tukang ojek pengkolan (tukang ojek disana memakai seragam jaket oranye), pedagang asongan, dan berakhir di pekerja kantoran karena hanya orang ini yang paham maksud dan tujuan kami kenapa kami ada disini. Kami berkomunikasi dengan bahasa Inggris dan seperti kebanyakan masyarakat Indonesia, warga Thailand pun masih banyak yang belum bisa berbahasa Inggris. Nah, setelah mendapat penjelasan dari mbak2 dan mas2 pekerja kantoran yang kami temui akhirnya kami berjalan turun ke bawah dan menunggu bis nomor 44 yang mengantar kami hingga ke dekat Khaosan Road tepatnya di Victory Monument. Oiya, nanti saya ceritakan soal transportasi di Thailand terutama bisnya karena selama di Thailand kami sering menggunakan moda transportasi ini :)

Sepanjang perjalanan saya melihat suasana jalan yang kami lalui. Suasana jalan raya layaknya di Jakarta yang khas dengan kendaraan bermotor dan gedung-gedung di kiri kanan jalan. Bedanya waktu itu di Thailand sudah ada skytrain sehingga banyak "rel melayang" di atas jalanan yang kami lewati. 

Perjalanan dari Mo Chit diperkirakan 15 menit, namun karena waktu itu sudah masuk masa orang-orang pulang kerja maka jalanan sudah mulai agak ramai sehingga sampai ke Victory Monument (monumen tempat kami turun dari bis no 44) ditempuh dalam waktu kurang lebh 1 jam. Dari situ kami melihat papan penunjuk jalan dan melihat bahwa jika kami hendak ke Khaosan Road kami harus menyeberang jalan. Tidak berapa lama kemudian kami sudah masuk ke Khaosan Road, kawasan backpacker di Thailand...

Rabu, 04 Mei 2016

Kulineran di Makassar

Ini dia beberapa menu tradisional Sulawesi Selatan yang ada di Makassar yang aku dan teman-teman santap. Makanan pertama yang aku icip adalah barongko. Makanan penutup ini dibuat dari pisang yang dihaluskan, telur, santan, gula pasir dan garam dan dibungkus daun pisang lalu dikukus. Mirip seperti karanggesing, makanan khas Jawa Tengah. 
73. Barongko
Source: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhk4k1uyjMJQ4X0ENIbfhfHGZ7y_zKlJg626Qz_2sxnu8St3VU9TmSs_2ST2cBc4tyepWFXU3qxHwrobhBTIALll3Ioa7FjnyxFsONX3VCF8pmT7XdZdMDjC_XSwZ7yF7eStjOgTNuvG04/s1600/barongko.jpg 

Next traditional food yang aku lahap adalah kapurung yang terbuat dari pati jagung dimasak dengan campuran ikan atau ayam dan berbagai sayuran. Dari sumber yang aku dapatkan, kapurung ini asalnya dari daerah Luwu dan dikenal juga dengan nama Pugallu. Nah kalau di Maluku sama Papua, kapurung ini mirip seperti papeda, makanan tradisional mereka. 


74. Kapurung
Kata orang Makassar, makan kapurung tidak lengkap tanpa lawa. Yup, lawa ini juga makanan khas dari Sulsel. Bisa dibilang lawa ini sashiminya orang Sulsel. Jadi, lawa ini terbuat dari ikan teri/ikan daging putih yang sudah dihilangkan duri, kotoran dan kepalanya lalu direndam air jeruk nipis/cuka (untuk membunuh bakteri yang ada pada ikan). Campurannya adalah kelapa parut sangrai dan bumbu-bumbu. Setelah kelapa parut sangrai dan bumbu matang, barulah ikan tadi dimasukkan ke dalamnya. Rasanya asin-gurih dan tidak terasa sama sekali rasa mentah/bau amis dari ikan tadi. 

75. Lawa Palopo


Ke Makassar tidak lengkap jika tidak makan pisang epe. Cemilan ini terbuat dari pisang kepok bakar yang disiram saus gula merah. Penjual makanan khas ini banyak ditemukan di sepanjang Pantai Losari dan depan benteng Fort Rotterdam, tapi ada juga yang berjualan di tempat-tempat lain di seputaran kota Makassar. Dulu, pisang epe hanya ada satu macam rasa saja, tapi sekarang sudah banyak variasinya macam rasa durian, coklat hingga keju.


