Translate This Article

Tampilkan postingan dengan label Madinah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Madinah. Tampilkan semua postingan

Kamis, 03 November 2016

Traveling is A Process

Belakangan ini semakin banyak orang yang melakukan traveling. Berbagai postingan di media sosial apalagi jika musim liburan tiba banyak diisi oleh aktifitas orang-orang yang tengah menikmati waktunya di suatu tempat dengan orang-orang terdekat. Traveling kini tidak hanya menjadi sebuah gaya hidup namun sudah menjadi kebutuhan terutama pada masyarakat yang tinggal di kota besar. Rutinitas hidup yang melelahkan membuat orang-orang perlu melakukan penyegaran, salah satunya dengan traveling.  

Bagi banyak orang, traveling merupakan sesuatu hal yang menyenangkan. Jalan-jalan ke tempat liburan, foto-foto, menikmati berbagai fasilitas yang tersedia, mencicipi kuliner asal, dan menginap di tempat yang nyaman. Ada pula yang berusaha mencari tiket transportasi dan akomodasi termurah demi menghemat biaya perjalanan. Lalu sebenarnya apa sih yang dimaksud dengan traveling? Dan apa tujuan orang-orang melakukannya?

Ditilik dari sejarahnya, sebenarnya kata "travel" bermakna sangat jauh dengan "travel" di zaman sekarang. Kata "travel" diperkirakan berasal dari Bahasa Perancis lama "travailler" yaitu bekerja keras penuh penderitaan. Selain itu menurut kamus Merriam-Webster, di Inggris abad pertengahan, kata "travelen" juga memiliki arti yang mirip. Seiring waktu bergulir kemudian selepas abad ke-14 kata "travel" digunakan untuk mendeskripsikan sebuah perjalanan dari suatu tempat ke tempat lain dengan berjalan kaki maupun dengan kendaraan. 

Menurut saya, istilah perjalanan pada zaman dulu sudah mengalami penyempitan makna. Orang-orang terdahulu melakukan perjalanan untuk tujuan sederhana seperti berburu untuk mencari makanan, membuka lahan baru, atau tujuan yang memiliki maksud khusus seperti pergi beribadah atau bahkan memperluas wilayah kekuasaan suatu kerajaan atau negara tertentu. Tujuan traveling kebanyakan orang saat ini adalah murni pariwisata, meskipun ada juga yang memiliki tujuan sama dengan tujuan orang-orang melakukan perjalanan di masa lalu.

Sekarang ini banyak orang-orang melakukan traveling dengan berbagai cara dan gaya. Ada yang memakai gaya backpacker yaitu traveling dengan budget minim. Ada pula yang lebih memilih traveling ala koper, dimana orang-orang lebih mementingkan kenyamanan meskipun harus merogoh kocek lebih dalam. Btw, saya tiba-tiba tergugah untuk menulis tentang hal ini karena ada beberapa hal yang menarik untuk saya utarakan. Pertama, beberapa atau bahkan mungkin banyak orang merasa bahwa dirinya adalah seorang traveler sejati. Kedua, banyak orang yang saling mencibir gaya traveling ala koper maupun ala ransel. Ketiga, tujuan orang-orang dalam berlibur: dalam maupun luar negeri. Di postingan kali ini saya akan membahas poin pertama.

Statement seseorang yang menisbatkan dirinya sebagai seorang traveler sejati akhir-akhir ini lebih sering saya lihat. Misalnya di medsos, banyak yang mengunggah meme yang menunjukkan bahwa dirinya adalah seorang traveler. Ada pula yang menggunakan kaos bertuliskan sebuah program bertema traveling di sebuah stasiun televisi yang rutin ditayangkan tiap akhir pekan. Traveling quote seperti "I'm A Traveler", "trust me I'm A traveler", dan sejenisnya banyak beredar dimana-mana. Memang, aktifitas traveling, ngetrip, ngebolang dan sebagainya sedang tren terutama di kalangan kawula muda. Banyak yang melihat tayangan-tayangan bertema traveling, melihat foto-foto hasil perjalanan orang-orang yang berlibur di tempat wisata tertentu maupun membaca buku atau artikel bertema traveling. Efeknya adalah tak sedikit di antara kita yang "terinfeksi virus" traveling lalu bersemangat untuk ikut menjelajah. Entah niatnya hanya sekedar ikut-ikutan tren atau memang murni ingin traveling. Terlepas dari dua hal itu, traveling bagi saya punya makna yang mendalam.