76. Pisang Epe


Sup Konro dan Konro Bakar. Siapa sih yang tidak kenal dengan makanan asli Makassar ini? Hidangan dari daging iga sapi yang kaya rempah ini jadi hidangan andalan orang Sulsel selain coto makassar dan pisang epe. Sup Konro dan Konro bakar ini bahan dasarnya sama yaitu terbuat dari daging iga sapi. Perbedaanya adalah jika sup konro berkuah coklat dengan rasa rempah yang kuat sedangkan konro bakar dibakar mirip iga bakar berlapis bumbu setipe sup konro berbentuk sambal kecap. Keduanya biasa dimakan dengan burasa/ketupat atau nasi. Kali itu kami makan konro bakar di Konro Karebosi Jl. Gunung Lompobattang no 41, Makassar, Sulawesi Selatan, buka pukul 15.00-23.00 WITA. Asal tahu saja, nama Karebosi berasal dari nama lapangan/alun-alun tempat pertama kali makanan ini dijual. Saat itu tempat makan masih bebentuk warung kaki lima. Saat ini, Konro Karebosi sudah memiliki cabang hingga ke Jakarta.


77.Konro Bakar
Perjalanan kuliner di Makassar masih berlanjut dengan mencicipi bakso khas Makassar di Kios Bakso Ati Raja. Bedanya kedai bakso di Makassar dengan di tempat lain adalah jenis baksonya. di kios bakso Ati Raja ini ada tiga jenis bakso: bakso halus, kasar, dan bakso goreng. Bakso halus adalah bakso dengan daging halus namun rasa daging tetap dominan. Bakso kasar teksturnya lebih berserat dan kenyal, sedangkan bakso goreng bentuknya mirip tahu kepal. Bakso ini biasa dinikmati dengan burasa/ketupat dan sambal kuning dengan dicampur kecap dan perasan jeruk nipis. Aku dan Mb. A saat itu menyambangi kios yang ada di Jl. Gunung Merapi No. 170 (Jl. Gunung Nona), Makassar, Sulawesi Selatan. 

78. Bakso Ati Raja
Gorengan. Ya. Cemilan khas Indonesia ini ada dimana-mana, bahkan di daerah Dataran Tinggi Malino sekalipun. Menikmati bakwan dan sukun goreng hangat dengan sambal dari pati kanji dan irisan daun bawang di dekat air terjun Takapala itu asyik banget! Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?

79. Gorengan. Cemilan yang pasti ada di daerah manapun di Indonesia

Makanan tradisional terakhir yang aku cicipin sebelum pulang ke Depok adalah barobbo. Bubur jagung ini disebut juga arelle oleh orang Bugis dan orang Makassar menyebutnya biralle. Barobbo ini kami santap di Aroma Luwu, Jl.Sultan Alauddin No. 137G, Makassar.

80. Barobbo, bubur jagung khas Sulsel
Itu dia beberapa makanan khas Makassar yang sudah pernah aku coba. Sebenarnya masih ada banyak yang lain yang belum aku icip, but time is up. Saatnya menuju airport untuk kembali ke Jakarta :)

Kamis, 14 Mei 2015

Traveling to Makassar, April 2015

Mulai membuka laman blog yang udah bedebu karena lama ga disambangi. Banyak kisah traveling sama kulineran yang pengen di share banyak2 di sini, tapi apa daya waktu yang ga bisa banyak2 di share (ngomong kok dibolak-baik. Duh, aku mah gitu orangnya, ha3...). 
Seperti yang udah aku bilang tadi, banyak kisah traveling sama kulineran yang pengen di share. Salah satunya adalah traveling ke Makassar awal bulan April ini, tepatnya tanggal 9-13 April lalu. Ga nyangka sebenernya aku sama temen2 bisa nyampe kotanya Sultan Hassanudin itu. Bermula karena di kuliah kami ada matkul wajib yang ngeharusin mahasiswa/i nya buat maju oral/poster di konferensi internasional/nasional untuk syarat tesis. Makanya, kami (aku, teman sepeminatan dan beda peminatan) sibuk nyari2 info conference yang di dalam maupun luar negeri. Pas itu, conference yang feasible ada di Makassar (masih di negeri sendiri meski jauh dari ibukota), langsung aja aku sama mostly temen2 sekelas pergi ke sana. Bermula dari tugas kuliah berujung pada traveling dan kulineran, ahay! Mumpung ada event di tempat yang baru pertama kali kami datangi (kecuali satu temenku yang orang Makassar (Bantaeng) asli) pastilah kami pakai buat jalan2 sama icip2. Aji mumpung pokoknya, he3...

Perjalanan dimulai dari tanggal 9 April dari Depok ke Soetta lanjut ke Sultan Hassanudin International Airport Makassar. Aku berangkat sama 1 orang temenku karena temen2 yang lain udah pada berangkat duluan. 2 jam di udara terasa lama buat kami. Setelah sampai di bandara, aku sama temenku sholat maghrib dan bergegas berburu tulisan "Makassar" di tiap sudut bandara buat kami foto. Dan, apa yang kami dapet??? ga ada satu pun tulisan Makassar yang gede yang kami temuin di bandara kecuali tulsan kecil di wallpaper bergambar obyek2 wisata di Sulsel. Mau ga mau fotolah kita gantian di depan tulisan itu meski kurang puas juga sih sebenernya... Tapi kita udah berazzam buat nyari tulisan "Makassar" keesokan harinya buat foto2, hahaha... (tetep ya...)

Sultan Hasanuddin International Airport
68. Sultan Hasanuddin Int. Airport
(Sultan Hasanuddin Int. Airport)
Abis nunggu kedatangan 2 orang temen yang tiba 1 jam setelah kami di bandara, kami pun bergegas menuju hotel tempat kami semua menginap, Hotel Arbor Biz yang letaknya ga jauh dari bandara. Aku sekamar sama temenku, sebut saja N. O iya, kami cewek semua loh bersebelas ke Makassar. Karena peminatan kuliahku emang mayoritas cewek dan cowoknya cuma 1 trus dia ga ikutan. Kami ga mengalami kesulitan yang berarti selama disana karena ada "guide" orang asli sana yaitu temen kami juga, sebut saja Mb. A. 

Hari pertama: 10 April 2015
Abis sarapan pagi jam 8, kami naik mobil hotel dianter ke Unhas. sekitar 30 menit perjalanan kami lalui. Alhamdulillah ga pake macet. Sekilas tentang Unhas, ni kampus modelnya hampir mirip kayak UI ma UNS, banyak lahan yang ditanami pohon2 rindang dengan jalan yang naik turun dan belok2. Bedanya di sini pete2 (sebutan angkot di Makassar) bisa keluar-masuk karena ga ada bis kampus.

Karena aku sama sebagian besar temen dari sini maju hari sabtu, kami pengen liat present temen2 sama participant lain yang maju jumat ini. Si N mau maju hari itu so dia sibuk prepare presentnya. Pas dia lagi mau buka netbuk yang dia pinjem dari temenku si C, ternyata si netbuk ga mau nyala. Padahal data yang mau di presentasiin si C ada di situ semua. Alhasil si C bingung dan mau ga mau dia kudu benerin netbuk biar bisa present besok sabtu. Akhirnya aku nemenin si C nyari servisan netbuk di Makassar dianter sama supir hotel. Setelah tanya2 sama panitia & mahasiswa Unhas, akhirnya meluncurlah kami ke Makassar Trade Center (MTC), mallnya gadget Makassar. Aku sama C bergegas masuk ke salah satu tempat servis netbuk disitu dan tau ga gimana? Tu netbuk mau nyala pas dipegang sama tukang servisnya. Etdah... Si C seneng campur heran. Akhirnya kami balik ke mobil dan minta si supir nganterin kami ke Pantai Losari dan sekitarnya.

Sampai juga kami di Pantai Losari. Ikon kota Makassar ini letaknya di Jl. Penghibur sekitar 45 menit kalau dari bandara. Seberang pantai udah banyak fasilitas penyokong pariwisata macam hotel, tempat makan mulai harga kaki lima sampai bintang lima dan pusat2 perbelanjaan. Nah, pas liat pantainya, aku kira ini pantai buatan tapi ternyata pantai beneran soalnya cuma kayak bendungan gitu dan ga ada ombaknya, he3... maap2, biasa liat ombak pantai selatan yang ganas dan sering nelen korban soalnya. Akhirnya kami nemuin tulisan "Makassar" dan tulisan nama2 suku2 di Sulsel disitu. So pasti foto2 jadi hal wajib yang dilakuin di situ.  