81. Pantai Samalona, Sulawesi Selatan
Samalona Beach, South Sulawesi

Bagi saya, traveling harus bisa menghasilkan sesuatu yang lebih. Saya sepakat dengan tulisan yang saya kutip dari Hanum Salsabila:  

"Hakikat sebuah perjalanan bukanlah sekedar menikmati keindahan dari satu tempat ke tempat lain. Bukan sekedar mengagumi dan menemukan tempat-tempat unik di suatu daerah dengan biaya semurah-murahnya. Makna perjalanan harus lebih besar daripada itu. Bagaimana perjalanan tersebut harus bisa membawa pelakunya naik ke derajat lebih tinggi, memperluas wawasan sekaligus memperdalam keimanan sebagaimana yang dicontohkan oleh perjalanan hijrah Nabi Muhammad saw dari Makkah ke Madinah".

Dari beberapa perjalanan yang pernah saya lakukan, saya bersyukur mendapat banyak hal-hal baru baik secara lahir maupun batin. Secara lahir tentunya saya dapat membeli buah tangan khas dari tempat yang saya datangi. Sedangkan secara batin mungkin bisa saya contohkan seperti ini: Ketika saya tengah menjalankan ibadah umrah, selain saya bisa merasakan suasana beribadah langsung di Tanah Suci, saya juga dapat melihat berbagai macam bentuk dan karakter jamaah lain dari berbagai negara di dunia. Di sana saya belajar bagaimana berinteraksi dengan orang baru, mengenal ciri mereka dan kebiasaan mereka. Dan yang terpenting dari itu adalah saya punya pengalaman yang tidak bisa tergantikan dengan uang atau harta. Bagi saya, pengalaman yang diperoleh dari traveling adalah suatu hal yang sangat berharga dan mungkin sulit atau bahkan tidak bisa didapat ketika kita hanya berdiam diri saja di rumah, kampus atau tempat kerja. Adapun pengalaman yang lain adalah ketika saya tengah berada di KL, saya dijamu dengan ramah oleh seorang  teman lama yang saya anggap seperti guru saya sendiri karena beliau sangat ramah dan dengan ikhlas mengantarkan saya berkeliling KL. Tidak hanya itu, beliau juga berperan seperti seorang tour guide yang menjelaskan banyak hal tentang KL, hal-hal yang boleh maupun yang tidak boleh dilakukan, hingga  isu-isu politik yang tengah hangat di sana maupun yang terjadi antara Indonesia-Malaysia. Seperti anak sendiri, beliau banyak memberi wejangan kepada saya tentang banyak hal dalam hidup. Cerita tentang ini akan saya posting belakangan.

Saya selalu yakin saya akan memperoleh pengalaman baru dimanapun dan kapanpun itu, meskipun dari pengalaman itu kita tidak selalu mendapatkan hal yang manis. Pengalaman baik maupun buruk dalam suatu perjalanan adalah hal dapat membijaksanakan kita jika kita menyikapinya secara positif. Dari sedikit perjalanan yang pernah saya tempuh (saya sebut begitu karena masih banyak tempat yang belum saya datangi), pengalaman terburuk (baca: terbaik) yang saya dapatkan dari traveling sampai saat ini adalah ketika saya "terdampar" di Thailand sebelum sampai ke Tanah Suci (silakan baca postingan Get Stranded in Bangkok: Pisah sama Ayah, Get Stranded in Bangkok (2): @Suvarnabhumi-Hotel, dan Get Stranded in Bangkok (3): Pending Lagi Deh)

Saya sering mendengar kalimat yang menyebutkan bahwa perjalanan itu adalah sebuah proses, bukan perhentian akhir. Ya, saya sepakat akan kalimat ini. Perjalanan adalah proses yang harusnya menjadikan kehidupan kita lebih berwarna, lebih bermakna dan tentunya menjadikan kita lebih bijak dari sebelumnya. Semakin sering kita melakukan perjalanan, semakin banyak belajarlah kita, sementara belajar harus dilakukan secara kontinyu dan tanpa akhir. Jadi menurut saya, kata traveler sejati itu sangat berat maknanya. Hal-hal positif yang didapat dari pembelajaran  selama traveling dapat diterapkan pada kehidupan sehari-hari, karena kehidupan itu sendiri adalah sebuah perjalanan menuju kehidupan berikutnya.