Losari Beach
 69. Pantai Losari
(Losari Beach)

Losari Beach
70. Tulisan "Makassar" di Bibir Pantai Losari
(Word "Makassar" in front of Losari Beach)

Makin sore makin rame soalnya banyak pelancong yang ngejar sunset di sini. Selain pantai, ada juga masjid apung Amirul Mukminin yang atraktif. Aku sama C sholat disitu sebelum lanjut walked along on Losari Beach. Aku juga liat banyak penjual makanan khas Makassar disitu. Mostly seen were pisang epe.  


Amirul Mukminin Mosque
71. Masjid Amirul Mukminin
(Amirul Mukminin Mosque)
Source: http://images.detik.com/content/2013/05/08/1383/184707_img_2684.jpg

Puas foto2 kami lanjut ke Fort Rotterdam. Benteng ini masih satu jalur sama Pantai Losari. Dari Losari ke Rotterdam atau sebaliknya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Laut keliatan jelas dari seberang benteng ini. Kami ga masuk ke benteng dan cuma foto2 di depan tulisan "Fort Rotterdam" aja. Sedikit tentang Fort Rotterdam, benteng ini dibangun pada tahun 1545 sama Raja Gowa kallonna-9 bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumapa'risi '. Benteng dengan nama awal Benteng Ujung Pandang ini awalnya dari tanah liat, tapi pas pemerintahan Raja Gowa-14 Sultan Alauddin konstruksi benteng berubah jadi batu dari pegunungan karst di Maros. Benteng ini bentuknya kayak kura-kura yang mau merangkak turun ke laut. Bentuknya sangat jelas ngegambarin filosofi Kerajaan Gowa, bahwa penyu dapat hidup di darat dan di laut. Begitu pun dengan Kerajaan Gowa yang menang di darat dan di laut. Ketika Belanda menguasai wilayah kerajaan Gowa-Tallo, akhirnya kerajaan menandatangani perjanjian Bungayya dengan salah satu perjanjiannya berisi Benteng Ujung Pandang harus diserahkan ke Belanda. Ketika Belanda menduduki benteng ini, nama benteng diubah jadi Fort Rotterdam. Cornelis Speelman sengaja milih nama Fort Rotterdam untuk mengenang tanah airnya di Belanda. Benteng ini dipake Belanda buat pusat penyimpanan rempah-rempah di Indonesia Timur. Abis Perang Jawa (1825-1830), pangeran Jawa yang sekarang jadi pahlawan nasional, Pangeran Diponegoro diasingkan dan dipenjara di benteng ini tahun 1830 sampai wafatnya tahun 1855. Benteng ini juga pernah dipake buat tempat tawanan Jepang semasa Perang  Dunia II. O iya, Laut keliatan jelas kalau seseorang duduk di atas atap benteng ini.

 Fort Rotterdam
72.1. Bagian depan Fort Rotterdam
(1. Forepart of Fort Rotterdam)
     Source: my friends pic :D
2. Bagian dalam Fort Rotterdam  
(2. Fort Rotterdam on the inside)
    Source: http://assets.kompas.com/data/photo/2011/04/07/1928508620X310.jpg

Kami berdua nunggu teman2 yang masi di Unhas di depan Rotterdam. Setelah ketemu, kami nyobain makan makanan tradisional dari Makassar dan sekitarnya. Apa aja yang kami cobain di sana, aku posting di tulisan selanjutnya. 

(English)
Hello world, what's goin' on?! I start to open this blog again. So many travel and culinary stories which i want to share here, but i think i didn't have much time weeks ago. When I could out for a moment from the routine, I'll start to write again.

As I've said before, many stories bout traveling and culinary which I want to share. One of them were traveling to Makassar on early April, (April 9 to 13). Me and my friends actually didn't have thought went to The Sultan Hassanudin City. It started because of the coursework that requires the college students must attend oral or poster presentation in international/national conference so we can grab the requirement for thesis. And this is a new requirement in my contemporaries. As a result we (me, my dept and other dept friends) were busy searched the conference information which held both inside/outside the country. At that time, the feasible conference would be held in Makassar, so most of my classmates and some of other dept friends went there immediately. Everything was started from coursework and ended with traveling and culinary. While there was a new event in the first place where we went (except one my friend who came from Makassar (Bantaeng)), so we made an agenda for traveling and culinary, he3...

The journey was started at April 9 from Depok-Soetta and ended at Sultan Hassanudin International Airport Makassar. I went with C, one of my classmate because some friends had went first. 2 hours in the air seemed too long for me. After landing, we prayed magrib and "hunted" word "Makassar" in every place of the airport for photo but no one "Makassar" which we saw except a tiny in wallpaper about destinations in South Sulawesi. Whether we want it or not, we decided to took photos in front of it although we were less satisfied. But we had a great intention to searched "Makassar" next day for photos, hahaha... We stayed in Arbor Biz Hotel near the airport. My roomate was N who had arrived first. FYI, we were 11 girls from one dept who stayed there. 11 travel girls who ready to presentated in conference and explored Makassar :)

Day 1: April 10, 2015
We drove from the hotel to Unhas after breakfast. Finally we arrived at Unhas about 30 minutes on our way through without jammed, Alhamdulillah. Overview bout Unhas, this campus model is almost similar like UI and UNS, many land planted with shady trees, the road were up and down and serpentine. The difference among the campus were pete2 (public transportation in Makassar, in Jakarta we called it angkot) could entered campus because there is no campus bus

Most of my friends presented in Saturday. We who presented in Saturday want to saw other participant who scheduled on Friday. N also would presented today so she busy to prepared her task. She borrowed C's netbook to opened her presenation file. When she opened C's netbook, it was turned out and couldn't on. They were confused and C must serviced her netbook soon in order she could studied and presented in Saturday. Finaly, I accompany C to searched the netbook service center in Makassar ushered by hotel driver. We went to MTC, gadget mall in Makassar. We entered one of the service center there and you now what??? The netbook was on when the technician turn the power on automatically! OMG... C happy but mingled wonder with that case. We back to the car and asked the driver to accompanied us to Losari Beach and surroundings.

We arrived at Losari Beach. This Makassar icon was located on Penghibur St about 45 minutes from the airport. Acrross the beach were so many facilities for traveler like hotels, restaurants and food stalls, and shopping centers. When I saw the beach, I supposed that was a artificial beach or reclamation because of the line just like a dam and no waves but it turns out a real beach, he3... Sorry, I usually see beach in Indian Ocean (or Pantai Selatan) which has ferocious waves and often casualties. We found "Makassar" and another words about tribes name in South Sulawesi there so of course we took photos in front of them.

Besides beach, there was an attractive Amirul Mukminin floating mosque. Me and C pray there before walked along on Losari Beach. I also saw many street food vendors who sold typical food Makassar. Mostly seen were pisang epe.

The visitors in this beach increased on late afternoon. They usually want to enjoyed the sunset there. After satisfied took photos there, we moved to Fort Rotterdam. The fort was built in 1545 by the King of Gowa-9 named I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tumpa'risi 'kallonna. The castle was originally made from clay, but in the reign of King of Gowa-14 Sultan Alauddin construction of this fort changed into rocks were sourced from the Karst Mountains in the Maros region. Ujung Pandang fortress is shaped like a turtle that was about to crawl down into the ocean. The shape is very clear in terms of the philosophy of the Kingdom of Gowa, that turtles can live on land and at sea. So even with the Kingdom of Gowa who were victorious on land and at sea. Gowa-Tallo Bungayya finally signed an agreement that one of the articles require Gowa to submit this to the Dutch fort. When the Dutch occupied this fort, Fort Ujung Pandang name was changed to Fort Rotterdam. Cornelis Speelman deliberately chose the name Fort Rotterdam in memory of his homeland in the Netherlands. This fort was later used by the Dutch as the central storage of spices in eastern Indonesia. Following the Java War (1825–1830), Javanese prince, and now national hero, Diponegoro was imprisoned in the fort following his exile to Makassar in 1830 until his death in 1855. It was also used as a Japanese prisoner of war camp in World War II. This fort was very near from Losari Beach. People can go there from Losari Beach or otherwise by foot. The sea appeared if someone sit on the roof of this fort. We don't entered the fort and just took pictures in front of the "Fort Rotterdam" word. 

We both waited our friends who still in Unhas in front of Rotterdam. After we met, we tried to ate traditional food from Makassar and surroundings. What kinds of foods we are eat there will be written in the next post.

Postingan Populer

Sesame Street Elmo 2