Minggu, 06 Juli 2014

Pengalaman Unik di Corniche


Ga terasa udah 1 taun dari Tanah Suci. Waktu itu cepet banget jalannya. Aku inget kami pulang dari sana akhir bulan Sya’ban atau awal Juli dalam hitungan masehi saat itu. Perjalanan jarak jauh Madinah-Jeddah akhirnya terlewati. Saat itu hari sudah masuk malam. Sebelum menuju King Abdul Aziz International Airport, kami menuju sebuah kawasan perbelanjaan di daerah Corniche. Namanya diambil dari istilah Perancis yang artinya jalan pantai karena emang ada di pinggir Laut Merah (ingat postingan sebelumnya kalau Jeddah ada di pinggir Laut Merah). Kawasan ini rame banget apalagi di malam hari karena selain jadi kawasan perbelanjaan juga banyak ditemui hotel sama rumah makan dan lagi saat itu terus dibangun tempat2 sejenis. Banyak banget orang2 yang meluangkan waktunya buat makan, belanja, atau sekadar jalan2. Di pinggir jalan berjajar toko2 sovenir khas Timur Tengah. Memang, kawasan ini biasa dikunjungi para jamaah haji/umrah untuk membeli berbagai macam buah tangan buat dibawa pulang untuk famili dan teman2 mereka di tanah air.

Ada sebuah toko yang cukup ramai karena katanya itu toko ngejual barang2 khas Timur Tengah dengan harga miring daripada toko2 lainnya. Rombongan kamipun masuk. Ternyata para pegawai di toko itu kebanyakan dari Indonesia, pun toko2 sebelahnya. Di toko yang aku sambangi itu ternyata kepunyaan orang Indonesia yang nikah sama warga negara Bangladesh dan menetap disana. Makanya 95% pegawainya berasal dari Indonesia.

Nah, mau tau pengalaman unik yang aku alami? Oke. Jadi ceritanya bermula pas aku masuk salah 1 toko sovenir haji/umrah dan aku tertarik liat barang2 yang dijual disana. Pas itu ada salah 1 pegawai yang nyamperin aku. Dengan ramah dia nyapa dan nawarin barang2 disitu. Aku kira dia orang Arab asli yang fasih banget berbahasa Indonesia. Sambil liat2 barang2 yang dijual disana dia sempat bertanya darimana kami berasal. Aku yang merasa ditanya saat itupun menjawab kalau kami dari Solo. Abis denger jawabanku, pegawai toko tadi spontan langsung menjawab bahwa dia juga dari Solo yang udah lama kerja di Jeddah. Yaaa... sekitar 5 menit lah dari rumahku. Jadi ceritanya aku ketipu karena ngeliat ciri fisiknya yang memang dia orang keturunan Arab, tapi ternyata dia orang Solo keturunan Arab, bukan orang berkewarganegaraan sana, hehe. Nah, karena sama2 orang Solo, nyambunglah kita. Dan tambah nyambung ketika si mas pegawai tadi bertanya dimana dulu aku sekolah. Aku jawab aku pernah sekolah di SMA Al-Islam 1 Surakarta (alumni yang baik sekalian promosi sekolahnya di blog yaa :D). Dan ternyata kami berasal dari sekolah yang sama! Ga sampe disitu, mas pegawai yang lulus SMA di taun 99 itu ternyata masi inget nama guru2 kami. Dia dengan lancar nyebutin satu2 guru2 SMA kami. Kalau ada pemilihan alumni teladan mungkin masnya ini bisa jadi kandidat kuat deh. Jadi kami malah kayak nostalgia zaman2 SMA dulu. Cerita2 waktu kami masih SMA dulu. Tentunya di masa sekolah kami masing2. aku berasa ketemu keluarga sendiri di Jeddah. MasyaAllah... dunia jadi berasa sempit kalau kayak gini.

Waktu kami berkeliling pun abis. Kami pun menuju bus untuk menuju ke airport dengan barang belanjaan masing2. Sekali lagi, rasanya berat ninggalin Tanah Suci meski kami udah ada di Jeddah. Buatku, pengalaman umrah ini adalah pengalaman yang terunik yang pernah aku alami dalam hidup. Mulai dari perjalanan yang penuh kejutan, ibadah umrahnya yang penuh kejutan, sampe kejutan ketemu kakak (tepatnya sesepuh) kelas ini. Dan kejutan2 ini bukan kebetulan. Karena buatku ga ada yang namanya kebetulan. Semua hal udah Allah rancang. Allah udah merencanakannya buatku, keluargaku, rombongan umrah kami dan buat orang2 yang berhubungan dengan kami semuanya. Begitupun waktu kami pulang nanti. Semuanya saling terkait.
Perjalanan yang jauh terlewati dan sampailah kami di King abdul Aziz International Airport, bandara khusus jamaah haji/umrah. Sekali lagi aku sebenernya enggan gerakin badan, jalan dan turun dari bis. Apalagi sebelumnya muthawif kami udah pamitan duluan. Tapi emang udah saatnya aku balik. Ransel udah digendong, dan siap2 turun. Aku selalu berharap suatu saat nanti aku akan kembali ke Tanah Suci. Bukan Cuma untuk umrah, tapi juga haji, amien...

Rabu, 04 Juni 2014

Menyambangi Lagi "Nenek Moyang" Sebelum Pulang

Perjalanan menuju Jeddah dari Madinah ditempuh selama 457 km dalam waktu 5-6 jam. Aku, masih aja ngrasa ga mau ninggalin Madinah. Pas angkat ransel dan masuk ke bis pun rasanya ga semangat. Aku ngerasa hatiku terpaut disana. Bahkan aku masi belum percaya kalau hari ini aku harus cuss menuju Jeddah dan balik ke Bangkok. Mungkin banyak atau bahkan pada ga tau kalau aku sampe nangis pas bus mulai jalan pelan ninggalin hotel. Untuk kesekian kalinya aku berdoa semoga aku bisa kembali ke Tanah Suci lagi. Aku bener2 kangen kesana lagi :’)

Perjalanan yang kami lalui memang lumayan jauh. Tapi ini ga seberapa kalau dibandingin sama haji/umrahnya orang2 zaman dulu. Kalau zaman sekarang orang2 bisa dengan mudahnya ke Tanah suci pake pesawat, di zaman kakek buyutnya ayah ga kayak gini. Aku inget cerita ayah waktu kakek buyutnya ayah (ya aku juga termasuk cucunya :D) pergi haji. Beliau jauh2 bulan bahkan mungkin setaun sebelumnya udah persiapan. Ga Cuma dari segi finansial aja tapi juga bekal bahan makanan, obat2an dan sebagainya. Karena zaman itu belum ada pesawat makanya para jamaah haji naik kapal kesana. Transit di ujung Aceh baru lanjutin perjalanan ke Tanah Suci. Itulah sebabnya Aceh kondang namanya sebagai serambi Makkah. Nah, kalau zaman sekarang kita naik pesawat dari Jakarta ke Jeddah kira2 8 jam aja, orang2 zaman dulu naik kapal berbulan2. Kata kakek beliau menempuh perjalanan kira2 3 bulan. Bener2 perjuangan yang hebat menuju Tanah Suci memenuhi panggilanNya sekaligus menengok kampung halaman.

Oke, sebelum cerita perjalanan menuju Jeddah, aku mau cerita soal sejarah kota ini dulu.  Kota yang punya sebutan The Bride of Red Sea (ratu Laut Merah) ini ada di barat Arab Saudi dengan luas +/- 1200 km2 dan garis pantainya sepanjang 80 km2. Sebenernya, Jeddah udah diakui keberadaannya sejak kurang lebih 2500an taun lalu pas masi jadi desa kecil dengan penduduknya yang bermata pencaharian sebagai nelayan. Karena lokasinya yang strategis makanya desa itu berkembang dan berubah jadi pusat perdagangan antara negara2 Mediterania dan negara2 timur. Nah, taun 647 M Khalifah Utsman bin Affan menyatakan Jeddah sebagai pintu masuk resmi ke Makkah. Jeddah makin berkembang jadi pusat dagang dan menarik Portugis yang udah siap buat nyerbu Jeddah taun 1516. Tapi Jeddah yang saat itu dikuasai Kesultanan Ottoman ga nyerah. Raja lalu ngebangun benteng ngelilingin Jeddah dengan 4 pintu. Meski dibalik benteng besar tapi Jeddah terus berkembang cepet dan ga nerima perwakilan negara2 Eropa.  Baru di tahun 1825 masih di bawah kuasa Turki Ottoman barulah Jeddah nerima perwakilan dari Eropa yaitu Prancis dan Inggris. Maka saat itu Jeddah disebut Bilad al Kanasil (The City of Consulates). Sekarang dikenal juga dengan sebutan al-Balad atau Balad (negeri) yang identik sama kawasan Old Jeddah yang juga sering diidentikkan sebagai pusat belanja disana. Setelah Kesultanan Turki Ottoman runtuh di tahun 1915, benteng yang ngelilingin Jeddah pun runtuh. So sad...

O iya, Jeddah berasal dari kata jaddah (nenek moyang, baca: makam nenek moyang). Bisa juga berarti tepi pantai/sungai diantara 2 gunung. Namun kini lebih diartikan sebagai nenek moyang. Kenapa? Karena disini menurut ulama dan arkeolog disinilah Hawa hidup abis dipisahin Allah sama Adam dari surga. Dan di Jeddah inilah Hawa wafat dan dimakamkan. Nah, di banyak cerita katanya makam Hawa tingginya sampe 145 m. Konon, beliau bertubuh tinggi. Bahkan tempat terdalem di Laut Merah Cuma selututnya doang, MasyaAllah... Makam Hawa dulu ditandai dengan tugu. Tapi karena banyak orang yang berlaku syirik disitu makanya pemerintah Arab Saudi ngrobohin tugu tadi. Dan kini yang keliatan Cuma tanah lapang kosong yang dikelilingi pagar tembok.

Jeddah selain sebagai pusat perdagangan tapi juga sebagai gerbang utama ke Makkah dan Madinah baik via Jeddah Islamic Port yang dikenal sebagai pelabuhan tertua atau King Abdul Aziz Int. Airport yang diresmiin taun 1981 sama Raja Khalid. Jeddah juga jadi terminal akhir kepulangan jamaah haji/umrah (Madinatul Hujaj).
Itu dia sekilas tentang Jeddah. Aku ada cerita seru yang mau dibagiin. Apa itu? Tunggu di postingan selanjutnya :D

Sabtu, 31 Mei 2014

Madinah Selalu Bikin Kangen

Rasanya kayak ga mau ninggalin kota ini. Emang si kata orang2 yang udah pernah kesini bilang pasti pengin balik lagi, baik Makkah maupun Madinah. Karena aku ada di Madinah saat itu, aku ngerasa kayak ga mau keluar dari kota itu. Aku selalu berdoa biar aku bisa balik lagi kesana.Robb... I miss Holly Land :’)

Di Madinah selain Masjid Nabawi, Masjid Quba dan kebun sama pasar kurma para jamaah juga bisa liat Jannatul Baqi (makam Baqi) yang disitu dimakamkan Fatimah putri Rasulullah dan istri2 Rasulullah selain ada juga pemakaman umum disitu. Ada Masjid Qiblatain atau masjid dua kiblat. Dinamain gitu karena ni masjid punya 2 mihrab. Jadi dulu Allah memerintahkan ngubah arah kiblat yang awalnya dari Baitul Maqdis di Jerusalem jadi ngadep ke Masjidil Haram di Makkah melalui Jibril  buat nyampein ke Rasulullah. Pas Rasulullah SAW lagi sholat asar (riwayat lain lagi sholat dhuhur) berjamaah turun wahyu ini. Segera Rasulullah berhenti sholat trus memutar 180 derajat ngadep ke arah Masjidil Haram bareng2 sama jamaahnya. Nah, dulunya ni masjid namanya Masjid Bani Salamah. Ada juga rumah Ali bin abi Thalib yang letaknya dibelakang Masjid Quba, Masjid Fadikh yang letaknya di timur Masjid Quba. Namanya diambil dari pohon palem yang pernah tumbuh disitu. Selain itu juga ada Sab’a Masajid (tempat 7 masjid) yang katanya tinggal 5: Masjid Ali, Masjid Fatima, Masjid Fath, Masjid Salman al-Farisi, dan Masjid Umar. Masjid Fath letaknya di puncak gunung. Nama Fath (kemenangan) diambil dari kemenangan muslim dalam perang Khandaq. Saat itu Rasulullah SAW berdoa buat kemenangan muslim di lokasi ini.
Sebelum ninggalin Madinah aku sempetin buat ambil beberapa gambar. Ini aku ambil pas otw menuju hotel abis city tour.

 39. Bukit batu pinggir jalan menuju Madinah

40. Pemukiman penduduk dengan pegunungan terbentang dibelakangnya dan padang pasir didepannya


41. Salah satu sudut Kota Madinah

Pas nulis ini aku inget, mulai dari masukin barang ke hotel, menuju Masjid Nabawi, sholat sama doa di Raudhah, jalan2 keliling kota, trus beli oleh2. O iya sebelum barang2 di pack sama ayah, aku sempet beli beberapa buah tangan buat sodara sodari sama temen2 di Indonesia. Sebelumnya aku udah buat list nih sapa aja yang bakalan aku kasi. Mulai dari temen sd, smp, sma, kuliah, karate, temen kerja sampe kenalan2 aku, he3... Tinggal turun dari kamar hotel trus puter2 di lantai dasar hotel. Banyak banget yang jual oleh2 haji/umroh. Hampir semua malah. Dan kebanyakan penjualnya bisa bahasa Indonesia. Abis berburu buah tangan aku yang pas itu beli sama ibu langsung naik ke kamar buat bantu packing barang2 karena siang nanti kami akan ninggalin Madinah menuju King Abdul Aziz Airport di Jeddah abis masukin bawaan di ransel.

Postingan Populer

Sesame Street Elmo 2